PTPN Gunakan Aplikasi Khusus untuk Pantau Lahan Tebu

Oleh Ilyas Istianur Praditya pada 01 Sep 2018, 18:28 WIB
Diperbarui 01 Sep 2018, 18:28 WIB
Ilustrasi kebun tebu
Perbesar
Ilustrasi kebun tebu. (AFP Photo/Prakash Singh)

Liputan6.com, Jakarta PT Perkebunan Nusantara III (persero) mengembangkan aplikasi e-Farming yang dapat digunakan oleh seluruh PTPN dengan komoditi tebu.

Dengan adanya aplikasi e-Farming ini, masing-masing PTPN Gula dapat melakukan monitoring melalui aplikasi berbasis android maupun website applications untuk seluruh lahan yang terdaftar.

“Aplikasi e-Farming merupakan hasil dari inisiatif dan tools strategis Direktorat Tanaman Semusim Holding untuk melakukan optimalisasi monitoring on farm yang sangat penting untuk diimplementasikan pada seluruh PTPN dengan komoditas gula tebu,” ungkap Direktur Tanaman Semusim Holding Perkebunan Nusantara M. Cholidi, Sabtu (1/9/2018).

Dengan menggunakan aplikasi e-Farming, diharapkan seluruh PTPN dapat memberikan laporan secara berkala ke Direktorat Tanaman Semusim Holding.

Adapun kegunaan e-Farming antara lain meningkatkan pelayanan kepada petani, meningkatkan produktivitas lahan sehingga pendapatan juga akan meningkat.

Kemudian terpusatnya data dari kebun milik petani, memudahkan monitoring dan evaluasi atas kinerja produksi, mulai dari persiapan lahan hingga perhitungan laba-rugi usaha perkebunan.

Selain itu, manfaat lain adalah menunjang proses perencanaan dan eksekusi program best practice operasional kebun sehingga pemberian agro input kerjalan tepat waktu dan sasaran. Serta, memberikan informasi yang aktual dan terpercaya sehingga memudahkan dan mempercepat pengambilan keputusan dan memastikan data produksi per kepemilikan di tiap wilayah sehingga tidak terjadi overlapping data.

E-Farming yang diluncurkan Holding PTPN III juga menawarkan solusi permasalahan dari penggunaan sistem lama, seperti pencatatan waktu dan proses pendaftaran lahan dalam aplikasi melalui aplikasi android petani maupun website.

Dengan e-Farming, pengisian atribut kebun dan petak kini dapat dilakukan oleh petani dengan didampingi Asmud, maupun didampingi oleh petugas (Asnan & Opt GPS) di lapangan.

Kemudian overlapping area antar petani gula dapat dicegah melalui penggambaran di luar wilayah dan pemantauan perkembangan areal kini dapat dilakukan di dalam sistem aplikasi.

"Untuk dapat menggunakan aplikasi e-Farming cukup mudah. Petani harus melakukan registrasi dan mengikuti langkah-langkah seperti memenuhi kelengkapan data yang dibutuhkan dalam aplikasi, melakukan validasi. Setelah seluruh data lengkap dan telah melakukan validasi, petani dapat melakukan monitoring dan evaluasi lahan yang telah terdaftar dalam aplikasi," pungkas Cholidi. 

 

* Update Terkini Jadwal Asian Games 2018Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Asian Games 2018 dengan lihat di Sini

 

2 dari 2 halaman

Produktivitas Gula RI Disebut Tak Berubah dalam 10 Tahun Terakhir

Kebun Tebu
Perbesar
Kebun Tebu
Program pemerintah untuk merevitalisasi industri gula nasional dipandang masih belum berdampak besar.  Program revitalisasi yang selama ini menjadi agenda rutin tersebut, baik on farm maupun off farm, tidak pernah berbuah manis sesuai rencana. 
 
Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Novani Karina Saputri mengatakan, pemerintah seharusnya fokus untuk meningkatkan produktivitas gula nasional. "Sudah hampir 10 tahun produktivitas gula tidak pernah mengalami perubahan secara signifikan," ujar dia di Jakarta, Kamis (02/7/2018).
 
Novani memaparkan, berdasarkan data dari Kementerian Pertanian Amerika Serikat (USDA), produktivitas gula nasional cenderung menurun. 
 
"Pada 2010, produktivitas tebu nasional mencapai 78,2 juta ton/ha dan menurun cukup tajam di 2011 menjadi 66,7 juta ton/ha. Pada 2013, produktivitas gula nasional meningkat menjadi 73,2 juta ton/ha dan kembali menurun di 2014 menjadi 66,1 juta ton/ha," ujarnya.
 
Novani menjelaskan, tidak berhasilnya program revitalisasi ini menyebabkan petani tebu tidak memiliki competitive advantage yang memadai, baik dalam hal memenuhi permintaan maupun bersaing dengan produk impor. 
 
"Mekanisme impor yang efektif juga merupakan langkah yang benar untuk menjamin ketersediaan permintaan dan menekan harga agar tidak terlalu tinggi," kata dia. 
 
Namun kenyataannya, kata Novani, rata-rata harga gula nasional tiga kali lipat lebih mahal dibandingkan rata-rata harga internasional.
 
"Semua ini menggambarkan bahwa usaha pemerintah untuk membuat harga gula lebih terjangkau tidak efektif dan seharusnya hal ini dievaluasi, baik secara on farm dan off farm harus jadi prioritas utama,” tegas dia.
 
 
Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait