Hindari Penipuan, OJK Minta Masyarakat Selektif Pilih Jasa Gadai

Oleh Liputan6.com pada 25 Mei 2018, 16:00 WIB
Diperbarui 27 Mei 2018, 15:13 WIB
Jelang Lebaran, Transaksi Gadai Meningkat 15 Persen

Liputan6.com, Jakarta - Bulan Ramadan membawa berkah bagi usaha gadai di Indonesia. Bagaimana tidak? Selama Ramadan dan menjelang Lebaran, tren yang terjadi di kalangan masyarakat adalah ramai-ramai menggadaikan barang untuk menambah penghasilan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta masyarakat untuk selektif dalam memilih jasa gadai barang, terutama jasa gadai swasta.

Deputi Komisioner Industri Keuangan Non Bank (IKNB) OJK, M. Ichsanuddin meminta masyarakat untuk teliti sebelum menggadaikan barang berharga. Sarannya, pilihlah jasa gadai yang sudah terdaftar di OJK. 

"Harus bisa bedakan. Yang sudah terdaftar itu ada semacam stiker, atau papan. Di situ tertera tanggal pengesahannya oleh OJK," ungkapnya ketika ditemui, di Gedung OJK, Jakarta, Jumat (25/5/2018).

Jika terjadi hal yang tidak diinginkan, seperti penipuan terjadi, maka kata Ichsanuddin tentu akan merugikan masyarakat sendiri.

"Kalau ada kejadian (penipuan jasa gadai), risiko ya ditanggung masyarakat sendiri," tandasnya.

 

Reporter : Wilfridus Setu Embu

Sumber : Merdeka.com

2 of 2

Ramai-Ramai Gadai Emas Jelang Bulan Puasa dan Lebaran

Jelang Lebaran, Transaksi Gadai Meningkat 15 Persen
Petugas melayani warga saat transaksi di pegadaian di Jakarta, Kamis (15/6). Meningkatnya kebutuhan masyarakat jelang Lebaran membuat banyak orang menggadaikan barang berharga guna memenuhi kebutuhan yang mendesak. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Bulan Ramadan membawa berkah bagi bisnis gadai. Biasanya permintaan pembiayaan dari gadai naik saat bulan puasa dan Lebaran. PT Pegadaian (Persero) menyatakan, bisnis gadai emas masih menjadi andalan perseroan selama periode tersebut. 

"Tren produk menjelang Ramadan itu tetap emas. Kita 90 persen masih emas, tetapi kita akan perbanyak jenis barangnya," ungkap Direktur Utama Pegadaian Sunarso di kantor cabang Pegadaian Kebayoran Baru, Jakarta, pada 17 April 2018. 

Dia menjelaskan biasanya masyarakat memanfaatkan momen jelang lebaran untuk mencari tambahan pendapatan dengan menggadaikan atau gadai emas.

"Awal bulan puasa, untuk modal (usaha) biasanya. Itu bukti bahwa bisnis pergadaian mendukung bisnis, bukan melulu orang kepepet ke Pegadaian. Bulan puasa kalau demand-nya makanan minuman naik, maka butuh modal kerja, dan mereka ke Pegadaian," ujar Sunarso. 

Lebih jauh Sunarso berharap kondisi perekonomian yang mulai membaik dapat turut mendongkrak bisnis gadai tahun ini.

"Ya kami berharap tahun ini lebih bagus ya, tahun ini kan kalau kita bisnis mulai mengeliat, harga komoditas naik, harga minyak naik. Kalau harga minyak naik, itu bisa baik juga lho, karena harga komoditas naik memicu pertumbuhan," ujarnya. 

Selain itu, Sunarso bilang perseroan bakal terus mendorong pertumbuhan bisnis nongadai, seperti kredit mikro nongadai, bisnis perhotelan, dan penjualan emas. Sebab, potensi pengembangan bisnis non-gadai masih cukup besar. Saat ini perbandingan porsi bisnis gadai dan non-gadai adalah 90:10.

"Kemarin (2017) outstanding pembiayaan Rp 36,9 triliun. Yang nongadai baru Rp 3,5 triliun. Artinya Pegadaian masih punya potensi yang besar untuk meningkatan bisnis non-gadai, baru sekitar 10 persen," katanya.

Dia mengungkapkan, Pegadaian menargetkan pada akhir 2023 , porsi antara bisnis gadai dan nongadai akan menjadi 50:50.

"Jadi kalau gadai kita ingin tumbuh dua kali lipat selama lima tahun, kalau non-gadai kita ingin empat kali lipat dalam lima tahun, jadi (bisnis non-gadai) harus dua kali lipat, infrastrukturnya lagi kita siapkan," ujar dia.

"Akhir tahun nanti kita ingin (perbandingan) 86 persen gadai, 14 persen nongadai. Nanti di 2023, Pegadaian ingin 50:50," tandas Sunarso.

 

Reporter : Wilfridus Setu Embu

Sumber : Merdeka.com

Lanjutkan Membaca ↓