Bursa Asia Bervariasi Saat Hari Buruh Internasional

Oleh Agustina Melani pada 01 Mei 2018, 09:51 WIB
Diperbarui 03 Mei 2018, 09:13 WIB
Perdagangan Saham dan Bursa

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia bervariasi pada perdagangan saham Selasa pekan ini. Sebagian besar bursa saham di Asia tutup peringati Hari Buruh Internasional yang dirayakan pada 1 Mei.

Indeks saham Australia naik 0,06 persen di awal perdagangan. Hal itu didorong sektor saham energi yang menguat 0,82 persen seiring harga minyakyang menguat. Saham Santos mendaki 0,33 persen, saham Oil Search menanjak 0,89 persen dan Woodside Petroleum menguat 1,06 persen.

Di bursa Jepang, indeks saham Jepang Nikkei melemah 0,19 persen. Indeks saham Topix merosot 0,43 persen. Volume perdagangan di bursa saham Asia diperkirakan tipis seiring sebagian besar bursa di Asia libur termasuk di China, Hong Kong, Korea Selatan dan Singapura.

Mengutip laman CNBC, Selasa (1/5/2018), bank sentral Australia akan umumkan keputusan kebijakan moneter pada Selasa pekan ini. Pelaku pasarmengharapkan bank sentral Australia tetap mempertahankan kebijakan moneternya.

Dolar Australia pun ditransaksikan di posisi USD 0,7533. "Semua perhatian tertuju kepada hasil rapat Bank Sentral Australia. Kami mengharapkan kebijakan bank sentral Australia tetap," tulis analis ANZ, Daniel Hynes dalam laporannya.

Sementara itu, indeks dolar AS menguat berada di posisi 91. Yen diperdagangkan di kisaran 109,25 terhadap dolar Amerika Serikat.Sedangkan euro berada di posisi USD 1,2.

 

 

2 dari 2 halaman

Selanjutnya

Perdagangan Saham dan Bursa
Ilustrasi Foto Perdagangan Saham dan Bursa (iStockphoto)

Di pasar komoditas, harga minyak menguat. Hal itu didorong risiko geopolitik yang meningkat. Pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendorong harga minyak menguat. Netanyahu mengatakan, kalau Iran berbohong soal kemampuan nuklirnya.

Namun, data yang ada tidak terdapat informasi baru yang tidak diketahui oleh diplomat yang merundingkan perjanjian nukilir Iran pada 2015.Pengamat Iran menilai, hal tersebut hanya membujuk Presiden AS Donald Trump untuk membatalkan perjanjian itu.

"Investor ketakutan oleh laporan intelijen Israel. Laporan itu beri isyarat kalau Iran memiliki program senjata nuklir rahasia," kata Hynes.

Ia menambahkan, hal itu terjadi saat Presiden AS diminta untuk meratifikasi kesepakatan nuklir Iran. Harga minyak mentah AS pun naik 47 senmenjadi USD 68,57 per barel. Harga minyak Brent mendaki 90 sen menjadi USD 74,69.

 

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓