Serge Dassault, Miliarder Prancis Pemilik Kerajaan Jet Tempur Tutup Usia

Oleh Bawono Yadika pada 30 Mei 2018, 04:00 WIB
Diperbarui 01 Jun 2018, 03:13 WIB
Dassault Rafale. (istockphoto.)

Liputan6.com, Jakarta - Serge Dassault, seorang CEO dari Dassault Group, konglomerat industri penerbangan dan juga miliarder Prancis ini resmi tutup usia pada Senin 28 Mei 2018 kemarin. Dassault diketahui meninggal di usianya yang kini menginjak ke-93 tahun. 

Mengutip CNN Money, Selasa (30/5/2018), Dassalt merupakan salah satu orang terkaya di Perancis. Total harta kekayaanya bahkan diprediksi oleh Forbes mencapai sekitar USD 26 miliar atau Rp 363 triliun (1 USD= 13.966). 

Kabar meninggalnya miliarder ini diumumkan langsung dari keluarga Dassalt yang menyatakan bahwa pria berusia 93 tahun tersebut terkena serangan jantung. Sebagai pelaku bisnis, Dassault juga diketahui termasuk dalam salah satu orang yang berpengaruh di Prancis. 

Sebagai informasi saja, Dassault melanjutkan pengembangan bisnis perusahaan dari sang ayah Marcel Dassault yaitu Groupe Dassault, yakni sebuah perusahaan yang bergerak di penerbangan dan mempekerjakan 18 ribu karyawan didalamnya.

Dengan ini, Dassault sekaligus mencatatkan dirinya sebagai tokoh penerbangan dunia, yakni seseorang yang berhasil menciptakan pesawat tempur terkenal yaitu seperti 2000 dan Rafale. 

Tak hanya dikenal sebagai miliarder dan tokoh penerbangan dunia, Dassault juga merupakan seorang politisi handal. Memiliki perjalanan karier sebagai politikus, Dassault ialah senator yang terkenal akan pandangan konservatifnya. 

2 dari 2 halaman

Meringkuk di Penjara Selama Perang Dunia ke-2

New Dassault Falcon 8X terbang di Paris Air Show 2017. (istockphoto.)
New Dassault Falcon 8X terbang di Paris Air Show 2017. (istockphoto.)

Serge Dassault merupakan miliarder kaya kelahiran 4 April 1925. Dia merupakan anak kedua dari Marcel Dassault yang kemudian mewarisinya perusahaan besar Dassault Group. Keluarganya merupakan kaum Yahudi yang bertempat tinggal di Paris, Prancis.

Sayangnya, masa remaja Dassault tidak secerah masa dewasanya. Saat baru berusia remaja sekitar 14 tahun, Dassault harus menerima kenyataan pahit dan meringkuk di penjara selama perang dunia ke-II. Ibunya tetap berada di Paris dan bekerja di sebuah perusahaan di sana.

Sementara itu, ayahnya dikirim ke kamp konsentrasi Nazi Buchenwald karena menolak bekerjasama dengan Jerman di bidang industri penerbangan. Buchenwald didirikan di Ettersberg dekat Weimar, Jerman pada Juli 1937.

Sang ayah diketahui pindah keyakinan dari Yahudi pada 1950. Usai perang benar-benar usai, ayahnya mengganti nama menjadi Bloch dan mendirikan sejumlah bisnis manufaktur. Ayah Dassault juga mengembangkan kembali bisnis penerbangan yang didirikannya sejak 1914.

Terima warisan perusahaan penerbangan dari sang ayah

Sepeninggal sang ayah, Serge Dassault menjadi pewaris tunggal perusahaan penerbangan milik sang ayah Dassault Aviation. Dia lalu memperluas bisnisnya dan mendirikan Dassault Group.

Berperan sebagai pimpinan sekaligus CEO Dassault Group, Dassault berhasil mengakuisisi sejumlah perusahaan di bidang media, mesin pesawat dan perangkat lunak (software).

Grup hasil pengembangan dari perusahaan warisan ayahnya tersebut memproduksi pesawat sendiri seperti Mirage dan Ragale Jet. Tak hanya itu, perusahaan milik generasi Dassault ini juga memiliki outlet berita Le Figaro, aeronotika dan peralatan ruang angkasa serta pertahanan untuk perusahaan penerbangan di Belgia, SABCA.

Di bidang penerbangan sendiri, Dassault Group memiliki lima anak perusahaan yaitu, Dassault Aviation, Dassault Falcon Jet, Dassault Falcon Service, Sogitec dan SABCA. Bisnisnya tersebar di banyak negara dengan jumlah karyawan mencapai 18.016 orang saat ini.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓