Menganggur Usai Lulus Kuliah, Wajarkah?

Oleh Bawono Yadika pada 22 Apr 2018, 08:00 WIB
Diperbarui 24 Apr 2018, 07:13 WIB
20160223-Ilustrasi-Pengganguran-iStockphoto

Liputan6.com, Jakarta - Fenomena menganggur sehabis lulus merupakan fakta yang tidak bisa dielakkan di Indonesia. Berbagai alasan, riset, serta artikel pun telah banyak membahas fenomena ini berulang kali.

Apa yang menyebabkan lulusan-lulusan ini kemudian menganggur? Apa yang perlu dibenahi? 

Managing Director perusahaan konsultan Robert Walters Indonesia Sally Raj menyatakan, fenomena menganggur ini tidak hanya terjadi pada Indonesia saja, namun juga negara lain yang terbilang maju.

"Permasalahan ini terjadi pada setiap negara dan bukan hanya Indonesia saja. Ambil contoh Malaysia, mereka memiliki banyak graduates di sana tapi tahukah Anda bahwa ratusan ribu lulusan tersebut kini tidak bekerja hingga hari ini, dan kita perlu bertanya mengapa hal ini terjadi," tutur dia seperti ditulis Minggu (22/4/2018).

Raj menuturkan, perlu diciptakannya kurikulum pendidikan yang tidak hanya berfokus pada pemahaman teori ilmunya saja namun bagaimana bisa menyesuaikan dengan permintaan zaman yang dibutuhkan saat ini.

"Kita bisa melihat bahwa saat ini Indonesia sedang banyak pembangunan infrastruktur dan ini jelas akan membutuhkan banyak engineer di sini. Tren ini yang akan kita lihat dalam kurun waktu 10 tahun ke depan. Universitas sebaiknya bisa investasi dengan membangun kurikulum yang cocok dengan permintaan ini," ujar dia.

"Tapi di negara manapun saat ini trennya ialah teknologi. Semua orang bicara fintech, startup dan sebagainya. Anda perlu membangun individu dari sekolah-sekolah, keahlian yang tepat untuk mereka. Jika Anda membangun mereka, maka Anda memberikan fondasi dan keahlian manajerial kepadanya," tambah Raj.

Raj mengatakan, dunia pendidikan dan pemerintah harus bekerja sama dengan menciptakan modul yang mampu menyesuaikan dengan permintaan di era sekarang. 

Namun begitu, Manager Accounting and Finance Robert Walters Indonesia Karina Saridewi mengungkapkan tingkat pendidikan di Indonesia saat ini masih terbilang rendah untuk tingkat universitas yaitu hanya 22 persen saja.

"Dari laporan Boston Consulting Group (BCG) saja kita tahu bahwa hanya 22 persen masyarakat Indonesia yang mengenyam tertiary education (universitas) yang mana hal ini belum memenuhi permintaan yang ada," tutur Karina.

"Kita masih membutuhkan banyak orang Indonesia untuk masuk ke pendidikan tinggi," tambah Karina.

 

 

2 of 2

Hasil Riset: Perhatikan 3 Hal Ini Bila Ingin Sukses di Pendidikan

[Bintang] Pendidikan
Ilustrasi pendidikan. Foto: via everydayfeminism.com

Kesuksesan dimulai dari pola berpikir. Mengutip ungkapan orang terkenal Henry Ford,"Ketika Anda berpikir bisa atau tidak bisa, biasanya hal tersebut jadi kenyataan.”

National Science Foundation (NSF) menggelar sebuah riset untuk membuktikan hal ini. Riset dilakukan pada sejumlah mahasiswa. Proyek ini melibatkan 12 psikolog dan profesor dari beberapa universitas di dunia.

Mereka meneliti 61 mahasiswa yang sukses di kampus dari berbagai negara. Isi riset secara spesifik ingin mengetahui dan mempelajari faktor apa yang membuat mahasiswa bisa mendapat nilai bagus, rajin belajar, dan bisa menyelesaikan pendidikannya.

Ternyata ditemukan ada tiga hal yang kemudian dinamakan Henry Ford Rule. Berikut tiga faktor tersebut:

1. Menyukai Bidang yang Dipelajari

Penting untuk mengembangkan rasa suka terhadap objek yang dipelajari. Dari 61 penelitian yang dilakukan terhadap mahasiswa yang berbeda, 50 orang percaya rasa suka terhadap bidang yang dipelajari membantu mereka mencapai nilai yang lebih tinggi.

2. Berpikiran Terbuka

Percaya kepintaran tidak hanya dimiliki orang-orang tertentu adalah pemahaman yang selalu memotivasi. Sudut pandang seperti ini juga berdampak baik bagi mahasiswa. Dari 61 mahasiswa yang diteliti, 75 persen membuktikan berpikir terbuka dapat meningkatkan IPK.

3. Memiliki Tujuan dan Visi yang Jelas

Dari penelitian ini menemukan 83 persen mahasiswa yang memiliki tujuan hidup dan visi yang jelas, cenderung lebih sukses dan termotivasi setiap harinya. Penelitian ini kemudian dilengkapi dengan mengomparasi IPK para mahasiswa.

Tiga hal di atas terlihat sangat sederhana, namun tidak mudah untuk diaplikasikan. NSF menyarankan bagi mahasiswa untuk mengingatnya.

 

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

 

Lanjutkan Membaca ↓