Sri Mulyani Harap Forum IMF-World Bank Tak Terganggu Erupsi Gunung Agung

Oleh Merdeka.com pada 03 Jul 2018, 12:36 WIB
Kompak Kenakan Selendang, Bos IMF dan Sri Mulyani Buka Konferensi Internasional

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berharap erupsi Gunung Agung tidak berdampak pada penyelenggaraan pertemuan tahunan International Monetary Fund (IMF) dan World Bank (Bank Dunia) yang berlangsung di Bali pada Oktober mendatang. Dia berharap pertemuan akbar tersebut tetap dapat dilakukan dengan lancar.

"Itu natural ya, alami. Kami tetap berharap dalam pelaksanaan dan persiapan akan tetap bisa dilakukan. Meskipun kami sudah sadar dan IMF sadar ini adalah faktor yang alami," ujarnya di Le Meredien, Jakarta, Selasa (3/7/2018).

Untuk diketahui, Gunung Agung kembali erupsi malam tadi, Senin (2/7/2018) malam. Berdasarkan pantauan dari Pos Pengamatan, tinggi kolom abu yang teramati 2.000 meter di atas puncak Gunung Agung. Erupsi terjadi pada pukul 21.04 WITA.

"Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas sedang condong ke arah barat. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 24 mm dan durasi 7 menit 21 detik," kata Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui keterangan tertulis.

Laporan PVMBG menyebutkan erupsi terjadi secara strombolin dengan suara dentuman. Lontaran lava pijar teramati ke luar kawah mencapai jarak 2 kilometer.

Saat ini, Gunung Agung berada pada status Siaga atau level III. PVMBG mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Agung dan pendaki, pengunjung, wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apa pun di zona perkiraan bahaya yaitu di seluruh areal di dalam radius 4 kilometer dari kawah puncak Gunung Agung.

Zona perkiraan bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung Agung yang paling aktual atau terbaru.

"Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di areal puncak," sebut PVMBG.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com