Sontek Singapura, Indonesia Diminta Perkuat Sektor Jasa

Oleh Merdeka.com pada 27 Sep 2018, 11:45 WIB
Ilustrasi Singapura

Liputan6.com, Jakarta Kepala Lembaga Penelitian, Pengembangan dan Pengkajian Ekonomi (LP3E), Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Didik J Rachbini menyebut struktur perekonomian Indonesia saat ini cukup berat. Apalagi ditambah tren defisit transaksi berjalan (current account defisit/CAD) pada kuartal II-2018 yang mencapai 3 persen.

Didik mengatakan, untuk menambal defisit CAD maka selain perlu mendorong ekspor Indonesia juga harus mendongkrak sektor jasa. Indonesia dalam hal ini, dapat belajar banyak dari negara kecil seperti Singapura.

"Singapura tidak punya apa-apa tapi mereka punya sektor jasa yang besar," kata Didik dalam diskusi yang digelar di Menara Kadin, Jakarta, Kamis (27/9/2018).

Didik menilai, Singapura pada dasarnya tidak memiliki sektor industri yang kuat seperti Jepang. Namun perekonomian negara ini masih cukup kuat dibandingkan Indonesia dikarenakan sektor jasanya yang cukup besar.

"Singapura tidak punya industri. Singapura tidak pernah dan punya industri kuat kayak Jepang tapi mata uang mereka kuat terus. Sekarang 1 dolar Singapura Rp 11.000," kata Didik.

"Tidak bisa negara besar seperti Indonesia seperti Singapura, tapi bisa meniru jasanya seperti Singapura," tambah dia.

Oleh karena itu, pemerintah mesti terus membuka peluang-peluang baru. Salah satunya adalah fokus melakukan ekspor jasa. Di mana sektor-sektor jasa yang dapat ditingkatkan ekspornya adalah pariwisata, pendidikan, kesehatan, dan profesional.Attachments area

2 of 2

Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Terjaga pada September

20151104-OJK.
OJK. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan masih dalam kondisi terjaga.

Hal ini terjadi di tengah kondisi likuiditas di pasar keuangan Indonesia yang masih mengalami volatilitas. Ini akibat berlanjutnya ketidakpastian di pasar keuangan global.

Dalam beberapa waktu terakhir, kondisi pasar keuangan global masih mengalami ketidakpastian dipengaruhi oleh berlanjutnya isu perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

Selain itu, normalisasi kebijakan moneter AS dan Eropa. Ketidakpastian ini telah meningkatkan tekanan di pasar keuangan emerging markets, khususnya di negara-negara yang mengalami ketidakseimbangan eksternal. Demikian mengutip dari keterangan tertulis, Kamis (27/9/2018).

OJK mendukung penuh upaya pemerintah dalam mengurangi dampak adanya tekanan pasar keuangan global terhadap perekonomian domestik, antara lain penjadwalan ulang proyek infrastruktur non-strategis dengan konten impor tinggi, penggunaan biosolar (B20), dan peningkatan tariff PPh impor produk konsumsi.

Di tengah dinamika di pasar keuangan global, pasar modal domestik per September 2018 terpantau masih relatif stabil. Per 21 September 2018, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat pelemahan tipis sebesar 1,0 persen secara mtd  dengan investor non residen mencatatkan net sell sebesar Rp 2,5 triliun.

Secara year to date (ytd), IHSG terkoreksi sebesar 6,3 persen dengan investor nonresiden mencatatkan net sell sebesar Rp 52,7 triliun.

Di pasar Surat Berharga Negara (SBN), yield tenor jangka pendek, menengah, dan panjang kembali meningkat masing-masing sebesar 82 bps, 22 bps, dan 42 bpsmtd.Peningkatan yield ini terjadi seiring dengan dinamika eksternal yang masih meningkat. Sampai dengan 21 September 2018, investor nonresiden masih mencatat aksi beli sebesar Rp 4,4 triliun.

Sementara  itu, kinerja intermediasi sektor jasa keuangan pada Agustus 2018 secara umum masih bergerak positif. Kredit perbankan dan piutang pembiayaan masing-masing tumbuh sebesar 12,12 persen yoy dan 5,82 persen yoy, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya (11,34 persen dan 5,53 persen).

Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh sebesar 6,88 persen yoy.Premi asuransi jiwa dan asuransi umum/reasuransi per Agustus 2018 masing-masing mencatat sebesar Rp 114,8 triliun dan Rp 49,3 triliun.

Sementara di pasar modal, pada periode Januari sampai dengan 21 September 2018, penghimpunan dana oleh korporasi telah mencapai Rp 130 triliun, dengan emiten baru sebesar 39 perusahaan. Total dana kelolaan investasi sebesar Rp 740,69 triliun, meningkat 7,58 persen dibandingkan akhir tahun 2017.

 

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait