Dana Terhimpun di Pasar Modal Capai Rp 61 Triliun sampai Mei 2018

Oleh Liputan6.com pada 28 Mei 2018, 16:00 WIB
Kepala OJK Wimboh Santoso

Liputan6.com, Jakarta Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso mengatakan penghimpunan dana di pasar modal mencapai Rp 61 triliun hingga 21 Mei, dengan jumlah emiten baru 16 perusahaan.

"Dan pertumbuhan ini lebih tinggi dari periode sama tahun lalu, dan ini strategi untuk pembiayaan jangka menengah dan panjang. Ini penting supaya perbankan tidak terlalu mendapatkan kendala dalam pembiayaan jangka panjang," kata Wimboh di Gedung Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta, Senin (28/5/2018).

Wimboh mengungkapkan, dalam tahun ini saja, sudah ada 58 perusahaan yang melakukan penawaran umum di pasar modal, dengan total nilai indikatif sebesar Rp 66,35 triliun.

"Dan ini kemungkinan masih bisa bertambah dengan berjalannya waktu. Tahun lalu kita bisa mencapai di atas Rp 150 triliun. Total dana kelolaan investasi atau reksadana meningkat dan telah mencapai Rp 739,71 triliun," jelas dia.

Wimboh memastikan, OJK akan terus mendorong pendalaman pasar keuangan dengan memfasilitasi penerbitan obligasi baik korporasi maupun obligasi daerah.

"Dan juga adanya sekuritisasi aset, sehingga perusahaan korporasi akan lebih mudah mendapatkan pendanaan dari pasar modal," jelas dia.

OJK, kata dia, juga berkomitmen tetap menjaga stabilitas sektor jasa keuangan dengan memelihara kesehatan industri, memperkuat permodalan emiten.

 Reporter: Yayu Agustini Rahayu

Sumber: Merdeka.com

2 of 2

Likuiditas Besar, OJK Dorong Perbankan Rajin Salurkan Kredit

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yakin pertumbuhan kredit industri perbankan di tahun ini bakal sesuai target. Salah satu pendukung keyakinan tersebut adalah kesiapan likuiditas dari perbankan. 

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, likuiditas perbankan Indonesia saat ini mencapai Rp 618 triliun.

"Industri perbankan punya likuiditas yang lebih yang mencapai Rp 618 triliun. Jadi ini yang bisa dipergunakan untuk membiayai pertumbuhan kredit dan sebagainya," kata Wimboh, di Gedung Kementerian Keuangan RI, Senin (28/5/2018).

Dengan besarnya likuditas tersebut, Wimboh meminta perbankan untuk lebih aktif dalam pemberian kredit sebab angka CAR (rasio kecukupan modal) saat ini juga sudah jauh diatas batas minimum.

"Dengan ukuran CAR 20,38 persen ini jauh di bawah minimum yang dipersyaratkan di aturan internasional, sehingga kita ini mempunyai ruang yang cukup luas untuk memberikan peran serta dalam mendukung pemberian kredit," ujarnya.

Sementara itu, di sisi intermediasi sampai April, kinerja sektor jasa keuangan terus mencatatakan kinerja yang positif.

"Sebagaimana ditunjukkan kredit perbankan yoy sudah mencapai 8,94 persen, ini lebih tinggi dari yoy 2017. Dan untuk perusahaan pembiayaan itu sebesar 6,36 persen yoy, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh 8,06 persen yoy," ujarnya.

Selain itu, premi asuransi jiwa dan umum juga mengalami pertumbuhan masing-masing 38,44 persen dan 18,61 persen yoy. "Asuransi umum 310 persen dan asuransi jiwa 450 persen, dan ini minimum dari 120 persen."

"OJK akan tetap melakukan pengawasan sektor jasa keuangan agar masih bisa tetap sehat dan mampu mendukung adanya pertumbuhan pembiayaan termasuk kredit." tutup dia.

Reporter: Yayu Agustini Rahayu

Sumber: Merdeka.com

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait