Wapres JK: RI Butuh 2.000 MW Pembangkit EBT per Tahun

Oleh Fitriana Monica Sari pada 29 Agu 2018, 18:15 WIB
Diperbarui 31 Agu 2018, 18:13 WIB
Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, Menteri ESDM Ignasius Jonan, dan Ketua Masyarakat Energi Baru Terbarukan Indonesia (METI) Suryadharma sedang mendapat penjelasan dari Kepala Divisi Energi Baru dan Terbarukan PLN, Zulfikar Manggau saat meninjau di stand PLN

Liputan6.com, Jakarta PLN terus mengejar target bauran energi nasional 23 persen pada 2025. Hal ini dibuktikan dengan perkembangan bauran energi nasional yang saat ini telah mencapai 11,68 persen di mana sebanyak 6.516,3 MW pembangkit energi baru dan terbarukan (EBT) telah beroperasi memasok listrik untuk masyarakat Indonesia.

Program EBT di PLN ditampilkan pada pameran Indo EBTKE ConEx 2018 yang diselenggarakan di Balai Kartini Jakarta, pada 29-31 Agustus 2018.

Dalam acara pembukaan pameran dan konferensi hari ini, Rabu (29/8/2018), turut hadir Wakil Presiden Jusuf Kalla, Wakil Ketua DPR Agus Hermanto, Menteri ESDM Ignasius Jonan, dan Ketua Masyarakat Energi Baru Terbarukan Indonesia (METI) Suryadharma.

Dalam sambutannya, Jusuf Kalla menyebutkan bagaimana energi telah menjadi kebutuhan pokok masyarakat.

"Energi sekarang menjadi kebutuhan utama kita. Kebutuhan energi akan meningkat terus-menerus. Kira-kira setiap tahun diperlukan pertumbuhan energi sebanyak 12 persen. Untuk mencapai 23 persen energi baru dan terbarukan (EBT) di 2025, setidaknya butuh tambahan 2.000 MW pembangkit EBT per tahun," ujar Kalla.

Kepala Divisi Energi Baru dan Terbarukan PT PLN (Persero) Zulfikar Manggau menyatakan bahwa total pembangkit EBT yang beroperasi akan terus meningkat.

Hal ini juga telah tercantum dalam Rencana Upaya Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2018-2027 di mana pengembangan pembangkit EBT ditargetkan sebesar 14.911 MW untuk seluruh wilayah Indonesia.

"PLN terus fokus mengembangkan pembangkit EBT dari tenaga surya, bayu, air, biomassa, biogas, bioenergi, panas bumi, arus laut, bahkan tenaga dari sampah. Ini tantangan bagi kami, tapi harus diwujudkan demi energi yang lebih bersih. Selain itu, Indonesia juga memiliki banyak potensi EBT yang diperkirakan mencapai 21.000 MW," ujar Zulfikar.

 

* Update Terkini Asian Games 2018. Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Pesta Olahraga Terbesar Asia di Sini

2 dari 2 halaman

Pembangkit EBT

PLN Groundbreaking PLTP Tulehu, Dongkrak Pemanfaatan EBT
PLN kembali memaksimalkan penggunaan Pembangkit Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebagai bagian dari pembangunan program 35.000 MW.

Salah satu pembangkit EBT dari tenaga bayu yang sukses beroperasi adalah PLTB Sidrap 75 MW di Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan. Pembangkit ini telah diresmikan Presiden Joko Widodo pada 2 Juli 2018.

Dalam pembangunannya, PLTB Sidrap menggunakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai 40 persen. Untuk tower-nya sendiri TKDN-nya cukup besar mencapai 80 persen.

Dengan total daya 75 MW, PLTB Sidrap berperan menopang 6 persen kebutuhan beban puncak Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) yang meliputi Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Palu.

Kemudian salah satu pembangkit EBT yang saat ini dalam tahap pembangunan adalah PLTA Jatigede 2x55 MW yang berlokasi di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Saat ini, pembangunannya sudah mencapai 38,43 persen dan target beroperasinya Oktober 2019.

Menurut Kepmen ESDM no. 1772K/20/MEM/2018, rata-rata nasional harga beli listrik adalah 7,66 sen USD/kWh.

"Harga EBT saat ini ditanda tangan maka akan berlaku hingga 30 tahun ke depan. EBT tidak hanya dilihat dari sisi manfaat, tapi juga turunnya BPP pembangkit. Terobosan ini harus terus dilakukan oleh pemerintah, PLN dan investor agar di masa yang akan datang Indonesia punya energi bersih, sustainable, dan harga yang konstan," jelas Kalla.

Lanjutkan Membaca ↓