Cerita Menko Luhut Atasi Masalah Sampah Plastik

Oleh Merdeka.com pada 07 Agu 2018, 14:30 WIB
Diperbarui 09 Agu 2018, 14:13 WIB
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan. (Yayu Agustini Rahayu/Merdeka.com)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengakui punya kisah menarik selama terlibat secara intensif dalam penanganan sampah plastik.

Mantan Menko Polhukam ini mengaku pernah 'disindir' anaknya soal kebiasaan penggunaan botol plastik di Kementeriannya. 

"Seperti anak saya yang perempuan, dia bilang 'Dad kamu itu masih bilang-bilang jangan pakai plastik. Di kantormu masih pakai botol plastik'," kisahnya dalam rakor penanganan sampah di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (7/8/2018).

Mendengar kritik dari anak sendiri, Luhut pun sadar, dia harus mulai gerakan lawan sampah plastik dari lingkungan sekitar, terutama di Kementerian tempatnya bekerja.

"Saya pikir benar juga. Saya omong-omong tapi tidak dilaksanakan. Terus di kantor kita saya titip jangan lagi ada botol plastik. Memang leadership, keteladanan itu penting," kata dia.

Selain itu, Mantan Komandan Satgultor 81/Kopassus ini mengaku tak segan-segan bicara dengan Pemerintah yang terbukti 'mengirim' sampah ke Indonesia.

Ia sempat mendatangi langsung Pemerintah Singapura untuk mengadukan sampah plastik asal negeri itu yang masuk ke Laut Indonesia.

"Jadi banyak sampah kita itu kalau lihat di pulau Nipah di Batam itu sampah Made in Singapura. Hampir semua sampah-sampah hanyut di bawa arus dari Singapura," kata dia.

Pemerintah Singapura pun sempat mengelak, tapi akhirnya menerima setelah ditunjukkan bukti nyata soal sampah asal negerinya.

"Tapi Singapura itu saya beri tahu, Deputi Prime Minister (mengatakan) 'Itu tidak bisa Pak Luhut, kami contained semua'. Saya bilang ini Made in Singapura," ujar dia. 

"Jadi tidak boleh ada dunia mengklaim kalau dia sudah itu bersih, bahwa dia kurang berkontribusi laut itu mungkin. Tapi bahwa kita semua terlibat itu yes," imbuh Luhut.

Luhut pun menegaskan penanganan sampah harus dilakukan secara menyeluruh dan membutuhkan kerja sama dengan negara lain juga komitmen negara sendiri.

Komitmen sangat diperlukan, terutama Indonesia adalah negara dengan tingkat sampah plastik terparah kedua setelah China. "Kenapa Indonesia nomor dua? Ada dua penyebabnya, satu karena kita ada pada posisi silang, ada di antara Samudera Pacific ada Samudera Hindia. Kedua karena memang dari kita sendiri," kata dia.

 

Reporter: Wilfridus Setu Embu

Sumber: Merdeka.com

 

2 of 2

Luhut Minta Kepala Daerah Tak Wariskan Sampah

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan. (Yayu Agustini Rahayu/Merdeka.com)
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan. (Yayu Agustini Rahayu/Merdeka.com)

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan meminta kepala daerah serius menangani masalah sampah di wilayah masing-masing.

Mantan Kepala Staf Kepresidenan ini mengatakan, penanganan sampah yang baik merupakan salah satu warisan positif yang dapat ditinggalkan saat berakhir masa jabatan.

"Saya mohon bapak-bapak wali kota lihat, bapak jadi wali kota, bapak punya legacy apa sih? Suatu saat bapak akan berakhir juga kan, sama seperti saya. Setiap orang pasti ingin ada legacy," ungkapnya dalam Rakor Penanganan Sampah, di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa 7 Agustus 2018.

Dia pun meminta segenap pemerintah daerah untuk tidak segan-segan belajar dari keberhasilan penanganan sampah di daerah lain. Dengan demikian, upaya menangani sampah dapat menjadi gerakan nasional.

"Seperti Wali Kota Banjarmasin, legacy-nya (penanganan) sampah. Coba Anda ke Banjarmasin sekarang. Bisa disiplin masyarakat. Semua diatur," tegasnya.

"Kita sadar juga bahwa kalau kita disiplin soal sampah ini, itu mendisiplinkan bangsa ini. Sampah ini musuh bersama, enggak ada suku, bangsa, agama, kaya miskin. Saya challenge bapak-bapak wali kota, ayo kita kerjakan," tandasnya.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓