Pemerintah dan DPR Sepakati Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2019

Oleh Liputan6.com pada 05 Jun 2018, 14:54 WIB
Diperbarui 07 Jun 2018, 14:13 WIB
2018, Menko Perekonomian Patok Pertumbuhan Ekonomi Harus 5,4 Persen

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyepakati asumsi ekonomi makro yang akan dimasukkan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) atau RAPBN 2019.

Perwakilan pemerintah yang hadir adalah Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri PPN Bambang Brodjonegoro, Gubernur Bank Indonesia Perry Wardjiyo dan Kepala BPS Kecuk Suhariyanto. 

Dalam rapat lanjutan yang digelar 2 jam tersebut memutuskan, pemerintah akan memasukkan pertumbuhan ekonomi dalam asumsi makro 2019 sebesar 5,2 hingga 5,6 persen. Pertumbuhan ekonomi tersebut merupakan angka yang diajukan Bank Indonesia dan sedikit turun dibandingkan nilai yang diajukan oleh Kementerian Keuangan sekitar 5,4 -5,8 persen.

"Kami sepakat asumsi pertumbuhan ekonomi 2019 mengikuti sasaran yang telah ditetapkan Bank Indonesia, yakni 5,2 sampai 5,6 persen. Karena, konsumsi rumah tangga masih harus diperkuat di atas 5 persen," ujar Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati di Gedung DPR-MPR, Jakarta, Selasa (5/6/2018).

Rapat juga menyetujui asumsi inflasi di RAPBN 2019 pada kisaran 2,5 hingga 4,5 persen atau berada dalam kisaran yang telah ditetapkan Kemenkeu dan BI.

Sedangkan nilia tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditetapkan pada kisaran Rp 13.700 hingga Rp 14.000 per USD.  Selanjutnya, asumsi makro RAPBN 2019 juga menetapkan Suku Bunga SPN tiga bulan berada pada rentang 4,6 sampai 5,2 persen. Tingkat pengangguran terbuka ditargetkan sekitar 4,5 sampai 5,2 persen.

Tingkat kemiskinan sekitar 8,5 sampai 9,5 persen sedikit menurun dibandingkan dengan target tahun ini sebesar 9,5 sampai 10 persen. Untuk gini ratio atau kesenjangan berkisar antara 0,38 sampai 0,39 dan indeks pembangunan manusia sebesar 71,98.

 

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

2 of 2

Pertumbuhan Ekonomi pada 2019

2018, Menko Perekonomian Patok Pertumbuhan Ekonomi Harus 5,4 Persen
Pemandangan gedung bertingkat di Jakarta, Sabtu (28/4). Pemerintah menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di angka 5 persen belum memadai. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yakin pertumbuhan ekonomi 2019 berada pada kisaran 5,4 hingga 5,8 persen. Hal tersebut dengan mempertimbangkan kondisi pertumbuhan komponen perekonomian saat ini seperti konsumsi, ekspor dan investasi.

Sri Mulyani menjelaskan, 2018 konsumsi terus bergerak. Pada kuartal I 2018, konsumsi tercatat sebesar 4,59 persen. "Sesuai dengan APBN 2018, range ini disebabkan karena sisi faktor demand atau permintaan itu menunjukkan adanya suatu pergerakan. Konsumsi kuartal I sebesar 4,95 persen," ujarnya di Gedung DPR-MPR, Jakarta, Selasa 5 Juni 2018.

Angka pertumbuhan ekonomi tersebut masih perlu terus didorong terutama untuk masyarakat menengah ke atas yang cenderung masih menahan konsumsi. Sementara masyarakat kalangan bawah, masih terjaga sebab pemerintah terus menyalurkan berbagai program bantuan.

"Dengan angka itu, kita perlu mendorong konsumsi. Terutama adalah kelompok konsumsi masyarakat menengah keatas. Karena untuk kelompok bawah mereka mendapat program dari pemerintah sehingga mereka memiliki pertumbuahn konusmis rumah tangga pada 20 bahkan 40 persen ke bawah relatif meningkat," ujar dia.

Selanjutnya dari sisi investasi, Sri Mulyani mengatakan, peningkatan investasi swasta terutama pada manufaktur maupun primer dan jasa yang memiliki keterkaitan cukup pada industri kimia, industri makanan dan minuman dan sektor primer masih akan tumbuh positif.

"Pertumbuhan investasi yang disampaikan kuartal I sebesar 7,9 persen kita berharap secara tahunan bisa pada 7 persen. Apabila seluruh tahun bisa bertahan diatas 7 persen maka kita mendapat pe 5,2-5,4 persen. Range kami investasi adalah 7,27 sampai 7,54 persen," jelasnya.

Terakhir, ekspor juga menunjukkan perbaikan. Meskipun dalam beberapa waktu terakhir terdapat pergeseran antara impor dan ekspor, pemerintah yakin berbagai insentif yang diberikan terhadap pengusaha bisa menggerakan roda ekspor hingga akhir tahun.

"Ekspor dalam hal ini diperkirakan sama dengan kuartal I yaitu 6,75 sampai 7,18 persen. Tentu tantangan kita adalah memperluas pangsa ekspor dan growth pertumbuhan ekspor itu serta memperluas diversifikasi produk yang ekspor. Kami menganggap jika pertumbuhan ekspor bisa dipertahankan di 7 persen seperti yang di kuartal I ini juga merupakan sesuatu yang baik dan perlu ditingkatkan," kata dia.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓