BI Ingin Ekspor Kopi Bantu Tekan Defisit Transaksi Berjalan

Oleh Septian Deny pada 30 Agu 2018, 10:45 WIB
(Foto:Liputan6.com/Septian Deny)

Liputan6.com, Yogyakarta - Bank Indonesia (BI) membantu pengembangan potensi kopi di Desa Sidoharjo, Kulon Progo, Yogyakarta melalui Program Sosial BI. Hal ini dalam rangka dorong ekspor kopi Indonesia, khususnya yang dihasilkan di desa tersebut.

Deputi Gubernur BI, Erwin Rijanto mengatakan, pengembangan kopi sebagai komoditas unggulan harus dapat digunakan untuk menangkap peluang pasar dalam negeri maupun luar negeri. 

Dia menuturkan, sumbangan industri kopi terhadap perekonomian di Tanah Air tidak hanya terbatas pada produksi kopi, tetapi juga dari sisi tenaga kerja, sektor perdagangan maupun jasa. 

"Indonesia sebagai salah satu penghasil kopi terbesar di dunia, kiranya harus terus menjaga mutu dan kualitas produksi sehingga industri kopi sebegai penopang ekonomi di daerah," ujar dia di Yogyakarta, Kamis (30/8/2018).

Direktur Departemen Komunikasi BI Arbonas Hutabarat ‎mengatakan, dalam program ini, pihaknya memberikan dukungan infrastruktur irigasi untuk lahan tanam kopi di desa tersebut.

Selain itu, BI juga memberikan bantuan mesin produksi olahan kopi seperti alat pengupas kulit kopi (pulper), coffe grader, coffe grinder, coffe roaster, coffe brewing dan sealer pedal.

"Kami juga memberikan pelatihan kepada petani supaya mereka bisa melakukan produksi sesuai dengan ilmu perkopian. Harapan kami nanti program ini bisa direplikasi di tempat lain di daerah sini. Kalau ini berhasil, produksi kopi meningkat dan bisa memberikan kontribusi bagi perbaikan current account defisit (CAD) kalau kopinya bisa diekspor," kata dia.

Arbonas mengungkapkan, kopi merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia yang harus ditingkatkan ekspornya. Hal ini akan sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan penerimaan devisa dan menekan CAD.

"Kita salah satu penghasil kopi terbesar di dunia, kita ada Aceh, NTT, Papua, Jawa. Kalau semua terintergrasi dan terakumulasi tentunya ekspor kita akan lebih baik lagi. Dan saya percaya kita bisa tingkatkan ekspor komoditas kopi. (Selain kopi untuk tekan CAD) Mungkin karet, teh," ujar dia.

 

 

* Update Terkini Jadwal Asian Games 2018, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Asian Games 2018 dengan lihat di Sini

 

 

2 of 2

Sektor Pariwisata Jadi Jalan Cepat Tekan Defisit Transaksi Berjalan

Objek wisata Amed di Karangasem Bali
Suasana kawasan wisata Pantai Amed di Bali, Selasa (5/12). Erupsi Gunung Agung membuat sektor pariwisata di Pulau Dewata, terutama wilayah Amed sepi dari wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) menyatakan pariwisata bisa menjadi sektor yang paling cepat menurunkan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD). Sebab, selain menciptakan lapangan kerja dan menumbuhkan kegiatan usaha, pariwisata juga mampu menghasilkan devisa dengan cepat.

Gubernur Bank Indonesia (BI,) Perry Warjiyo mengatakan, sebenarnya asalkan tidak melebihi tiga persen dari produk domestik bruto, CAD juga merupakan hal yang tidak perlu dikhawatirkan.

"Untuk Indonesia, sepanjang tidak melebihi 3 persen dari PDB itu masih aman. Kemarin memang di kuartal I 2018 2,1 persen dan kuartal II 3 persen dari PDB," ujar dia di Yogyakarta, Kamis 30 Agustus 2018.

Namun demikian, lanjut dia, BI dan pemerintah tetap ingin agar CAD ini menurun, bahkan hingga transaksi berjalan bisa surplus. Untuk mencapai hal tersebut, pemerintah telah mengeluarkan sejumlah kebijakan, salah satunya dengan B20 untuk menekan impor BBM.

"Kita ingin turunkan lebih cepat, lebih aman, karena kondisi global sekarang tidak stabil. Makan ya sejumlah langkah konkret sedang dan akan dilakukan, seperti B20 yang hanya kurangi impor tapi ekspor minyak sawit juga didorong. Tahun ini mengurangin impor BBM bisa hemat USD 2,2 miliar. Oleh kerana itu CAD akan lebih turun dan aman," kata dia.

Namun demikian, kata Perry, agar CAD bisa turun dengan cepat, pengembangan sektor pariwisata harus segera didorong. Ini telah dibuktikan oleh Thailand di mana negara tersebut tidak pernah mengalami defisit pada transaksi berjalannya lantaran sektor pariwisatanya mampu menyumbang devisa yang besar.

‎"Kenapa pariwisata kita harus genjot? Saya bandingkan dengan Thailand itu 2017 devisa dari pariwisatanya USD 62 miliar. Oleh karena itu kenapa mereka suplus CAD USD 48,1 miliar, karena dari pariwisata. Itu kenapa kita genjot (pariwisata) karenanya itu bisa cepat turunkan CAD dan ke depan mengarah ke nol," ujar dia.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓