Bertemu Menko Luhut, Bos Pindad Diminta Tambah Produksi Amunisi

Oleh Merdeka.com pada 10 Jul 2018, 18:40 WIB
Diperbarui 10 Jul 2018, 18:40 WIB
(Foto: Merdeka.com/Wilfridus S)
Perbesar
Dirut Pindad Abraham Mose (Foto:Merdeka.com/Wilfridus S)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan meminta PT Pindad (Persero) untuk mandiri dalam produksi amunisi dan propelan atau bahan pendorong bubuk mesiu.

"Jadi Pak Menko (Menko Maritim, Luhut Binsar Pandjaitan) maunya dikurangin impor jadi kemampuan dalam negeri yang ditambah," ujar Direktur Utama PT Pindad, Abraham Mose saat ditemui di Kemenko Maritim, Jakarta, Selasa (10/7/2018).

Selain itu, kata dia, Luhut juga meminta agar produksi amunisi oleh Pindad dapat ditingkatkan. Abraham mengakui produksi amunisi Pindad saat ini masih rendah. 

"Kalau kita sekarang amunisi sekitar 197 juta butir per tahun sampai akhir 2019 kita sekitar 300 juta butir per tahun. Akan tetapi kebutuhan itu lebih besar dari itu. Sehingga Pak Menko minta ya coba dibanyakin lagi. Sekitar 300-400 juta butir per tahun, kekurangannya," kata dia.

Dia menyampaikan, untuk mandiri dan meningkatkan kapasitas produksi, yang diperlukan adalah peningkatan investasi dan bahkan pembangunan pabrik baru.

"Kalau Pindad itu apa, saya bilang kita harus mandiri di propelan, kemudian mandiri di amunisi. Untuk mandiri di amunisi berarti kita harus nambah kapasitas amunisi kita. Tambah kapasitas amunisi apa yang diperlukan? duit saya bilang, investasi," kata dia.

Dia mengatakan, Menko Luhut sudah meminta Pindad untuk mengajukan proposal terkait investasi penambahan kapasitas produksi tersebut.

Meskipun dia enggan menyampaikan secara detil berapa total dana yang dibutuhkan untuk menambah kapasitas produksi.

"Beliau minta segera Pindad memberikan proposal untuk pembangunan penambahan amunisi, kemudian memberikan proposal untuk pembangunan propelan," ujar dia.

"Tadi belum sampai bicara kekurangan dana tapi buatlah proposal untuk kapasitas misalnya 200 juta butir per tahun untuk amunisi dan propelan bisa sampai 600 atau 800 ton," tambah dia.

 

Reporter: Wilfridus Setu Embu

Sumber: Merdeka.com

2 dari 2 halaman

Pindad dan Dahana Upayakan Kebutuhan Amunisi TNI Setiap Tahun

Pindad akan meningkatkan dua kali kapasitas produksi amunisi kaliber kecil.(Dok Aditya Prakasa)
Perbesar
Pindad akan meningkatkan dua kali kapasitas produksi amunisi kaliber kecil.(Dok Aditya Prakasa)

Sebelumnya, upaya memenuhi kebutuhan TNI setiap tahun, PT Pindad akan meningkatkan dua kali kapasitas produksi amunisi kaliber kecil. Saat ini, TNI membutuhkan 300 juta butir amunisi per tahun.

Direktur Teknologi dan Supply Chain PT Pindad, Ade Badgja mengatakan pihaknya akan memproduksi 4 kali 90 juta butir amunisi per tahun. Jumlah produksi tersebut merupakan kapasitas maksimum Pindad pada 2019 atau 2020.

"Kebutuhan tahunan menurut Asrena 300 juta per tahun. Jadi semua kebutuhan TNI akan kita siapkan. Indonesia sendiri akan membuat pabrik propelan yang akan digawangi PT Dahana, yang akan membuat 400 ton, kalau memang rencananya terbukti, akan dipenuhi oleh PT Dahana, plus kita mencari 100 ton lagi ke luar," kata Ade, Selasa 8 Mei 2018.

Paban V Sren Kasad, Kol CHB IGN Wisnu Wardana mengatakan, pihaknya berharap kebutuhan amunisi TNI bisa terealisasi oleh produksi dalam negeri. Untuk setiap tahunnya, TNI membutuhkan 318 juta butir amunisi.

"Untuk kebutuhan amunisi kita berharap semua bisa dipenuhi dalam negeri. Karena kita lihat dari pengalaman kemarin, kalau misalnya mengandalkan produksi dari luar negeri, banyak hal yang kita hadapi permasalahannya, yang tidak bisa kita selesaikan dalam satu tahun anggaran," kata Wisnu.

"Produksi dalam negeri bisa mendukung kebutuhan TNI, kebutuhan kita 318 juta butir," dia menambahkan.

Di tempat yang sama, Direktur Utama PT Dahana Budi Antono mengatakan, pemerintah telah menugaskan untuk membuat dan memproduksi propela. Pembuatan amunisi tersebut, akan dilakukan di Subang.

"Pabriknya nanti di Subang. Jadi Dahana punya tanah 600 hektar, dan nanti bahan peldak komersial dan bahan propelan dibuat di Subang," kata Budi. (Aditya Prakasa)

 

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓