Rizal Ramli Angkat Bicara soal Depresiasi Nilai Tukar Rupiah

Oleh Merdeka.com pada 26 Sep 2018, 19:53 WIB
Diskusi Rizal Ramli

Liputan6.com, Jakarta - Mantan Menko Maritim, Rizal Ramli turut angkat bicara soal tren depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Dia menuturkan, kondisi nilai tukar rupiah  masih belum mencapai titik aman. Sebab kebijakan, terutama dari pemerintah dianggap belum manjadi obat manjur.

"Belum ini baru permulaan. Kenapa? karena langkah itu banyak yang di belakang kecenderungan. Ini baru awal di angka Rp 15.000. (Alasannya) Sederhana langkah-langkah Menkeu itu behind the curve," kata dia dalam diskusi di Hotel Ibis Harmoni, Jakarta, Rabu (26/9/2018).

Salah satu kebijakan yang  dikritik Rizal adalah penaikan tarif pajak terhadap 1.147 barang impor yang tidak berdampak signifikan pada turunnya defisit neraca perdagangan.

"Dengan langkah yang diambil oleh pemerintah, paling impor hanya berkurang USD 500 juta. Tidak berani menyentuh the top 10 dari impor Indonesia yang mencapai 67 persen," ujar dia.

Seharusnya, Pemerintah berani membatasi komoditas impor yang masuk dalam kategori 'Top 10', seperti baja. Dia yakin jika Pemerintah berani membatasi impor baja dan beberapa produk lain, nilai impor Indonesia akan menurun. Sebab produk 'Top 10' tersebut menyumbang 10 persen terhadap total impor.

"Baja impor kita kalah USD 10,6 miliar. Ambil dong langkah, impor pasti berkurang, dari USD 10 bilion paling ke USD 3 bilion," tegas Rizal.

"Banyak contoh-contoh asal pemerintahnya cerdas. Fokus di 10 impor paling besar. Obatnya cukup kuat untuk menstabilkan rupiah," imbuhnya.

Lembaga yang menurut dia sangat tepat mengatasi depresiasi rupiah adalah Bank Indonesia (BI) yang hadir dengan kebijakan menaikkan suku bunga acuan secara bertahap.

"Satu-satunya yang ahead the curve hanya Bank Indonesia. Gubernur BI yang proaktif, di depan kecenderungan, karena menaikkan tingkat bunga duluan. Itu menolong memperbaiki ekspetasi," ujar dia.

Sayangnya, kebijakan BI tersebut harus didukung oleh kebijakan dari sisi Pemerintah. Sebab upaya mengatasi depresiasi nilai tukar rupiah tidak bisa hanya diserahkan pada bank sentral.

"Tapi (BI) kalau terlalu tinggi (menaikan suku bunga) NPL pasti makin tinggi. Peredaran kredit pasti berkurang, sehingga pertumbuhan ekonomi yang tahun ini rencananya 5 persen bisa turun 4,5 persen. Harus diiringi dengan kebijakan di sektor riil, ekspor, impor, daya beli, dan kebijakan ekonomi secara umum. Ini enggak jalan, selalu ketinggalan," tegas Rizal.

 

Reporter: Wilfiridus Setu Embu

Sumber: Merdeka

 

2 of 2

Belum Berdampak terhadap Pasar Obligasi

Nilai tukar Rupiah
Warga mengecek nilai tukar Rupiah terhadap USD menggunakan ponselnya di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Rabu (5/9). Nilai tukar Rupiah di pasar spot menguat tipis 0,06 persen ke Rp 14.926 per dollar Amerika. (Merdeka.com/Imam Buhori)

Sementara itu, Ekonom BCA, David Sumual mengatakan kondisi rupiah yang belum stabil tentu akan berdampak pada pasar obligasi. Investor tentu akan menunggu sampai nilai rupiah terjaga stabil untik berinvestasi.

"Investor bond yang masuk kalau dihitung dalam dolar dia merugi. Kalau dia mau masuk lagi, stabilitas rupiah semacam apa? (Apa) rupiah ke depan stabil atau tidak. Mereka akan masuk lihat trend suku bunga ke depan bagaimana sampai di level berapa BI masih akan menaikkan,"

Pemerintah, kata dia, tentunya harus waspada agar stabilitas nilai tukar rupiah dapat terjaga dan depresiasi yang terjadi tidak terjadi secara signifikan dan cepat.

"Kita bicara dengan sektor riil kalau pelemahan rupiah ini berjalan gradual tidak drastis seperti Turki, Argentina, itu memang mereka bisa adjust. Tapi kalau tidak gradual mereka tidak bisa adjust. Kalau tiba2 ada perubahan eksternal yang tidak kita duga sebelumnya. Kita tetap harus waspada. Harus hati-hati lah," kata dia.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓