4 Faktor yang Bikin Pekerjaan Makin Ribet

Oleh Tommy Kurnia pada 15 Agu 2018, 06:01 WIB
Ilustrasi depresi (iStock)

Liputan6.com, Jakarta - Tantangan adalah bagian vital dari pekerjaan. Bagi sebagian kalangan, memiliki pekerjaan yang menantang dan dinamis jauh lebih menarik daripada pekerjaan yang stabil tapi juga stagnan alias membosankan.

Menantang pastinya memiliki unsur kesulitan. Namun, bukan berarti setiap tugas harus dibuat susah hanya agaf terkesan menantang. Itu malah menyusahkan pekerjaan sendiri, membuang waktu, dan mengurangi efisiensi.

Untuk kamu yang ingin mengurangi kesulitan yang bisa dihindari pada pekerjaan, ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan. Dirangkum dari The Muse, berikut empat faktor yang membuat pekerjaan semakin susah, beserta solusinya.

Dua Sejoli Pacaran di Atas Motor yang Melaju
2 of 5

1. Ogah Memakai Cara Baru

[Bintang] Ilustrasi ponsel
Ilustrasi pengguna smartphone. (Sumber Foto: Pexels)

Perubahan memang sulit. Terkadang lebih mudah untuk terus memakai cara yang lama ketimbang menyesuaikan dengan adanya proses baru. Namun, perubahan tersebut justru mungkin ada karena memang lebih baik dan efisien. Terus-terusan memakai cara usang malah memperlambat kinerja diri sendiri, malah bisa berdampak pada rekan dan klien.

Ada kalanya ingin mencoba sesuatu yang baru tapi malu-malu atau takut salah. Bila begitu kasusnya, cukup minta tolong pada rekan yang sudah terlebih dulu paham. Atau tulis saja cara pemakaiannya. Memang pada awalnya perubahan ke arah yang baik itu merepotkan, tapi dalam jangka panjang pasti kamu akan bersyukur telah melakukannya.

3 of 5

2. Kamu Ingin Disukai Semua Orang

Kantor dan tempat kerja
Ilustrasi kantor dan tempat kerja. (iStockphoto)

Diberitahukan bahwa kita melakukan tugas dengan benar adalah sebuah konfirmasi yang menunjang kinerja. Yang perlu diingat adalah jangan sampai ingin dipuji atau disukai oleh semua orang.

Jika bos sudah memberikan dorongan, maka hal itu sudah cukup. Jangan berusaha membuat terkesan semua manajer departemen, seluruh anggota tim, atau banyak orang lainnya. Itu malah akan membuatmu repot sendiri. Saat memulai sebuah proyek, temukan siapa sosok yang mengambil keputusan kunci. Fokuslah pada arahan dari orang itu tanpa perlu dipusingkan pihak-pihak lain.

4 of 5

3. Melupakan Feedback

Ilustrasi bayar tagihan
Kini, bayar tagihan Telkom tak lagi harus di kantor Telkom atau bank. Seperti apa metode pembayaran barunya?

Dalam kerja, revisi dan kritikan membangun akan selalu ada. Memang menerima kritikan tidak selalu mudah, tetapi situasi akan lebih sulit bila kamu tidak mengimplementasi feedback yang baru diberikan. Ujung-ujungnya, hal itu hanya akan membuatmu dan pihak lain frustasi.

Coba perhatikan feedback yang kamu terima. Tulis dokumen khusus mengenai itu, dan anggap saja itu sebagai sontekan ketika kamu sedang bingung untuk memastikan kamu memadukan kritik dan saran itu pada tugas-tugas selanjutnya.

5 of 5

4. Merencanakan Terlalu Banyak Skenario

Mudik Lebaran Harus Tetap Bekerja dari Kampung Halaman
Ilustrasi/Foto: copyright pexels.com

Tidak ada salahnya menjadi perencana, justru seringnya itu adalah hal bagus. Masalahnya, ada yang disebut sebagai analysis paralysis, yakni ketika kamu malah sibuk memikirkan sebuah situasi sampai-sampai tidak bertindak.

Solusinya? Mulai saja. Ketimbang terus merencanakan segala macam detail, langsung saja mulai sedikit-sedikit. Tidak apa bila terjadi perubahan saat bertindak, setidaknya kamu sudah mulai melaksanakan proyekmu.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait