Gandeng Dua Negara Ini, Biofarma Bisa Persingkat Waktu Temukan Vaksin Baru

Oleh Merdeka.com pada 27 Agu 2018, 13:15 WIB
Diperbarui 29 Agu 2018, 13:13 WIB
(Foto: Merdeka.com/Wilfridus S)

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia menjalin kerja sama dengan Maroko dan Tunisia dalam pengembangan vaksin. Penandatanganan kerja sama berlangsung di Kementerian PPN/Bappenas. 

Ini merupakan pelaksanaan komitmen kerja sama Indonesia dengan negara-negara anggota Islamic Development Bank (IDB) dan Organisasi Konferensi Islam (Organization Islamic Conference/OIC).

Dirut PT Biofarma, M. Rahman Roestan optimistis kerja sama ini bakal mempersingkat waktu penemuan vaksin baru menjadi lima tahun. Selama ini penemuan vaksin -vaksin baru yang membutuhkan waktu 15-20 tahun.

"Biasanya selama ini 15 sampai 20 tahun. Dengan kerja sama ini kita harapkan dalam waktu 5 tahun sudah ada vaksin baru. Tapi itu pun kalau potential researcher ini tidak menemukan kendala," kata dia saat ditemui, di Kantor Bappenas, Jakarta, Senin (27/8/2018).

Dia menjelaskan, dalam upaya penemuan vaksin baru peneliti PT Biofarma akan bekerja sama dengan peneliti dari Maroko dan Tunisia.

"Kami siap dengan expert kami yang membantu. Mereka juga punya potential researcher yang bisa kita gabungkan juga untuk menemukan vaksin untuk penyakit baru ke depan," ujar dia.

Selain dengan Maroko dan Tunisia, sebelumnya PT Biofarma juga telah bekerjasama dengan Saudi Arabia dalam pengembangan vaksin.

"Ini menjadikan Indonesia sebagai Center of Excellence untuk vaksin dan bioteknologi,” kata dia.

"Mereka mau belajar bagaimana produksi vaksin di Indonesia. Ini baru satu contoh. Dengan Saudi Arabia sudah tanda tangan dengan Biofarma untuk transfer teknologi untuk memenuhi kebutuhan vaksinnya," tambah dia.

 

Reporter: Wilfridus Setu Embu

Sumber: Merdeka.com

 

* Update Terkini Jadwal Asian Games 2018, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Asian Games 2018 dengan lihat di Sini

 

2 of 2

Maroko dan Tunisia Belajar Pengembangan Vaksin dari Biofarma

[Bintang] 5 Hal yang Harus Diketahui Orangtua Tentang Vaksin MR
Jangan buru-buru menolak vaksin MR, ini beberapa hal yang harus diketahui oleh para orangtua. (Foto: Liputan6.com/Fajar Eko Nugroho)

Sebelumnya, Indonesia menjalin kerja sama dengan Maroko dan Tunisia dalam pengembangan vaksin. Penandatanganan kerja sama berlangsung di Kementerian PPN/Bappenas.

Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengatakan kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari komitmen kerja sama antara Indonesia dengan negara-negara anggota Islamic Development Bank (IDB) serta Organisasi Konferensi Islam (Organization Islamic Conference/OIC).

"Tadi delegasi dari Maroko dan Tunisia, hadir karena kita akan sharing pengetahuan, mengenai produksi vaksin. Mereka butuh kemampuan untuk mengembangkan vaksin jadi mereka mau belajar," ungkapnya saat ditemui, di Kantornya, Jakarta, Senin 27 Agustus 2018.

Menurut dia, PT Biofarma telah ditunjuk sebagai leading institution dalam proses pengembangan vaksin tersebut. "PT Biofarma, BUMN kita yang bergerak di bidang pembuatan vaksin sudah ditetapkan sebagai salah satu leading institution dalam pembuatan vaksin untuk negara-negara OIC," ujar dia.

Bambang menjelaskan, kerja sama antara Indonesia dengan negara-negara IDB dan OIC, tentunya akan terus berlanjut. Selain pengembangan vaksin dengan Maroko dan Tunisia, Indonesia juga aktif berkerja sama dengan negara lain, pada bidang pengambang yang sesuai kebutuhan negara yang bersangkutan. Paling tidak ada 13 sektor yang dapat dikerjasamakan.

"Ini terbuka. Ini kan tanda tangan dengan IDB yang juga anggota OIC. Jadi kita terbuka. Tentu sesuai kebutuhan. Beberapa negara di Afrika misalnya lebih butuh ke pertanian, kita bisa perkuat berbagai bidang," kata dia.

"Pertanian cukup banyak, ada yang tanaman pangan, perkebunan, peternakan. Ada juga manufaktur, maupun manajemen pembangunan, manajemen fiskal," kata dia.

 

 Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by