Gabung Timses Jokowi-Ma'ruf, Bos Kadin Ingin Penyerapan Tenaga Kerja Meningkat

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 24 Sep 2018, 15:01 WIB
20160722- Ekspor Indonesia Bakal Capai 500 Persen-Jakarta- Angga Yuniar

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Rosan Roeslani menyatakan kesiapan menjadi bagian dari tim sukses (timses) Pasangan Calon (Paslon) nomor 1, Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin.

"Memang benar, saya sudah bertemu dan bicara dengan pak Presiden (Jokowi), juga dengan pak Pratikno (Menteri Sekretaris Negara). Hari Jumat saya diberitahu, saya diminta untuk TKN, terutama memberi masukan di bidang ekonomi, perdagangan, industri, investasi, semua yang sesuai dengan bidang kita," ujar dia di kantornya, Jakarta, Senin (24/9/2018).

"Terutama bahwa masukan yang diberikan saya ini implementasinya harus berjalan. Saya  bergerak di sektor riil, jadi itu yang bisa saya sampaikan," tambah dia.

Meski secara tak langsung terlibat dalam hingar-bingar politik, Rosan mengatakan dirinya tetap akan mengambil sikap netral jika sedang bertugas sebagai Bos Kadin.

"Enggak (ngaruh) kok. Mas Sandi (Sandiaga Uno) dulunya adalah wakil ketua saya juga (di Kadin). Semua itu saya sampaikan atas nama pribadi, karena banyak juga ketua Kadin di provinsi yang maju di partai masing-masing. Ada yang dari Gerindra, Golkar, PDIP," urai dia.

"Ini justru indahnya demokrasi. Saya mengerti bahwa masing-masing pasti punya aspirasi, itu silakan saja. Tapi Kadin-nya harus tetep punya posisi yang independen dan netral," tegas dia.

Adapun fokus utama yang hendak ia coba utarakan kepada pasangan nomor urut 1 itu yakni soal penciptaan lapangan kerja. Dia mengucapkan, penyerapan tenaga kerja adalah hal paling utama yang saat ini harus terus dikedepankan.

"Itu yang sangat kita butuhkan, karena penyerapan tenaga kerja kita masih kurang. Saya rasa itu menjadi fokus utama kita, dengan bagaimana kita membuat itu menjadi lebih tinggi dan lebih baik lagi," tutur dia.

 

2 of 2

Bank Dunia Sebut Ekonomi RI Tetap Tumbuh pada Tahun Politik

Investasi Meningkat, Ekonomi Indonesia Kuartal 1 Tumbuh 5,06 Persen
Pekerja menyelesaikan pembangunan gedung bertingkat di Jakarta, Senin (7/5). Pertumbuhan ekonomi kuartal 1 2018 tersebut lebih baik dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada periode sama dalam tiga tahun terakhir. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Sebelumnya, Bank Dunia menilai pemilihan umum (Pemilu) tidak pengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bank Dunia proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5,2 persen pada 2018.

Country Director World Bank Indonesia, Rodrigo Chavez, mengatakan angka tersebut bahkan akan meningkat pada 2019 meski akan ada momen pemilu.

"Dan di tahun 2019 secara bertahap meningkat hingga 5,3 persen pada tahun 2020," kata dia dalam acara laporan lndonesia Economic Quarterly Bank Dunia edisi September 2018 yang dirilis hari ini di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (20/9/2018).

Dia menuturkan, kebijakan fiskal telah memperkuat kebijakan moneter dalam mengisyaratkan komitmen Pemerintah terhadap stabilitas ekonomi. 

"Meskipun tahun 2018 dan 2019 merupakan tahun pemilihan umum, defisit fiskal diproyeksikan menurun di kedua tahun tersebut, yang mengurangi pasokan aset berdenominasi rupiah," ujar dia.

"Pada tahun 2018, sebagian disebabkan oleh pertumbuhan penerimaan yang tinggi, terutama dalam 10 tahun ini, karena harga komoditas yang lebih tinggi dan dampak dari reformasi, karena peningkatan penerimaan cukai tembakau serta peningkatan kepatuhan, telah berkontribusi bagi penerimaan non-sumber daya alam yang lebih tinggi," tambah dia.

Pertumbuhan penerimaan yang tinggi ini,  mengimbangi pengeluaran yang lebih tinggi, terutama pada subsidi, termasuk tunggakan dari tahun-tahun sebelumnya.

"APBN tahun 2019 mengantisipasi konsolidasi lebih lanjut berdasarkan target pendapatan dan pengeluaran yang realistis secara luas," ujar dia.

Dia melanjutkan, permintaan dalam negeri diperkirakan terus mendorong pertumbuhan dalam jangka pendek. 

"Percepatan yang tidak terlalu besar dalam konsumsi swasta diperkirakan akan berlanjut karena inflasi yang stabil, pasar tenaga kerja yang tinggi, dan menurunnya suku bunga pinjaman," ujar dia.

Sementara itu, konsumsi pemerintah juga diproyeksikan meningkat karena pertumbuhan penerimaan menciptakan ruang bagi konsolidasi fiskal dan pengeluaran tambahan.

"Pertumbuhan investasi diperkirakan akan tetap tinggi, yang pada awalnya oleh karena momentum investasi publik dan pertambangan terus berlanjut, dan kemudian dengan berkurangnya ketidakpastian politik pasca pemilihan umum," ujar dia.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓