Merauke Jadi Sentra Produksi Beras untuk Ujung Timur RI

Oleh Septian Deny pada 31 Jul 2018, 10:00 WIB
Diperbarui 31 Jul 2018, 10:00 WIB
Harga Gabah Kering Turun
Perbesar
Petani memanen padi varietas Ciherang di areal persawahan Desa Ciwaru, Sukabumi, Sabtu (23/6). Petani mengeluhkan harga gabah kering panen saat ini Rp 488 ribu/kwintal dibanding tahun lalu yang menembus Rp 600 ribu/kwintal. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah menetapkan Merauke menjadi sentra produksi beras di Provinsi Papua. Untuk itu, saat ini Kementerian Pertanian (Kementan) giat melaksanakan cetak sawah baru di wilayah tersebut.

Direktur Perluasan dan Perlindungan Lahan, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Indah Megahwati menyatakan bahwa sejak 2015 hingga saat ini, Kementan telah mencetak lahan sawah baru di Kabupaten Merauke hampir 8 ribu hektare (ha).

"Masing-masing pada 2015 sebesar 2.115 ha, pada 2016 tercatat 2.000 ha, pada 2017 mencapai 3.000 ha dan pada 2018 tercatat 800 ha," ujar dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (31/7/2018).‎

Peneliti Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) Yiyi Sulaeman mengatakan potensi lahan untuk pengembangan padi sawah di Kabupaten Merauke cukup besar.

“Lahan yang sesuai untuk pengembangan padi sawah sekitar 2,69 juta ha, masing-masing cukup sesuai (Kelas S2) 1,24 juta ha dan sisanya sesuai marginal (Kelas S3) sekitar 1,45 juta ha," kata dia.

Yiyi menjelaskan, lahan tersebut terletak di kawasan areal penggunaan lain (APL) sekitar 285,58 ribu ha, hutan produksi (HP) sekitar 755,34 ribu ha, hutan produksi konversi (HPK) sekitar 827,21 ribu ha, dan kawasan hutan lainnya sekitar 826,84 ribu ha.

“Untuk langkah awal, kawasan APL 285,58 ribu ha dapat segera dibuka sambil menunggu proses perizinan penggunaan kawasan HPK untuk lahan pertanian dari Kementerian LHK," lanjut dia.

 

2 dari 3 halaman

Produktivitas Gabah

Harga Gabah Kering Turun
Perbesar
Petani merontokan gabah padi di areal persawahan Desa Ciwaru, Sukabumi, Sabtu (23/6). Petani mengeluhkan harga gabah kering panen saat ini Rp 488 ribu per kwintal dibanding tahun lalu yang menembus Rp 600 ribu per kwintal. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Sementara itu, K‎epala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua Muhammad Thamrin mengatakan, produktivitas gabah rata-rata di Kabupaten Merauke sekitar 4,5 ton per ha. Produktivitas sebenarnya masih bisa ditingkatkan menjadi dua kali lipat. ‎

“Potensi produksi padi di Kabupaten Merauke cukup tinggi. Hal ini terbukti demplot (demontration plot) BPTP tahun 2017 dengan teknologi Jarwo Super (varietas INPARI 32, pemupukan berimbang, penggunaan alsintan, dan lain-lain) mampu menghasilkan lebih 8 ton per ha," ungkap dia.‎

Sedangkan indeks pertanaman padinya juga dinilai masih sangat rendah, yaitu IP 100. Hal ini yang masih menjadi pekerjaan rumah (PR) agar Merauke bisa menjadi sentra produksi beras di ujung timur Indonesia.

“Bila IP padi ditingkatkan menjadi 200 dengan penambahan irigasi suplemen di musim kemarau, maka pencetakan lahan sawah baru 7.915 ha akan meningkatkan produksi gabah tiap tahun sekitar 63 ribu ton gabah," tandas dia.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓