Perang Dagang AS-China Jadi Peluang RI Buat Kembangkan Pasar

Oleh Merdeka.com pada 22 Jun 2018, 14:53 WIB
Capaian Ekspor - Impor 2018 Masih Tergolong Sehat

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan Indonesia terus mengikuti perkembangan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) AS dan China. Ia Ingin agar Indonesia bisa mengambil kesempatan dari perang dagang tersebut.

"Kita mengikuti terus, proses ini karena kebijakan atau hal itu, bisa berubah setiap saat. Dalam situasi ini, kita akan berhati-hati, tapi kita tidak diam. Kita lihat sebagai peluang untuk mengisi kekosongan itu. Kalau toh terjadi pengenaan bea masuk yang tinggi di antara kedua negara itu, maka kita akan coba masuk," ungkapnya ketika ditemui, di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (22/6/2018).

Ia mengakui pihaknya sudah menjalin komunikasi dengan Pemerintah China terkait kemungkinan kerja sama perdagangan antara kedua negara.

"Kami akan melakukan pertemuan dengan beberapa pertemuan bilateral dengan beberapa negara termasuk dengan China. Membahas kemungkinan yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan ekspor," jelasnya.

Indonesia, kata dia, punya cukup banyak produk yang bisa ditawarkan kepada China, dalam kerja sama perdagangan. Selain itu, China dalam beberapa pertemuan mengaku berminat terhadap beberapa jenis produk dari Indonesia.

"Ada banyak sekali produk. Kan kita sekarang sudah mendapatkan tambahan kuota pertemuan bapak presiden dengan PM Tiongkok itu, penambahan kuota minimum 500 ribu ton untuk CPO kita. Kemudian juga kita lihat dengan tekstil, garmen," kata dia.

"Waktu pertemuan dengan duta besar beberapa waktu sesudah PM ketemu presiden, menindaklanjuti permintaan mereka yang impor jeruk, kita sudah dapat 500.000 ton. Sarang burung walet kita diberikan lebih dibuka lagi, manggis, pisang, salak, saya lagi usahakan nanas supaya bisa," tandasnya.

Reporter: Wilfridus Setu Embu 

Sumber: Merdeka.com

2 of 2

Dampak Perang Dagang ke Rupiah

Capaian Ekspor - Impor 2018 Masih Tergolong Sehat
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (25/5). Kenaikan impor dari 14,46 miliar dolar AS pada Maret 2018 menjadi 16,09 miliar dolar AS (month-to-month). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi terus melemah pada pekan ini. Pelaku pasar memantau pergerakan mata uang Garuda dengan bayang-bayang menuju level Rp 13.950 per dolar AS.

Kurs tengah Bank Indonesia dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah berada di posisi 13.902 per dolar AS pada perdagangan hari ini (20/6/2018).

Research Analyst FXTM Lukman Otunuga mengungkapkan, dolar AS menekuk seluruh mata uang negara berkembang, termasuk kurs rupiah. Menurutnya, rupiah berpotensi melemah pekan ini apabila dolar AS terus menguat dan sentimen risiko memburuk karena situasi perdagangan global.

"Rupiah terancam terus melemah pekan ini karena masalah perdagangan menggerus selera pada mata uang berisiko. Pasar akan memantau apakah apresiasi dolar AS membuat rupiah bergerak menuju 13.950," ujar Lukman dalam ulasannya di Jakarta, Rabu ini.

Ia menjelaskan, hubungan atau situasi perdagangan antara AS dan China semakin tegang. Kondisi perang dagang ini menambah kegelisahan pasar dan memperburuk situasi untuk pasar negara berkembang.

Belum lagi prospek kenaikan suku bunga AS, diakuinya dapat memicu kekhawatiran arus modal keluar dari pasar berkembang. Akan tetapi, masalah perdagangan global juga menjadi risiko besar.

"Ketegangan perdagangan dapat menimbulkan kekhawatiran pada memburuknya proteksionisme global yang berdampak negatif pada pertumbuhan pasar berkembang. Karena itu, mata uang dan saham pasar berkembang dapat semakin melemah," terang Lukman.

Lebih jauh ia menilai, ancaman dari Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif baru terhadap China membuat pasar keuangan bergejolak dan investor pun waspada.

Trump membuat perkembangan mengejutkan dengan menyampaikan rencananya untuk memberlakukan tarif pada barang China senilai USD 200 miliar lagi.

Tindakan ini, diakui Lukman, dapat memperburuk hubungan perdagangan AS dan China dan memicu kekhawatiran terjadinya perang dagang global.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓