Hasil Keputusan The Fed Bayangi Nilai Tukar Rupiah

Oleh Bawono Yadika pada 30 Apr 2018, 13:16 WIB
Rupiah Tembus 13.820 per Dolar AS

Liputan6.com, Jakarta - Rapat bank sentral Amerika atau the Federal Reserve (The Fed) yang berlangsung pada 1-2 Mei 2018 menjadi perhatian pelaku pasar baik global dan domestik. Hasil rapat The Fed dinilai akan menjadi pertimbangan investor asing untuk investasi di Indonesia.

Pengamat ekonom INDEF Bhima Yudhistira memprediksi The Fed masih menjaga suku bunga acuan di posisi 1,5 - 1,75 persen. Namun the Fed akan menaikan suku bunga acuan pada rapat The Federal Open Market Committee (FOMC) yang diselenggarakan pada 12 - 13 Juni dan 25 - 26 September 2018.

"Hasil rapat the Fed akan jadi patokan bagi investor untuk menebak arah kebijakan pengetatan moneter berikutnya. Imbas ke Indonesia, khususnya para investor asing akan melakukan perombakan portofolio dengan melanjutkan penjualan bersih saham," tutur dia kepada Liputan6.com, Senin (30/4/2018).

Bhima menambahkan hingga saat ini belum ada sinyal positif terkait kebijakan yang akan dikeluarkan oleh the Fed tersebut.

"Sentimen positif dari dalam negeri juga masih samar, investor akan menunggu rilis data pertumbuhan ekonomi Triwulan I 2018 yang akan dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada 7 Mei ini," ujar dia.

Bhima menuturkan, bila pertumbuhan ekonomi hanya lima persen pada kuartal I 2018, investor asing akan keluar dari pasar keuangan. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga akan tertekan.

" Prediksi pelemahan rupiah pada pekan pertama dan kedua Mei yaitu Rp 13.900 hingga Rp 14.200," kata Bhima.

 

2 of 2

Selanjutnya

Rupiah Tembus 13.820 per Dolar AS
Teller menghitung mata uang dolar di penukaran uang di Jakarta, Jumat (20/4). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pagi ini melemah ke posisi di Rp 13.820. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara itu, Ekonom Centre of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah menilai naiknya suku bunga acuan the Fed akan berdampak pada kenaikan suku bunga yang semakin besar pula oleh Bank Indonesia (BI). Ia menyatakan hal tersebut akan menciptakan tekanan baru bagi rupiah.

"Bila itu terjadi, maka akan ada sumber tekanan baru terhadap rupiah. Interest rate differential makin menyempit, harapan pasar BI akan naikan suku bunga juga makin besar," ujar Piter.

"Kemungkinan terburuknya BI tidak merespons sesuai pasar dan bila itu terjadi rupiah tidak bisa terkendali," tambah Piter.

Meskipun begitu, untuk saat ini Piter menyatakan tingkat kepercayaan pasar masih terhitung baik terhadap situasi perekonomian di Indonesia.

"Saat ini saya lihat pasar masih percaya terhadap fundamental ekonomi Indonesia dan percaya BI juga mampu untuk menjaga rupiah," kata Piter.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by