Sukses

Kementerian PUPR Perbaiki Jalan di Pulau Moa Pakai Aspal Bahan Baku Batu Karang

Kementerian PUPR memperbaiki jalan di Pulau Moa, Maluku untuk menunjang aktivitas ekonomi masyarakat setempat maupun wisatawan.

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) secara bertahap terus meningkatkan kualitas jalan di pulau-pulau terdepan Indonesia. Salah satunya jalan di Pulau Moa, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku yang memiliki pesona padang sabana, Pantai Perawan, dan Gunung Kerbau.

Pada 2017, Kementerian PUPR melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional XVI (BPJN XVI) Ambon Ditjen Bina Marga telah menyelesaikan rekonstruksi sebagian jalan dari Tiakur yang menjadi Ibukota Kabupaten Maluku Barat Daya ke arah Weet sepanjang 7,55 km.

Dengan rekonstruksi tersebut, panjang jalan nasional di Pulau Moa pada akhir tahun lalu bertambah dari 20,4 km menjadi 27,9 km. Selain rekonstruksi, juga dianggarkan pemeliharaan rutin jalan dan jembatan. Pekerjaan tersebut dilakukan oleh kontraktor PT Bumi Selatan Perkasa dengan anggaran Rp 37,3 miliar.

Rekonstruksi dilanjutkan pada 2018 sepanjang 6 km, beserta pemeliharaan rutin jalan dan jembatan dengan anggaran sebesar Rp 41,6 miliar oleh kontraktor PT Multi Widya Pratama dan PT Gema Karya Konstruksi (JO).

Kepala BPJN XVI Ambon Satrio Sugeng Prayitno mengatakan, tantangan rekonstruksi jalan di Pulau Moa salah satunya terkait kesulitan material bahan baku pembuat aspal.

"Dilakukan inovasi dengan menggunakan material lokal, salah satunya batu karang. Itu juga bisa memangkas biaya bahan baku," kata dia dalam keterangan resminya di Jakarta, Minggu (29/4/2018).

Luas wilayah Pulau Moa yaitu 959 Km persegi yang terdiri dari 8 Desa dengan jumlah penduduk sebanyak 7.257 jiwa. Ketersediaan infrastruktur jalan akan mengembangkan potensi ekonomi seperti peternakan kerbau dan perkebunan jagung, kelapa, jambu mete, serta kacang yang menjadi sumber penghasilan masyarakat di Pulau Moa.

"Selain itu, jalan nasional yang ada di Pulau Moa sebagai penghubung antar desa juga memudahkan masyarakat ke bandara dan pelabuhan," tandas Satrio.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 3 halaman

Ruas Jalan Nasional Ini Pakai Aspal Sampah Plastik dan Karet

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mulai menggunakan teknologi aspal sampah plastik dan aspal karet dalam paket pekerjaan pemeliharaan jalan nasional di beberapa provinsi. Implementasi ini dilakukan setelah keberhasilan uji coba campuran aspal plastik di beberapa kota seperti Jakarta, Bekasi, Denpasar, Makassar, dan Tangerang.

Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono mengungkapkan penerapan teknologi aspal plastik merupakan upaya pemerintah dalam pengurangan limbah kantong plastik.

“Upaya ini bertujuan mengurangi sampah kantong plastik dengan mengolahnya menjadi bahan campuran aspal," ujar Basuki seperti dikutip dari laman resmi Kementerian PUPR, Jakarta, Kamis (22/3/2018).

Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR menargetkan, penerapan teknologi aspal sampah plastik dapat dilakukan sepanjang 25 kilometer (km) yang terbagi menjadi beberapa ruas.

Ruas jalan yang akan menggunakan aspal sampah plastik, di antaranya jalan Sipinsur-Bakara, Provinsi Sumatera Utara sepanjang 3 km, pelebaran jalan Lawean-Sukapura di Jawa Timur sepanjang 1,3 km.

Tiga ruas lain di Sulawesi Selatan yakni pekerjaan rekonstruksi jalan akses Bandara Pongtiku-Toraja 3,5 km, rekonstruksi Janeponto-Bantaeng-Bulukumba-Bira dan Bulukumba-Sinjai 2,2 km, serta pembangunan akses Labuan Bajo di NTT sepanjang 9 km.

Untuk meningkatkan ketersedian bahan plastik cacah, Kementerian PUPR telah membeli 1.000 alat pencacah sampah plastik, hasil produksi PT Barata Indonesia. Alat pencacah ini merupakan inovasi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.

Alat-alat tersebut akan distribusikan ke Balai Besar atau Balai Pelaksanaan Jalan Nasional di seluruh Indonesia dan diharapkan dapat mendukung pelaksanaan pemeliharaan jalan nasional.

Dirjen Bina Marga, Arie Setiadi Moerwanto mengatakan bahwa penerapan teknologi campuran aspal plastik mengacu pada spesifikasi khusus interim Skh-1.6.10 Campuran Beraspal Panas Menggunakan Plastik.

Teknologi aspal sampah plastik memiliki beberapa kelebihan, yaitu memiliki tingkat pengerasan yang lebih baik, tidak mudah meninggalkan jejak roda kendaraan saat aspal basah dilalui kendaraan, dan daya tahan yang semakin tinggi bila dibandingkan dengan aspal biasa.

Penggunaan limbah plastik juga sudah dinyatakan aman dan bebas dari ancaman racun pada plastik. Hal tersebut sudah dilakukan lewat berbagai uji klinis di Balitbang PUPR tentang limbah plastiktersebut.

3 dari 3 halaman

Jalan Aspal Campur Karet

Selain limbah plastik, Kementerian PUPR pada tahun ini juga akan menerapkan campuran aspal dengan komoditas karet sebagai upaya pemanfaatan karet alam dalam negeri.

Penerapan teknologi aspal karet akan diimplementasikan pada paket pekerjaan preservasi rehabilitasi Jalan Muara Beliti-Batas Kabupaten Musi Rawas-Tebing Tinggi-Batas Kota Lahat dengan total panjang 8,33 km di Sumatera Selatan.

Sebelumnya uji coba penggunaan aspal karet telah dilakukan pada pelapisan ulang jalan di Lido, Sukabumi, Jawa Barat dengan kandungan karet alam sebesar 7 persen.

Dalam satu ton campuran beraspal panas dapat dimanfaatkan kurang lebih sebanyak 4,2 kg karet alam.

Kelebihan campuran aspal karet alam yakni meningkatkan kualitas pengerasan aspal dalam hal usia layanan dan ketahanan terhadap alur.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.