Asosiasi Emiten Minta Ubah Acuan Biaya Pencatatan di BEI

Oleh Merdeka.com pada 24 Jul 2018, 17:12 WIB
Diperbarui 26 Jul 2018, 16:13 WIB
20151117-Pasar-Modal-Jakarta-AY

Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) meminta Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mengubah struktur acuan penerapan listing fee atau biaya pencatatan dari kapitalisasi pasar (market capitalization/market cap) menjadi modal disetor. 

Direktur Eksekutif AEI, Isakayoga mengatakan acuan listing fee dengan menggunakan kapitalisasi pasar akan membebani perusahaan-perusahaan besar.

"Kami usulkan listing fee menggunakan rumus lama, yakni berdasarkan modal disetor tidak seperti saat ini yang menggunakan market cap. Ini membuat perusahaan yang besar seakan dapat hukuman, semakin besar maka biayanya semakin tinggi," ujar di Gedung Bursa Efek Indonesia, Selasa (24/7/2018).

Dia mengatakan, usulan tersebut telah disampaikan ke jajaran direksi bursa. Namun, hingga kini otoritas pasar modal tidak pernah membahas dan mengubah mekanisme listing fee tersebut.

"Belum ada keputusan, belum ada hasil. Kita tidak tahu," terang dia.

Selain itu, AEI juga mengusulkan kepada OJK untuk menurunkan pungutan emiten atau menghapus pungutan terhadap emiten.

Dia menjelaskan, di zaman Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), emiten tidak dibebani dengan iuran. 

"Makanya kami usulkan rasionalisasi, arahnya menurunkan pungutan atau menghapus pungutan. Karena dulu pungutan emiten ini tidak ada," kata dia.

Harapannya, usulan tersebut dapat dijawab melalui revisi PP No.11/2014 tentang Pungutan Oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

"Kelihatannya itu masih dalam proses untuk direvisi, kita enggak tahu. Karena sekarang semangatnya sama efisiensi. Tapi semangatnya itu mulai dipikirkan apakah pungutan itu tidak dilakukan atau diturunkan," ujar dia.

 

Reporter: Wilfridus Setu Embu

Sumber: Merdeka.com

2 of 2

Apindo: 100 Perusahaan Siap Melantai di Bursa

20151117-Pasar-Modal-Jakarta-AY
Peserta memantau monitor bursa saham pasar modal di Bursa Efek Jakarta, Selasa (17/11). Hal ini sejalan dengan salah satu inisiatif pemerintah melalui Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni menambah jumlah investor pasar modal. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Hariyadi Sukamdani menyatakan sebanyak 100 perusahaan siap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). 

Ini dia sampaikan saat acara pembukaan CEO Gathering 2018 bertema Optimalisasi Peran Sektor Keuangan untuk Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi di Jakarta, Selasa 20 Februari 2018.

"Kalau di catatan kami, mustinya dari 14.000 lebih perusahaaan anggota Apindo, paling tidak ada 100 yang memiliki potensi masuk bursa dari segi kesiapannya," ujar Hariyadi di Jakarta.

Bahkan, kata dia, jika mengacu pada ukuran, perusahaan yang berpotensi melantai di bursa mencapai 500 perusahaan.

"Tapi kalau dari kesiapan tim keseluruhan administrasi dan willingness untuk masuk mustinya 100 saja," tambah dia.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Emiten Indonesia (AEI), Franciscus Welirang mengapresiasi banyak perusahaan yang tergabung dalam Apindo mencatatkan sahamnya di bursa.

"Kami senang, kawang-kawan Apindo ikut jadi anggota emiten, ini merupakan permulaan yang baik kedepanya bagi kita bersama bahwa kita mampu bekerjasama," tutur Franciscus.

"Kami juga bekerja sama dengan Apindo dan BEI dalam rangka membicarakam green bonds dan fintech. Kami berterima kasih kepada BEI yang telah berikan ruang untuk pengetahuan anggota AEI," dia menjelaskan.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓