Pemerintah Harus Bujuk China Bangun Pabrik Baterai Mobil Listrik di RI

Oleh Septian Deny pada 30 Mei 2018, 13:26 WIB
Diperbarui 01 Jun 2018, 13:13 WIB
Mobil listrik

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah diharapkan bisa menarik produsen baterai asal China untuk membangun pabrik di Indonesia. Hal ini guna memuluskan pengembangan mobil listrik di dalam negeri.

Pendiri Asosiasi Perusahaan Pengelohan dan Pemurnian Indonesia (APPI) Jonatan Handojo mengatakan, saat ini bahan baku dan teknologi baterai, termasuk baterai untuk mobil listrik dikuasai oleh China. Salah satunya nikel yang merupakan bahan baku baterai untuk kendaraan tersebut.

‎"Ini dikuasai oleh China. Ini yang menjadi persoalan. Ketika kita ingin membuat baterai mobil listrik sendiri, cari bahan bakunya nikel harus 100 persen murni, harus beli dari China," ujar dia di Kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Jakarta, Rabu (30/5/2018).

Jonatan mengungkapkan, sebenarnya Indonesia memiliki sumber daya nikel yang cukup melimpah. Namun sayangnya, Indonesia belum menguasai teknologi pengembangan baterai berbahan baku nikel.

"Meski kita punyanya Vale. Itu barang dari Sulawesi Tengah dikirim ke Jepang, kadar nikelnya 78 persen. Di Jepang diolah, nikelnya tidak diambil, tapi komponen lain yang lebih mahal, namanya mineral tanah jarang. Nikelnya dikirim ke China, dimurnikan untuk menjadi 100 persen. Karena dia punya limbah bukan B3, tapi B12, lebih pekat racunnya. Jadi nikel 100 persennya bisa beli dari China," jelas dia.

 

 

2 of 2

Bahan Baku Diborong China

Mobil listrik
Ilustrasi mobil listrik sedang mengalami pengisian daya baterai di Amsterdam, Belanda. (Sumber Flickr/lhirlimann)

Selain nikel, bahan baku baterai lain seperti kobalt dan lithium juga dikuasai China. Dengan posisi seperti ini, semakin sulit bagi Indonesia memproduksi sendiri baterai untuk mobil listrik di dalam negeri.

‎"Kobalt, tidak ada di Indonesia. Adanya di Afrika Barat. Seluruh kobalt di Afrika Barat sudah di booking oleh China. Sekarang tinggal lithium. Ini juga seluruhnya di-booking oleh China. Semua China. Jadi China ini sudah menjadi produsen yang luar biasa untuk produk baterai, baik lithium maupun nikel," kata dia.

Jonatan mengatakan, APPI telah melaporkan hal ini kepada Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. Agar program pengembangan mobil listrik ini tetap bisa berjalan secara efisien, maka mau tidak mau Indonesia harus mengundang produsen baterai China untuk membangun pabriknya di dalam negeri.

"Arahan Pak Menteri, bawa saja pabrik-parik China suruh dibangun di Indonesia, kerja sama dengan swasta di sini untuk membuat baterai di Indonesia. Karena bahan baku dan teknologinya sudah dikuasai China. Kita mau tidak mau bersahabat dengan China. Sistem kerja samanya dia bikin di sini, kita beli untuk membantu perakitan mobil-mobil listrik di sini. Kita tidak bisa menjadi produsen baterai secara utuh," tandas dia.

Lanjutkan Membaca ↓