Aksi Jual Investor Asing Capai Rp 36,85 Triliun di Pasar Saham

Oleh Agustina Melani pada 09 Mei 2018, 08:15 WIB
Diperbarui 11 Mei 2018, 08:13 WIB
20151102-IHSG-Masih-Berkutat-di-Zona-Merah-Jakarta

Liputan6.com, Jakarta - Aksi jual investor asing masih melanda pasar saham Indonesia hingga awal Mei 2018. Sentimen eksternal dengan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) menguat dan potensi defisit neraca transaksiberjalan Indonesia melebar jadi perhatian pelaku pasar terutama investor asing.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), seperti ditulis Rabu (9/5/2018), investor asing lepas saham Rp 36,85 triliun sepanjang tahun berjalan 2018. Pada perdagangan saham Selasa 8 Mei 2018, aksi jual investor asing Rp 180 miliar.Jumlah itu terbatas dari periode perdagangan Senin di posisi Rp 665,81 miliar. IHSG pun turun 1,87 persen ke posisi 5.774,71 pada perdagangan kemarin.  

Sepanjang 2018, IHSG pun sudah melemah 9,14 persen atau 580,94 poin hingga penutupan perdagangan saham Selasa 8 Mei 2018. Kondisi ini berbeda dengan 2017. Pada 8 Mei 2017, IHSG berada di posisi 5.707,86. Investor asing melakukan aksi beli mencapaiRp 25,51 triliun hingga 8 Mei 2017.

VP Sales and Marketing PT Ashmore Assets Management Indonesia, Angganata Sebastian menuturkan, ada sejumlah faktor pengaruhi investor asing jual saham.

Pertama, dari global, imbal hasil surat berharga Amerika Serikat (AS) naik mencapai tiga persen. Hal itu membuat dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap semua mata uang. Menurut Angganata, hal itu menimbulkan ketidakpastian yang sebelumnya pasar juga dibayangi potensi perang dagang.

Kedua, dari sentimen dalam negeri juga turut mempengaruhi investor asing. Salah satunya, potensi pelebaran defisit neraca transaksi berjalan. "Ada potensi pelebaran current account defisit ke angka 2,4 persen-2,5 persen. Selain itu,masalah perlambatan konsumsi domestik pada tahun lalu yang belum memperlihatkan perkembangan signifikan juga pengaruhi investor asing,"kata Angganata saat dihubungi Liputan6.com.

Sementara itu, Direktur PT Panin Asset Management Rudiyanto menuturkan, investor asing merealisasikan keuntungan di pasar saham Indonesia sehingga melepas saham. Apalagi rupiah cenderung tertekan terhadap dolar Amerika Serikat ke posisi 14.000, menurut Rudiyanto, investor asing juga tak ingin kena imbas pelemahan mata uang itu. "Untuk realisasikan keuntungan dan kurs sedang melemah, ingin dapat harga bagus," kata Rudiyanto.

Rudiyanto menilai, investor asing merealisasikan keuntungan juga didorong valuasi saham di Indonesia yang sudah meningkat sejak tahun lalu.IHSG naik 19,21 persen ke posisi 6.314 pada 28 Desember 2017.

Hal senada dikatakan Analis PT Indosurya Sekuritas William Suryawijaya. Ia menturkan, aksi jual investor asing merupakan hal wajar. Apalagi aksi beli investor asing sudah terjadi sejak 2000. Investasi investor asing pun bertumbuh. Oleh karena itu, investor asing realisasikan keuntungan.

 

2 of 2

Selanjutnya

20160627-Perdagangan-Saham-Jakarta-AY
Pengunjung melintasi layar di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/6). Pada pembukaan, IHSG masih tertekan dan turun 33,90 poin atau 0,70 persen ke angka 4.800,92. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Rudiyanto menambahkan, Bank Indonesia (BI) belum menaikkan suku bunga menjadi perhatian investor asing.

Investor asing mengharapkan BI dapat menaikkan suku bunga acuan. Hal itu mengingat bank sentral AS atau the Federal Reserve akan menaikkan suku bunga secara bertahap. The Federal Reserve kemungkinan menaikkan suku bunga acuan kembali pada pertemuan Juni 2018. Sentimen tersebut juga mendorong rupiah melemah ke posisi 14.000 per dolar AS.

Rudiyanto menilai, BI tak bisa hanya mengandalkan cadangan devisa (cadev) untuk stabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).Hal itu dapat menggerus cadev. Oleh karena itu, menurut Rudiyanto kebijakan menaikkan suku bunga menjadi pilihan.

"Suku bunga naik rupiah akan terkendali. Apalagi pelaku pasar juga menilai BI terlambat untuk menaikkan suku bunga. Ada kemungkinan suku bunga acuan BI naik satu kali,"kata Rudiyanto.

Hal senada dikatakan Angganata. Pengaruh eksternal masih cukup besar pengaruhi saham dan surat utang atau obligasi. Oleh karena itu, penyesuaian suku bunga dinilai jadi perhatian investor asing.

"Kalau BI hanya fokus pada isu domestik memang BI tak perlu menaikkan suku bunga karena inflasi ini sangat rendah. Akan tetapi,pengaruh eksternal pada pasar modal masih cukup tinggi," kata dia.

Ia menambahkan, pilihan menaikkan tingkat suku bunga dapat jadi alternatif ketika rupiah terus tertekan. Apalagi dengan bunga saat ini juga belum mengoptimalkan pertumbuhan kredit.

"Kenaikan BI rate seharusnya tidak berdampak banyak terhadap bunga kredit secara rata-rata bunga kredit masih tinggi 12 persen," kata dia.

Anggata menuturkan, meski investor asing jual saham, tetapi ada dampak positifnya. Komposisi investor asing dipasar saham Indonesia terus menurun. "Saat ini hanya 43 persen, sedangkan 2004 berada di posisi 77 persen," kata dia.

Akan tetapi, Rudiyanto menilai, agar IHSG kembali sentuh level 6.000 juga membutuhkan peran investor asing. "Domestik dapat tahanpenurunan bursa, tetapi kita masih butuh asing agar indeks saham kembali cetak rekor," ujar Rudiyanto.

IHSG sudah koreksi tajam sekitar 9 persen dari sejak awal 2018, menurut Angganata dapat jadi kesempatan investor asingkembali masuk. "Valuasi saham sudah murah," tambah dia. Selain itu, faktor fundamental ekonomi Indonesia juga masih baik.

"Spread imbal hasil real kita dibandingkan dengan Amerika Serikat yang sangat lebara karena faktor rendahnya inflasi," ujar Angganata.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓