Pembangunan Proyek PLTA Batang Toru Selesai 2022

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 28 Sep 2018, 19:21 WIB
Diperbarui 30 Sep 2018, 19:13 WIB
Media Briefing PLTA Batang Toru Proyek energi Terbarukan untuk Pengurangan Emisi Karbon. (Maulandy/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) menargetkan, proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru atau PLTA Batang Toru di Sumatera Utara dapat rampung pada 2022.

Senior Advisor NSHE, Agus Djoko Ismanto, menyampaikan pembangunan PLTA Batang Toru ini merupakan proyek lama yang telah dimulai sejak 10 tahun lalu.

"Ini inisiasinya sejak 10 tahun lalu, kira-kira 2008. Pada saat itu kita lakukan banyak survei untuk memastikan proyek ini layak dan bisa untuk jangka panjang. Soalnya ini investasi besar," terang dia di Graha Niaga, Jakarta, Jumat (28/9/2018).

PLTA Batang Toru berkapasitas total sebesar 510 Mega Watt (MW) yang dihasilkan dari empat turbin dengan tenaga 127,5 MW. Nilai investasi PLTA Batang Toru mencapai Rp 21 triliun.

Setelah itu, ia melanjutkan, pihaknya mulai mengadakan pembebasan lahan pada 2012 untuk membuka jalan menuju alirang sungai Batang Toru.

Dia menyebutkan, pemerintah daerah setempat juga turut membantu NHSE dalam proses pembebasan lahan. "Bupati di sana sangat punya perhatian kepada masyarakatnya. Beliau membentuk tim fasilitasi pembebasan lahan. Semua unsur pemerintahan ada, tokoh adat ada, tokoh masyarakat ada. Penentuan harganya pun sesuai kesepakatan," ujar dia.

NHSE menargetkan, proyek yang terikat kontrak dengan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) ini bisa selesai pada 31 Juli 2022. Untuk saat ini, masih dilakukan proses pra-kobstruksi dengan kemajuan sekitar 6,7 persen.

"Progres sampai saat ini 6,7 persen, progres pra-kobstruksi, harus dipersiapkan semua fasilitas sebelum itu dimulai. Konstruksi bisa dimulai setelah menyampaikan desain kepada balai bendungan. Kalau desain itu diterima, kita akan dapatkan sertifikat uji layak bangun dan pembangunan," kata dia.

"Sesuai schedule, desain pembangunan akan diberikan Desember tahun ini, sehingga kontruksi bisa dimulai antara Januari atau Februari 2019," Agus menambahkan.

 

2 dari 2 halaman

Ada PLTA Terbesar di Sumut, RI Hemat Rp 5 Triliun

20170406- PLTA Jatigede- Jawa Barat- Immanuel Antonius
Suasana Waduk Jatigede yang digunakan untuk proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Sumedang, Jawa Barat, Kamis (6/4/2017). Diperkirakan PLTA ini sudah dapat beroperasi pada 2019. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Sebelumnya, PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) memastikan proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru tetap berlanjut meski mendapat penolakan dari penggiat lingkungan. PLTA swasta terbesar di Sumatera Utara (Sumut) ini ditargetkan selesai pada 2022.

Senior Advisor Bidang Lingkungan NSHE Agus Djoko Ismanto mengungkapkan, PLTA berkapasitas 4×127,5 Mega Watt (MW) ini berlokasi di Sungai Batang Toru, Desa Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumut.

Area konstruksi PLTA Batang Toru terletak di Kecamatan Marancar, Sipirok, dan Batang Toru. Lahan yang digunakan sebagai lokasi dari PLTA Batang Toru berada pada lahan dengan status Areal Pengunaan Lain (APL).

"Area yang kami mau bangun PLTA didominasi lahan perkebunan karet, kelapa sawit, ladang, lahan pertanian. Bukan hutan lindung dan tidak ada pemukiman warga," tegas Agus saat berbincang dengan Liputan6.com, Jakarta, baru-baru ini.

Ia mengklaim, proyek pembangunan PLTA Batang Toru tidak mengganggu lingkungan karena sudah ada fragmentasi habitat secara alami oleh Sungai Batang Toru. Sungai sepanjang 174 km ini memisahkan habitat satwa liar di blok Timur dan Barat.

"Area ini juga bukan tempat yang disukai orangutan karena dikelilingi lereng terjal, dan bukan kawasan konservasi," ujarnya.

Lebih jauh Agus menjelaskan, NSHE telah memperoleh izin lokasi dari Pemerintah Daerah (Pemda) Tapanuli Selatan seluas 7.000 hektare (ha). Lahan itu digunakan untuk melakukan survei, menentukan lokasi proyek dan perencanaan lainnya.

Luas lahan yang dibutuhkan dan telah dibebaskan dari masyarakat untuk pengerjaan proyek ini, diakuinya, seluas 566,3 ha atau 9 persen dari total izin lokasi 7.000 ha. Sisanya 91 persen akan dikembalikan ke Pemda Tapanuli Selatan.

"Kami sebut PLTA ini irit lahan," ujarnya.

Dari total lahan 566,3 ha atau 5,66 juta meter persegi (m2), di antaranya untuk pembangunan bendungan atau DAM seluas 70 ribu m2, sedangkan luas genangan 900 m2. Untuk pembangunan jalan untuk proyek PLTA Batang Toru seluas 2,66 juta m2.

PLTA Batang Toru merupakan proyek IPP (Independent Power Producer/IPP). Kepemilikan saham perusahaan patungan NSHE, antara lain PT Dharma Hydro Nusantara (DHN) sebesar 52,82 persen, PT Pembangkitan Jawa Bali Investasi (PJBI) 25 persen, dan Fareast Green Energy Pts Ltd (China dan Prancis) sebesar 22,18 persen.

Agus menargetkan, pembangunan PLTA Batang Toru akan dimulai paling cepat akhir tahun ini atau awal 2019 paling lambat. Butuh waktu empat tahun menyelesaikan konstruksinya, sehingga diperkirakan akan beroperasi pada 2022.

"Sekarang kami lagi pembangunan jalan, karena harus membuka akses dan itu butuh waktu setahun. Total investasinya sekitar Rp 20-23 triliun, berasal dari internal dan pinjaman," terangnya.

Dampak pembangunan PLTA Batang Toru akan menyedot ribuan tenaga kerja. Menurut Agus, pada tahap konstruksi bendungan atau DAM, kebutuhan tenaga kerja bisa mencapai sekitar 1.000 orang.

Selain itu, pembangkit listrik berkapasitas 510 MW tersebut, akan berkontribusi sekitar 15 persen dari beban puncak Sumatera Utara dan menjadi pengganti sumber listrik yang berasal dari diesel maupun gas.

"Kalau PLTA Batang Toru beroperasi bisa mengurangi emisi karbon hingga 1,6 Megaton per tahun dari diesel. Penghematan belanja negaranya juga mencapai USD 400 juta per tahun. Negara yang menikmatinya," kata Agus.

Jika dihitung dengan asumsi kurs saat ini Rp 13.902 per dolar AS, maka negara bisa hemat Rp 5,56 triliun per tahun dengan adanya PLTA Batang Toru di Sumut. 

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓