180 Travo Rusak Pasca-Gempa Lombok Berangsur Pulih

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 21 Agu 2018, 11:43 WIB
Diperbarui 21 Agu 2018, 11:43 WIB
Gempa Lombok
Perbesar
Fakhrurrozi dirujuk ke RSUD Provinsi NTB untuk menjalani operasi. (Liputan6.com/Fitri Haryanti Harsono)

Liputan6.com, Jakarta - PT PLN (persero) memperbaiki secara bertahap travo yang rusak akibat gempa dengan Magnitudo 7 di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Minggu, 20 Agustus 2018.‎ Tercatat ada 180 unit travo yang rusak akibat guncangan gempa besar dan beberapa gempa susulan.

Deputi Manajer Hukum dan Humas PLN Wilayah NTB Fitriah Adriana mengatakan‎, beberapa travo milik PLN mulai tidak beroperasi normal sejak adanya gempa besar yang terjadi pada Minggu, 19 Agustus ‎2018.

"Travo kami tidak beroperasi normal karena gempa pada 19 Agustus 201‎8," kata Fitriah, saat berbincang dengan Liputan6.com, di Jakarta, Selasa (21/8/2018).

Berdasarkan data terakhir pada 20 Agustus 2018 pukul 15.00 Waktu Indonesia Bagian Tengah (Wita), jumlah wilayah yang sebelumnya mengalami pemadaman listrik pascagempa susulan terus berkurang. Hal ini menandakan kondisi sistem telah normal kembali.

Proses pemulihan sistem hingga 20 Agustus 2018 pukul 10.30 Wita mencapai 86 persen dari total sistem kelistrikan Lombok.

Beberapa daerah yang sudah menyala antara lain Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Utara, sebagian Kabupaten Lombok Timur dan sebagian Kabupaten Lombok Tengah.

Untuk sistem Sumbawa, pasokan listrik berangsur pulih untuk beberapa daerah di Taliwang Kota, Utan, Gontar, dan lainnya.

Dengan kondisi sistem yang sudah normal kembali, ‎trafo yang mengalami kerusakan paca gempa susulan, sudah dapat beroperasi kembali.

"Saat proses penormalan sistem trafo sudah dapat beroperasi kembali, pasca gempa tersebut," tandasnya.

2 dari 3 halaman

Kementerian PUPR Siapkan Rumah Tahan Gempa di Lombok

Gempa Lombok
Perbesar
Fakhrurrozi kemungkinan terbentur saat berupaya selamatkan diri. (Liputan6.com/Fitri Haryanti Harsono)

Gempa Lombok belum berhenti mengguncang bumi Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga awal pekan ini.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, hingga Senin (20/8/2018) pukul 11.00 Wita, telah terjadi 101 gempa susulan pasca-gempa 7,0 SR yang menerpa Lombok pada Minggu, 19 Agustus 2018.

Menindaklanjuti hal ini, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah mempersiapkan infrastruktur tahan gempa yang diperuntukkan bagi berbagai unit bangunan, mulai dari perumahan, sekolah, rumah sakit, hingga rumah ibadah. 

"Rumah sakit, sekolah, dan fasilitas umum pasti konstruksinya dibuat tahan gempa. Dalam hal ini ada ratusan sekolah, puskesmas, puluhan masjid besar," ujar Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR Danis H Sumadilaga di Jakarta, Senin pekan ini.

"Ini butuh proses, saya perkirakan bisa selesai dua tahun. Kalau yang rumah masyarakat mudah-mudahan segera dalam waktu satu tahun," kata dia.

Untuk rumah masyarakat, Kementerian PUPR telah mempersiapkan Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha) sebagai tempat hunian tahan gempa, yang secara konstruksi lebih menghemat biaya dan waktu.

Menurut data terakhir yang dimilikinya, Danis menyebutkan, ada sekitar 36 ribu unit rumah di Lombok yang terbilang rusak berat akibat gempa Lombok.

Namun begitu, terdapat dua unit rumah contoh teknologi Risha di Lombok Utara yang hingga kini kondisinya masih utuh, yakni Balai Dusun Akar-Akar Utara dan Sekolah Adat Bayan.

Adapun bila teknologi ini diterapkan untuk membangun satu unit rumah sederhana tahan gempa tipe 36, dia menghitung, itu akan menghabiskan dana sekitar 50 juta.

"Dibutuhkan biaya sekitar Rp 1,5 juta per meter persegi untuk membangun satu Risha. Jadi kalau tipe 36 kalikan saja, bisa sekitar Rp 50 juta," tutur dia.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓