3 Karya Sastra Klasik yang Berkisah tentang Ekonomi

Oleh Tommy Kurnia pada 12 Sep 2018, 06:02 WIB
Diperbarui 12 Sep 2018, 06:02 WIB
[Bintang]  Chelsea Islan
Perbesar
Membagikan buku dan melihat antusias membaca anak-anak di daerah sana Chelsea memiliki perasaan yang campur aduk. Di samping rasa senang, ia juga kerap terharu bahkan bersyukur. (Instagram/chelseaislan)

Liputan6.com, Jakarta - Jika Anda menganggap karya sastra hanya sebatas mengenai kegalauan manusian saja, maka Anda harus mencoba membaca karya-karya dari George Orwell, Charlotte Brontë dan Emile Zola ini.

Dalam karya mereta, sastra tidak hanya mentok di isu politik masa lalu atau penulis yang asyik sendiri melanturkan filsafat. Justru para penulis ini menjadi terkenal karena bukan membahas masalah itu.

Ambil contoh Charlotte Brontë yang membahas kehidupan perempuan mandiri, serta banyak penulis lain yang bisa mengemas pesan yang ingin mereka sampaikan dengan cerdas dan menghibur. 

Seperti tiga penulis dan karya sastra ini, mereka membicarakan kondisi ekonomi di zaman mereka. Gaya penceritaan mereka ada yang bernada satir, ada pula yang tiap kalimatnya kokoh yang salin menjalin menjadi plot paripurna sehingga mungkin pembaca tak sadar mereka sedang membaca novel bertema ekonomi.

Berikut Liputan6.com berikan elaborasi singkat tentang karya mereka.

2 dari 4 halaman

1. Animal Farm

Lip 6 default image
Perbesar
Gambar ilustrasi

Terbit: 17 Agustus 1945

Animal Farm karya George Orwell bisa menjadi langkah awal bagi seseorang untuk mengenal dunia sastra. Buku alegoris ini tidak terlalu tebal dan memiliki tema menarik tentang kondisi ekonomi, kekuasaan, dan perubahan sosial.

Berkisah perihal sekumpulan babi yang memberontak melawan peternak yang dianggap mereka sebagai penindas. Dalam novel pendek ini, Orwell menyindir mereka yang mengaku merakyat ketika sedang menggulingkan kekuasaan, tetapi saat berkuasa sifat aslinya terlihat.

3 dari 4 halaman

2. Villette

Ilustrasi kesendirian
Perbesar
Ilustrasi (iStock)

Terbit: 1853

Villette memang tidak secara eksplisit membicarakan ekonomi. Ditulis oleh Charlotte Brontë, tema pusat dari novel ini adalah karier dari Lucy Snowe, sang karakter utama.

Lucy adalah wanita yang bekerja di negeri orang sebagai seorang guru. Di sini pembaca menyaksikan bagaimana Lucy berusaha menekan perasaannya agar dapat kuat di pekerjaannya. Konfliknya pun beraneka ragam, antara Lucy melawan perasaannya, antara Lucy dan lingkungan kerjanya, sampai Lucy melawat hasrat yang ia represi.

Novel sebetulnya dipengaruhi oleh kehidupan Charlotte Brontë ketika ia mengajar di Belgia. Namun, ada baiknya pembaca memulai dari novel Charlotte Brontë yang lain, yakni Jane Eyre yang juga bertema karier perempuan.

Pahami gaya penulisan Brontë, kemudian baru baca Villette yang temanya lebih serius, dan diiringi penulisan khas Brontë yang berbunga-bunga dan mengalir namun tetap kokoh pada saat yang sama.

4 dari 4 halaman

3. Germinal

20160612-Ratusan Juta Pekerja Anak Perlu Diselamatkan Masa Depannya
Perbesar
Seorang bocah tampak memecahkan batu di sebuah tambang di Ouagadougou, Burkina Faso, 21 Desember 2015. Pada 12 Juni, Organisasi perburuhan Internasional melakukan aksi menentang mempekerjakan anak dibawah umur. (NABILA EL Hadad / AFP)

Terbit: Maret 1885

Novel yang paling berat di daftar ini, namun ini juga yang paling menyenangkan dibaca. Germinal berlatar lokasi di Prancis dan mengisahkan pemuda bernama Etienne yang datang ke sebuah masyarakat pekerja tambang.

Kondisi kerja yang tidak layak dan berbahaya menggugah kesadaran pemuda itu. Dia memimpin semacam gerakan terhadap keluarga orang kaya yang mengelola tambang untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik. Semangatnya yang panas dan menggebu berhasil menarik para penambang yang ia bela ke sebuah tragedi.

Novel ini tidak sekadar membahas kaya vs. miskin. Sang penulis, Emile Zola, melukiskan kisahnya dengan disiplin dan menarik. Ia menampilkan isu serta bias ekonomi dari si kaya dan si miskin tanpa jejak sentimentalitas.

Ada kalanya pembaca dibuat miris dengan kondisi si miskin, dan kemudian kasihan dengan kondisi si kaya yang ternyata hidupnya terkekang oleh statusnya. Pembaca juga diajak berpikir ulang mengenai reformasi tragis yang terjadi dalam novel, meskipun gerakan itu sebetulnya berniat baik.

Meskipun novel ini tebal, tetapi konflik dan klimaks berhasil dijalin dengan sangat menarik. Tidak ada kesadisan yang tidak perlu, konflik pun berjalan alami tanpa meledek pemahaman para pembaca.

Lanjutkan Membaca ↓