Hadapi Perang Dagang, RI Adopsi Teknologi Singapura

Oleh Merdeka.com pada 19 Jul 2018, 14:53 WIB
Diperbarui 21 Jul 2018, 14:13 WIB
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan. (Yayu Agustini Rahayu/Merdeka.com)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengadakan pertemuan dengan Deputi Perdana Menteri Singapura Teo Chee Hean untuk membahas perkembangan tehnologi terkini di kedua negara. Menko Luhut mengatakan, Singapura memiliki tehnologi yang sudah maju.

"Tadi kita Deputi Perdana Menteri Theo ke kantor kita bicara industri 4.0, teknologi dan Singapura sudah maju, kita ingin juga bisa sharing dengan mereka. Kemarin juga ada program mengirim 22 personel kita untuk ada training di Singapura," ujar Menko Luhut di Kantornya, Jakarta, Kamis (19/7/2018).

Ada beberapa sektor pemanfaatan teknologi Singapura yang dapat diadopsi oleh Indonesia, antara lain militer, komersial dan e-commerce.

"Macam-macam, dalam bidang militer bisa, komersial bisa, e-commerce. Banyak sekali yang bisa kita masuk yang intinya membuat kita lebih share," jelasnya.

Lebih lanjut, Menko Luhut menjelaskan, peranan teknologi sangat dibutuhkan untuk menghadapi perkembangan global. Salah satunya untuk menghadapi perang dagang yang terjadi beberapa waktu belakangan.

"Kita berharap bahwa Indonesia dengan trade war sekarang jadi memanfaatkan kita untuk jadi lebih berkembang lebih efisien di dalam bekerja di Tanah Air kita," jelasnya.

Pengembangan tehnologi juga dibutuhkan untuk menekan ketergantungan impor Indonesia seperti yang akan diterapkan pada penggunaan Biodisel 20 (B20). Penggunaan B20 ini kemudian diyakini akan meningkatkan harga kelapa sawit.

"Kita sekarang sudah diputuskan B20 itu untuk mengganti Solar yang ada sehingga kita mengurangi impor solar dari luar negeri jadi biodiesel. Sehingga untuk lingkungan juga. Jadi saya pikir teknologi ini menjadi sangat penting sekali dalam kondisi seperti sekarang ini," tandasnya.

 

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

2 of 3

IMF Ingatkan Ekonomi Global Bakal Melambat Imbas Perang Dagang

Menko Maritim Luhut Pandjaitan, Gubernur BI Agus Martowardojo bersama MD IMF Christine Lagarde melakukan kunjungan ke TPI Cilincing, Jakarta, Rabu (28/2/2018). (Ilyas/Liputan6.com)
Menko Maritim Luhut Pandjaitan, Gubernur BI Agus Martowardojo bersama MD IMF Christine Lagarde melakukan kunjungan ke TPI Cilincing, Jakarta, Rabu (28/2/2018). (Ilyas/Liputan6.com)

The International Monetary Fund (IMF) menyatakan, ekonomi global akan melambat imbas perang dagang.

IMF mengingatkan ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan negara-negara lain di dunia akan rugikan ekonomi global USD 430 miliar atau sekitar Rp 6.184 triliun (asumsi kurs Rp 14.382 per dolar Amerika Serikat). AS sangat rentan terhadap perang tarif yang meningkat.

IMF juga memberikan teguran kepada Presiden AS Donald Trump. Hal itu akibat ancaman perang dagang yang dibuat AS dan mitra dagangnya berisiko turunkan pertumbuhan ekonomi global sebanyak 0,5 persen pada 2020. Ada potensi kehilangan USD 430 miliar dalam PDB di seluruh dunia. 

Meski ketegangan perdagangan akan meningkat sehingga berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi, AS akan fokus membalas dari ancaman negara lain.

Trump meningkatkan ketegangan di sektor perdagangan dengan usulkan tarif 10 persen terhadap barang China. Nilainya mencapai USD 200 miliar. China pun memperingatkan pembalasan.

Trump juga mengguncang para pemimpin Eropa dengan memberi label kepada Uni Eropa (UE) yang merupakan salah satu “musuh” terbesar AS atas perdagangan.

"Negara-negara harus melawan pemikiran yang melihat ke dalam dan ingat bahwa pada berbagai masalah kepentingan bersama, kerja sama multilateral sangat penting," ujar Ekonom IMF Maurice Obstfeld, seperti dikutip dari laman SMCP, Rabu (18/7/2018).

IMF menyatakan, tindakan proteksionisme lebih besar dapat hambat investasi bisnis, mengganggu rantai pasokan global, perlambat penyebaran teknologi, peningkatan produktivitas dan menaikkan harga barang-barang konsumsi.

Adapun pertumbuhan ekonomi global diprediksi sebesar 3,9 persen pada 2018 dan 2019. Namun, diperkirakan pelemahan tajam terjadi di Uni Eropa, Inggris, dan Jepang. Ini juga didorong meningkatnya ketegangan politik.

Selain itu, IMF prediksi pertumbuhan ekonomi Inggris melambat menjadi 1,4 persen pada 2018 dibandingkan perkiraan yang dibuat pada April sebesar 1,6 persen.

Di zona euro, ekonomi diprediksi melambat menjadi 2,2 persen dibandingkan perkiraan sebelumnya tumbuh 2,4 persen.

IMF juga meramal, ekonomi China melambat menjadi 6,6 persen pada 2018. Selain itu, AS juga akan hadapi risiko lebih besar. Pemangkasan pajak oleh Trump mendorong ekonomi AS sekitar 2,4 persen pada 2018.

IMF mengingatkan risiko karena the Federal Reserve bersiap untuk menaikkan suku bunga. Hal ini bersamaan dengan ancaman sengketa perang dagang lebih besar. "Pasar keuangan tampaknya akan hadapi kemungkinan-kemungkinan," ujar Obstfeld.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by