Dana Investor Asing Serbu Surat Utang Pemerintah RI

Oleh Liputan6.com pada 05 Jun 2018, 14:43 WIB
Diperbarui 07 Jun 2018, 14:13 WIB
IHSG Berakhir Bertahan di Zona Hijau

Liputan6.com, Jakarta - Arus dana investor asing atau capital inflow ke Indonesia mencapai Rp 13 triliun. Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengatakan, aliran dana itu masuk usai kenaikan BI 7-Days Reverse Repo Rate atau suku bunga acuan menjadi 4,75 persen.

Dana investor asing tersebut mulai masuk sejak 24 Mei 2018. "Kalau perhitungan kami sudah Rp 13 triliun sejak 24 Mei itu inflow masuk khususnya ke surat berharga negara dan ini menambah confidence ke pasar," ujar dia di Gedung DPR-MPR, Jakarta, Selasa (5/6/2018).

Perry mengatakan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) per hari ini mulai menunjukkan penguatan Rp 13.868 per USD dari angka tempo hari pada 23 Mei 2018 hampir tembus Rp 14.400 per dolar AS. 

Perry mengatakan, pemerintah melalui Kementerian Keuangan juga terus melakukan langkah intervensi untuk menarik dana yang sempat keluar. Salah satunya melalui lelang. 

"Pemantauan kami sejak 24 Mei inflow sudah mulai masuk terutama inflow ke SBN sudah mulai masuk dan itu menambah pasokan di pasar valas. Dan alhamdulillah Bu Sri Mulyani (Menteri Keuangan) juga melakukan lelang dan pemenangan lelang makin tinggi," kata dia.

Perry menambahkan, bank sentral bersama pemerintah akan terus menjaga nilai tukar rupiah. Bersamaan dengan hal tersebut, Bank Indonesia juga akan turut serta mendorong pertumbuhan ekonomi melalui berbagai instrumen. 

"Kemarin kami lakukan kenaikan suku bunga memang untuk mengembalikan stabilitas nilai tukar dan alhamdulillah sekarang nilai tukar relatif stabil, tapi kami juga pastikan bahwa empat instrumen yang lain bisa mendorong pertumbuhan ekonomi," ujar dia. 

 

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

2 dari 2 halaman

Kenaikan Suku Bunga Acuan BI Tarik Investor Asing Masuk ke RI

IHSG Berakhir Bertahan di Zona Hijau
Tumpukan uang kertas pecahan rupiah di ruang penyimpanan uang "cash center" BNI, Kamis (6/7). Tren negatif mata uang Garuda berbanding terbalik dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mulai bangkit ke zona hijau. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mengaku pasar sudah memprediksi jika Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suka bunga acuan. Kebijakan ini dinilai akan menarik masuk investor asing ke pasar domestik.

"Ini sudah diprediksi, makanya sebagai suatu penyesuaian, masuk dong asing ini. Ini kan mengharapkan modal asingnya tidak jadi lari karena yield kita tinggi. Moga-moga begitu, dan menurut saya ini kejadian," ujar dia di Gedung BEI, Kamis 31 Mei 2018.

Tito menambahkan kenaikan suka bunga acuan BI juga akan mempengaruhi keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) dalam melakukan rebalancing terhadap daftar emiten di indeks tersebut pada hari ini.

"Jadi kalau kamu lihat bursa pada 31 Mei hari ini, ini ada rebalancing dari MSCI. Selalu kejadian akan bergejolak hari ini. Walaupun invesment Exchange Traded-Fund (ETF) daripada indonesia di EIDO meningkat 2 persen, tapi yang pasti ini menarik, saham akan bergejolak, ini menarik," ujarnya.

Kata Tito, pasca rebalancing oleh MSCI tersebut baru kemudian bisa diketahui emiten mana saja yang tetap berada pada indeks serta emiten mana yang akan dikeluarkan oleh MSCI.

"Theoritically yes, mereka memang mau balancing hari ini. Dan saham apa saja yang dikeluarkan oleh MSCI, nanti bisa dilihat sendiri," tegasnya.

"Tapi kalau dilihat tahun lalu 31 Mei ini MSCI ditutup positif. Untuk hari ini belum tahu karena kan banyak kejadian di luar negeri selain MSCI, ada EIDO, bunga yang meningkat dan sebagainya," tandas dia.

Bank Indonesia memutuskan untuk menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,75 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps juga menjadi 5,50 persen.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓