Menperin Buka-bukaan soal Pengembangan Mobil Ramah Lingkungan

Oleh Septian Deny pada 23 Mei 2018, 10:15 WIB
Diperbarui 25 Mei 2018, 09:13 WIB
Tiga Menteri Hadiri Hibah 10 Mobil Listrik Ramah Lingkungan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu pengembangan kendaraan berbahan bakar ramah lingkungan, seperti mobil listrik. Bahkan, pemerintah tengah menyiapkan peta jalan (roadmap) serta payung hukumnya berupa peraturan pemerintah (perpres).

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan, ada tiga jenis kendaraan masa depan yang akan beredar secara masif di jalan-jalan seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Ketiga jenis kendaraan tersebut, yaitu hybrid, plug in hybrid dan electric vehicle, atau biasa disebut dengan mobil listrik.

Untuk jenis hybrid atau mobil yang menggabungkan tenaga bensin dan baterai listrik, dengan sistem pengisian baterai yang masih mengandalkan perputaran mesin oleh yang digerakan oleh bensin.

Kendaraan jenis ini telah diproduksi secara massal oleh sejumlah produsen otomotif besar. Mobil tersebut juga telah beredar di Indonesia meski harganya lebih mahal dibandingkan mobil yang murni berbahan bakar bensin.

Kemudian masuk ke tahap selanjutnya, yaitu jenis plug in hybrid, yang merupakan pengembangan dari kendaraan hybrid dengan ditambah kemampuan untuk mengisi baterai listriknya dari luar melalui colokan listrik.‎

Saat ini sejumlah produsen otomotif besar seperti Mitsubishi maupun Toyota tengah melakukan kajian pengembangannya dengan menggandeng sejumlah pihak di Indonesia.

‎"Plug in hybrid, itu sedang studi oleh Mitsubishi dengan beberapa kementerian. Kemudian Toyota juga akan melakukan studi. Ini akan melibatkan UI, UGM, ITS dan ITB. Ini akan mempelajari berbagai tipe," ujar dia di Kawasan Widya Chandra, Jakarta, seperti ditulis Rabu (23/5/2018).

Selain kedua jenis tersebut, Kemenperin juga tengah mendorong pengembangan kendaraan electric vehicle murni dengan baterai. Airlangga menyatakan Indonesia mempunyai bahan baku dari alam yang dibutuhkan untuk pengembangan mobil listrik.

"Kemenperin sendiri telah mendorong, ke depan teknologi electric vehicle itu bahan bakarnya bisa baterai, bisa ke depan lagi yang namanya fuel cell. Salah satu kuncinya adalah di teknologi saving energy atau baterai. Indonesia punya satu komponen penting, yaitu nikel murni," kata dia.

Saat ini, lanjut Airlangga, sejumlah investor telah tertarik untuk memproduksi nikel murni di Indonesia. Adapun dua daerah yang potensi menghasilkan komoditas tersebut, yaitu Morowali di Sulawesi Tengah dan Halmahera di Maluku Utara.

"Nikel murni ini akan bisa diproduksi. Sudah ada rencana investasi di Morowali ataupun di Halmahera. Dengan demikian, ada satu komponen lagi yang namanya kobalt. Itu ada di pulau Bangka yang diekstrak dari timah atau nikel. Jadi dengan dua itu, teknologi baterai kita kuasai dulu, baru kemudian kita bergeser (dari bensin ke listrik)," jelas dia.

 

2 of 2

Jauh Lebih Mahal

Tiga Menteri Hadiri Hibah 10 Mobil Listrik Ramah Lingkungan
CEO Mitsubishi Motors Osamu Masuko foto bersama Menperin Airlangga Hartarto saat penyerahan 10 mobil listrik kepada pemerintah di Jakarta, Senin (26/2). Hibah tersebut untuk mendorong penggunaan kendaraan ramah lingkungan. (Liputan6.com/JohanTallo)

Namun yang masih menjadi persoalan, kata Airlangga, komponen kendaraan listrik masih jauh lebih mahal dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin. Oleh sebab itu, mobil berbahan bakar bensin ini tidak akan dihapus seluruhnya.

"Persoalannya tentu jumlah komponen dari electric vehicle jauh lebih kecil dari pada komponen motor bakar. Dan dalam roadmap kita, kita memang tidak menghapuskan semua motor bakar," ucap dia.

Menurut Airlangga, meski tetap menggunakan bahan bakar minyak, penggunaan energi yang bersumber dari fosil seperti bensin bisa digantikan dengan sumber energi terbarukan (renewable energy).

Saat ini, lembaga penelitian asal Jerman, Fraunhofer, dan perguruan tinggi asal Jepang, Tsukuba University, tengah mengembangkan energi yang berasal dari limbah cair sawit atau Palm Oil Mill Waste dan budi daya ganggang.

"Jadi, kalau sejarah mengatakan fosil fuel adalah ganggang yang ditekan di dalam bumi ratusan tahun. ‎Nah, proses ini di-bypass dengan teknologi, sehingga kita menghasilkan potensi minyak lagi,"‎ tutur dia.

Dengan beragam sumber daya alam yang dimiliki Indonesia, bukan tidak mungkin nantinya kendaraan yang selama ini mengandalkan bahan bakar fosil perlahan akan tergantikan oleh bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.

"Ini yang mendorong sebetulnya internal combustion engine yang renewable juga bisa terjadi," tandas dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓