5 Gardu Induk Belum Beroperasi, Listrik Donggala dan Kota Palu Masih Padam

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 29 Sep 2018, 13:46 WIB
Diperbarui 01 Okt 2018, 13:13 WIB
Gempa dan Tsunami Melanda Palu
Liputan6.com, Jakarta PT PLN (Persero) berhasil mengoperasikan dua Gardu Induk (GI), pasca gempa  yang berpusat di Donggala Sulawesi Tengah. Hingga saat ini masih ada 5 gardu induk yang belum beroperasi.
 
General Manager PLN Sulawesi Utara Tengah dan Gorontalo,Edison Sipahutar mengatakan, gardu induk yang berhasil dioperasikan yaitu GI Pamona dan GI Poso yang menyuplai pelanggan daerah Tentena, Poso, Kota Poso, dan Bandara Kasiguncu. 
 
"Kami berusaha semaksimal mungkin agar warga Donggala kembali menikmati akses listrik," kata Edison, di Jakarta, Sabtu (29/9/2018).
 
 
Masih ada lima gardu induk yang masih padam namun sudah berhasil di inventaris. Kelimanya yaitu GI Parigi, Sidera, Gi Silae, GI Talise dan GI Pasangkayu.  Perkiraan pasokan listrik yang padam sebesar 105 Mega Watt (MW).
 
Gardu Induk tersebut melayani pelanggan di daerah Parigi, Kota Palu, Donggala hingga Pasangkayu.
 
"Tim PLN Area Palu sudah memulai inventarisir kerusakan aset-aset PLN, sehingga material-material yang dibutuhkan dapat segera dikirim dari unit-unit PLN seperti Gorontalo, Tolitoli, Poso serta Luwuk siang ini," tutur Edison.
 
Menurut dia, hambatan yang terjadi di lapangan adalah akses komunikasi dan jalan masih terputus. Serta banyak kondisi infrastruktur kelistrikan yang tidak pada tempatnya atau mengalami pergeseran. 
 
"PLN juga akan segera menyiapkan rencana antisipasif, bila gardu induk tersebut tidak bisa digunakan," ujarnya.
‎Sejak kejadian gempa PLN langsung melakukan gerak cepat ke lokasi bencana untuk menginventisir kerusakan yg terjadi.
 
Selain itu melalui CSR PLN Peduli, tim juga membawa material distribusi serta bantuan PLN peduli yang nantinya akan dibagikan kepada korban bencana alam gempa bumi di Sulawesi Tengah.
2 of 2

Pelabuhan di Kota Palu Rusak Parah Akibat Gempa

Gempa dan Tsunami Melanda Palu
Warga mengevakuasi kantong jenazah berisi jasad korban tsunami di Palu, Sulawesi Tengah , Sabtu (29/9). Gelombang tsunami setinggi 1,5 meter yang menerjang Palu terjadi setelah gempa bumi mengguncang Palu dan Donggala. (AP Photo)

Sejumlah fasilitas sarana dan prasana pelabuhan di wilayah Sulawesi Tengah mengalami kerusakan akibat gempa magnitudo 7,4 yang mengguncang wilayah tersebut, pada Jumat (28/9/2018).‎

Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan R Agus H. Purnomo mengatakan, Pelabuhan Pantoloan yang berada di kota Palu mengalami kerusakan yang paling parah, dibandingkan pelabuhan lainnya yang ditandai dengan rubuhnya Quay Crane di Pelabuhan Pantoloan.

"Laporan sementara, Quay Crane di Pelabuhan Pantoloan rubuh dan dengan kondisi ini layanan kepelabuhanan dihentikan menunggu hasil pengecekan lebih lanjut di lapangan," kata Agus, di Jakarta, Sabtu (29/9/2018).

Sementara itu, laporan dari Pelabuhan Wani menyebutkan ada beberapa bangunan dan dermaga mengalami kerusakan. Sedangkan kapal KM Sabuk Nusantara 39 yang sedang bersandar di Pelabuhan Wani terlempar dan terbawa arus sejauh 70 meter dari dermaga, akibat gelombang tsunami yang menerjang wilayah tersebut kemarin.

Saat itu Kapal KM Sabuk Nusantara 39 dalam kondisi tidak ada penumpang. Total Anak Buah Kapal (ABK) ada 20 orang. Saat kejadian, ada 3 orang ABK yang sedang turun ke darat untuk bertemu keluarganya.

"Posisi kapal sendiri saat ini berada di sekitar 70 meter dari laut tepatnya di jalan menuju pelabuhan dan saat ini kapal menggunakan generator darurat untuk kelistrikannya," ujar Agus.

Kerusakan akibat gempa juga terjadi di Pelabuhan Ogoamas berupa adanya retak di Talaud dan terjadi pergeseran dermaga ke sisi kanan sepanjang 3 cm.

Selanjutnya, laporan yang masuk dari Pelabuhan Ampana, Pelabuhan Luwuk, Pelabuhan Belang-Belang dan Pelabuhan Majene kondisinya baik dan tidak ada kerusakan akibat gempa.

 

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by