Pangkas Defisit Transaksi Berjalan, BI Kumpulkan 350 Investor Singapura

Oleh Arthur Gideon pada 31 Agu 2018, 10:46 WIB
20151113-Ilustrasi Investasi

Liputan6.com, Singapura - Bank Indonesia (BI) menggelar Indonesia Investment Day di Singapura pada Jumat (31/8/2018) ini. Gelaran ini mengundang lebih dari 350 investor agar mau menanamkan modalnya di Indonesia sehingga bisa menjaga defisit transaksi berjalan.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara menjelaskan, acara Indonesia Investment Day ini digagas bersama Bank Indonesia, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura dan juga Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Acara ini bertujuan untuk menarik investor yang ada di Singapura maupun investor yang punya kantor perwakilan di Singapura untuk berinvestasi di Indonesia.

Hadir juga 8 pemerintah daerah yang telah siap untuk menawarkan potensi daerah kepada para investor tersebut. Pemerintah daerah tersebut adalah Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Kepulauan Riau, Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam catatan BI, telah mendaftar lebih dari 350 investor Singapura untuk mengikuti acara ini. "Sebenarnya yang berminat lebih banyak tetapi terpaksa kami tutup pendaftarannya karena mengingat kapasitas yang ada," jelas dia seperti ditulis Jumat (31/8/2018).

Dalam acara ini, pemerintah daerah akan menerangkan potensi daerah yang bisa dibangun para investor tersebut.

Untuk BI akan memberikan gambaran makro dan juga potensi pertumbuhan ekonomi daerah ke depan. Sedangkan BKPM akan memberikan penjelasan mengenai kemudahan perizinan.

Mirza melanjutkan, tujuan jangka panjang dari acara ini adalah mendorong terjadinya investasi masuk ke indonesia dengan target untuk memberikan pasokan valuta asing (valas).

"Jadi valas datangnya bisa dari ekspor, bisa dari penanaman modal asing (PMA) yang masuk ke Indonesia dan bisa juga dari investasi portofolio," kata dia.

"Selama ini BI aktif mengundang investasi portofolio tapi kami sekarang berusaha untuk mengurangi defisit transaksi berjalan dengan mendorong investasi yang berorientasi ekspor dan investasi di pariwisata," tambah dia.

 

* Update Terkini Jadwal Asian Games 2018Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Asian Games 2018 dengan lihat di Sini

 

2 of 2

Pertama Sejak 2013, Realisasi Investasi Asing Turun di Kuartal II

20151113-Ilustrasi Investasi
lustrasi Investasi Penanaman Uang atau Modal (iStockphoto)

Realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) di kuartal II 2018 tercatat turun hingga 12,9 persen. Pada kuartal II 2017, realisasi PMA mampu menembus Rp 109,9 triliun, sedangkan pada periode yang sama tahun ini hanya mencapai Rp 95,7 triliun.

Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM Azhar Lubis mengatakan, penurunan realisasi investasi di PMA ini merupakan yang pertama terjadi dalam 5 tahun terakhir.

"Ini pertama kali sejak 2013. Ini data kami sejak 2013. Dari 2013 itu enggak pernah kejadian," ujar dia di Kantor BKPM, Jakarta, Selasa (14/8/2018).

Dia mengungkapkan, sejak 2017, pertumbuhan investasi asing memang terus mengalami perlambatan. Hingga akhirnya pada kuartal II ini realisasi investasi ini mengalami penurunan.

"Misalnya kuartal II 2017 itu Rp 109,8 triliun, kuartal III 2017 Rp 111,7 triliun, kuartal IV Rp 112 triliun. Jadi hampir nol pertumbuhannya. Ini perlambatannya sudah kelihatan, terus turun hingga akhirnya minus," kata dia.

Menurut Azhar, negara asal PMA yang banyak mengalami penurunan adalah Korea Selatan. Jika sebelumnya, Negeri Ginseng selama masuk dalam lima besar PMA, namun kali ini investasinya turun signifikan dari USD 900 juta di kuartal I 2018 menjadi USD 211,9 juta di kuartal II 2018 dan melorot ke posisi 8.

"Korea Selatan itu turun paling jauh, makanya dia enggak masuk lagi lima negara investasi paling besar di Indonesia," ungkap dia.

Berikut lima besar negara asal PMA di kuartal II 2018:

‎- Singapura sebesar USD 2,4 miliar (33,5 persen)

- Jepang sebesar USD 1,0 miliar (14,4 persen )

- Tiongkok sebesar USD 0,7 miliar (9,4 persen)

- Hong Kong, RRT sebesar USD 0,6 miliar (8,2 persen)

- Malaysia sebesar USD 0,4 miliar (5,3 persen)

 

Lanjutkan Membaca ↓