Jurus Pemerintah Tekan Defisit Transaksi Berjalan

Oleh Merdeka.com pada 04 Sep 2018, 13:38 WIB
Paparkan RAPBN 2019, Menteri Kabinet Kerja Kompak Duduk Bersama

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta para menteri dapat merampungkan daftar ekspor yang dapat digenjot untuk mendorong kenaikan devisa. Diharapkan daftar ekspor itu dapat selesai dalam dua hari.

Hal itu disampaikan Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Darmin Nasution usai menghadiri rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Rapat itu membahas mengenai upaya penurunan defisit transaksi berjalan (current account deficit).

Salah satu yang dibahas dalam ratas tersebut adalah upaya peningkatan ekspor. Darmin mengatakan, Presiden Jokowi meminta dalam dua hari ke depan para menteri dapat merampungkan daftar ekspor yang dapat digenjot untuk mendorong kenaikan devisa. Beberapa sektor yang ditugaskan yaitu perdagangan, perindustrian serta energi dan sumber daya mineral.

"Artinya itu penugasan ke Mendag Menperin, Menteri ESDM, untuk membuat rincian dari rencana penindakan ekspor dengan matrix komoditas apa tujuannya apa ya. Mereka minta diberi waktu dua harian. Jadi kita sudah punya daftarnya itu dalam beberapa hari ke depan," ujar Darmin di Kantornya, Jakarta, Selasa (4/9/2018).

Darmin tidak merinci satu per satu barang atau komoditas yang akan digenjot untuk ekspor. Namun demikian, ada beberapa komoditas termasuk batu bara, perkebunan dan sektor manufaktur dipertimbangkan masuk dalam daftar tersebut. 

"Yang namanya tambang kan ada batubara ya. Kan kemudian ada di SDA yang lain yang menyangkut perkebunan juga ada. Kemudian yang menyangkut industri ada juga manufaktur makanya saya bilang yang ditugaskan Mendag, Menperin, Menteri pariwisata dan ESDM," tutur dia.

Selain mendorong kenaikan ekspor, pemerintah juga akan mengevaluasi berbagai kebutuhan impor yang tidak terlalu dibutuhkan dalam jangka pendek. Evaluasi komoditas impor ini masih dalam penanganan Kementerian Keuangan. "(Komoditasnya) Itu kemenkeu yang selesaikan," ujar dia. 

 

Reporter: Anggun P.Situmorang

Sumber: Merdeka.com

2 of 2

BI Ramal Defisit Transaksi Berjalan Turun Jadi 2,5 Persen pada Akhir Tahun

Perry Warjiyo
Ketua Umum Pengurus Pusat lSEl periode 2018-2021 Perry Warjiyo

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) meramalkan posisi defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) pada akhir 2018 berada di level 2,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Sebagai informasi, CAD saat ini sudah mencapai 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa defisit transaksi berjalan pada kuartal II-2018 tercatat sebesar USD 8 miliar.

Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu yang hanya sebesar 1,96 persen dan juga lebih besar dibandingkan dengan kuartal I-2018 yang hanya sebesar 2,2 persen dari PDB atau USD 5,5 miliar.

Gubernur BI, Perry Warjiyo mengaku optimis defisit CAD akan menurun di akhir tahun. "Tentu kita perhitungkan. Kita akan perhitungkan USD 2,2 M akan turun," kata Perry saat ditemui di mesjid kompleks BI, Jakarta, Jumat (31/8/2018).

Keoptimisan tersebut bukan tanpa alasan. Perry meyakini aturan mengenai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) serta kenaikan devisa dari sektor industri pariwisata akan mampu mengibati defisit CAD yang membengkak.

"Penggunaaan TKDN, lalu kenaikan pariwisata, sehingga untuk tahun ini CAD bisa mengarah di 2,5 persen dari PDB," ujarnya.

Selain itu, Perry juga menegaskan penerbitan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 66 Tahun 2018 yang mengatur pemberian insentif pada minyak kelapa sawit (biodiesel) yang dicampur seluruh jenis solar, untuk menjalankan program campuran 20 persen Biodiesel dengan solar (B20) dapat menyehatkan CAD sebab dapat menekan impor.

"Sudah sering diumumkan dengan langkah B20 bisa menurunkan impor tahun ini USD 2,2 miliar, tahun depan ditambah ekspor totalnya ada tambahan devisa sekitar hampir USD 9-10 miliar."

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓