The Fed Bakal Tetap Dongkrak Suku Bunga meski Trump Kritik

Oleh Agustina Melani pada 25 Agu 2018, 04:49 WIB
The Fed

Liputan6.com, New York - Pimpinan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell menyatakan tetap menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap ekonomi AS yang sehat dan isyaratkan lebih banyak kenaikan suku bunga.

Langkah itu akan tetap dilakukan meski Presiden AS Donald Trump kritik terhadap biaya pinjaman lebih tinggi.

The Fed mulai mengetatkan kebijakan moneter pada 2015 telah menaikkan suku bunga sebanyak dua kali pada 2018. Diperkirakan kenaikan suku bunga lagi pada September dan Desember.

Berbicara di simposium Jackson Hole, Wyoming, Powell menuturkan, pihaknya percaya kalau kenaikan kenaikan suku bunga secara bertahap ini tetap sesuai dengan kondisi ekonomi.

"Ekonomi kuat, inflasi mendekati target dua persen kami, dan kebanyakan orang ingin menemukan pekerjaan. Jika pertumbuhan yang kuat dalam pendapatan dan pekerjaan terus berlanjut, kenaikan suku bunga secara bertahap dalam kisaran target masih akan sesuai," ujar dia, seperti dikutip dari laman Reuters, Sabtu (25/8/2018).

Powell tidak menyebutkan kritik Trump terhadap kebijakan moneter the Fed. Dalam wawancara dengan Reuters pada Senin, Trump mengatakan tidak senang dengan kebijakan Powell karena menaikkan suku bunga dan bank sentral harus berbuat lebih banyak membantu meningkatkan ekonomi.

Dalam pidatonya, Powell hanya membuat kasus kalau kenaikan suku bunga bertahap adalah cara terbaik melindungi pemulihan ekonomi AS dan menjaga pertumbuhan pekerjaan sekuat mungkin, serta inflasi terkendali.

 

 

* Update Terkini Jadwal Asian Games 2018, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Asian Games 2018 dengan lihat di Sini

 

 

2 of 2

Pasar Respons Positif

Ilustrasi The Fed
Ilustrasi The Fed

Indeks saham S&P 500 dan Nasdaq pun capai level tertinggi usai pidato Powell. Sedangkan dolar AS melemah terhadap mata uang lain. Pelaku pasar bertaruh bank sentral AS tetap menaikkan suku bunga pada September dan Desember.

"Trump memicu ekonomi dengan stimulus fiskal dan kemudian meminta tidak memperketat suku bunga tetapi the Fed melakukan normalisasi kebijakan moneter, dan tidak benar-benar mengencangkannya. Ini menyertai pemulihan dan mengangkat suku bunga hingga ke titik di mana mereka normal," ujar Ekonomm OECD, Laurence Boone.

"Kondisi keuangan sangat bagus, dan (Powell) mengencangkan sejalan dengan tren itu," tambah dia.

Sementara itu, Ekonom MIT Sloan School of Management, Antoinette Shoar menuturkan the Fed harus tetap bertahan. "Kebijakan the Fed seharusnya tidak ada hubungannya dengan politik," ujar Schoar.

Pimpinan the Fed dari St Louis James Bullard menuturkan, kalau the Fed sebaiknya jeda menaikkan suku bunga mengingat stimulus ekonomi dari pemangkasan pajak dan perjanjian anggaran pemerintah yang meningkat akan memudar pada tahun depan.

Adapun dalam pertemuan simposium ini juga menandai soal risiko kebijakan perdagangan Trump terutama menerapkan tarif kepada China, Uni Eropa dan Kanada.

Adapun tema penelitian dalam konferensi Jackson Hole melibatkan perubahan struktur pasar. Powell menuturkan tema itu diambil untuk mengurangikan mengapa pergeseran dalam konsep seperti tingkat pekerjaan penuh dan bunga netral membenarkan kenaikan suku bunga secara bertahap.

Ia menuturkan, kesalahan the Fed pada masa lalu seperti salah prediksi soal tenaga kerja dan mempengaruhi inflasi pada 1970. Dengan tingkat pengangguran yang rendah, Powell menuturkan pihaknya mengetatkan kebijakan moneter untuk mencegah inflasi dan overheating.

Hal tersebut dilakukan meski menekan pertumbuhan tenaga kerja dan ekspansi."Resolusi bergerak dengan hati-hati. Saya melihat kenaikan suku bunga secara bertahap juga pertimbangkan kedua risiko ini," tutur Powell.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓