Bank Dunia Ungkap Peluang dan Tantangan Ekonomi RI

Oleh Bawono Yadika pada 12 Apr 2018, 13:21 WIB
Diperbarui 12 Apr 2018, 13:21 WIB
Senior Economist World Bank untuk Indonesia, Derek Chan membeberkan tantangan dan peluang ekonommi Indonesia. (Liputan6.com/Bawono Yadika)
Perbesar
Senior Economist World Bank untuk Indonesia, Derek Chan membeberkan tantangan dan peluang ekonommi Indonesia. (Liputan6.com/Bawono Yadika)

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah Indonesia telah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 35/2018 terkait kemudahan fasilitas pembebasan pajak (tax holiday) bagi para investor. Bank Dunia menilai aturan ini merupakan hal yang baik bagi iklim investasi Indonesia ke depannya.

Senior Economist World Bank untuk Indonesia, Derek Chan menyebutkan pembebasan pajak (tax holiday) tersebut akan membantu pertumbuhan investasi di Indonesia.

Namun, masih ada beberapa hal yang dinilai masih harus menjadi perhatian pemerintah Indonesia.

"Tax holiday tentu akan berperan besar dalam hal ini (investasi). Namun kita perlu masih mempertimbangkan aspek-aspek lain yang perlu kita khawatirkan," ujar dia di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (12/4/2018).

Ia menuturkan hal tersebut seperti sektor infrastruktur, kondisi permintaan pasar, dan juga situasi bisnis di indonesia saat ini.

"Hal-hal lain yang kita perlu khawatirkan antara lain infrastruktur, bagaimana kondisi permintaan, harga untuk melakukan bisnis di Indonesia, jadi kita perlu melihat gambarannya secara utuh. Namun tax holiday tentu membantu Indonesia," ujarnya.

Selain itu, ia juga mengungkapkan sektor komoditas impor dalam negeri berperan besar dalam menjaga serta menciptakan kondisi investasi di Indonesia.

"Apakah ketika impor sesuatu ini mudah, cepat, atau terlambat atau hal-hal transportasi lain di Indonesia. Kita perlu melihat kebijakan fiskal, apakah hal tersebut baik bagi pemerintah dalam hal pendapatan, hukum, jadi banyak aspek dalam hal ini," tutur dia.

Tonton Video Ini:

2 dari 2 halaman

Menperin: RI Bakal Masuk 5 Besar Ekonomi Terbesar Dunia pada 2045

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto menyatakan, Indonesia akan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian dunia ke depannya, yang salah satunya ditopang melalui kinerja dari industri nasional. 
 
Peluang besar tersebut, juga didukung dengan adanya masa emas, yaitu bonus demografi atau peningkatan jumlah penduduk usia produktif pada 2020-2030.
 
"Sehingga nanti pada 100 tahun Indonesia merdeka tahun 2045, Insyaallah Indonesia akan masuk lima negara ekonomi terbesar di dunia," ujar dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (9/4/2018).
 
Dia menjelaskan, berdasarkan hasil riset PricewaterhouseCoopers (PwC), salah satu penyedia jasa auditor besar di dunia, posisi perekonomian Indonesia di peringkat ke-5 dunia diprediksi lebih cepat pada tahun 2030 dengan estimasi nilai Produk Domestk Bruto (PDB) US$ 5,424 miliar.
 
Sementara pada 2050, peringkat ekonomi Indonesia bakal naik menjadi ke-4 dunia dengan perkiraan nilai PDB USD 10,502 miliar yang dihitung melalui metode Purchasing Power Parity (PPP).
 
Menurut riset PwC ini, Indonesia dinilai sebagai big emerging market karena merupakan negara dengan perekonomian terkuat di Asia Tenggara. “Untuk mencapai sasaran tersebut, tentunya perlu perjuangan dan kerja keras. Sehingga, optimisme harus didorong oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia,” kata dia.
 
Airlangga mengungkapkan, saat memasuki momentum bonus demografi, beberapa negara mengalami pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Misalnya, Jepang yang mampu tumbuh 5,5 persen, China hingga mencapai 9,2 persen, Singapura meraih 7,3 persen, dan Thailand sekitar 4,8 persen. 
 
“Untuk itu, kita harus manfaatkan peluang emas tersebut. Kita bisa petik hasilnya pada tahun 2030,” lanjut dia.
 
Dia meyakini, implementasi Industri 4.0 dapat mengakselerasi target visi Indonesia emas 2045. “Saat ini, Indonesia telah masuk one triliunan dollar club,” tutur dia.
 
Menurut Airlangga, perbaikan ekonomi di Tanah Air, juga terlihat dari empat aspek selama 15 tahun terakhir.
 
Pertama, populasi tenaga kerja meningkat lebih dari 30 juta, yang ditopang dengan naiknya gaji sebesar dua kali lipat. Kedua, pertumbuhan konsumsi meningkat pula delapan kali lipat, di mana saat ini menyumbangkan 55 persen dari PDB. 
 
“Ketiga, aspek investasi kita pun luar biasa peningkatannya, naik 13 kali lipat, yang juga mengalami peningkatan terhadap penyumbangan ke PDB dari 22 persen menjadi 34 persen. Terakhir, kita lihat dari kapitalisasi pasar bursa meningkat 15 kali lipat, kini kapitalisasinya mencapai USD 500 miliar,” jelas dia.
 
Maka itu, lanjut Airlangga, stabilitas politik dan keamanan menjadi faktor penting dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif. 
 
Selanjutnya, peningkatan level pendidikan turut menjadi jawaban bagi kebutuhan industri nasional dalam memiliki SDM kompeten sesuai perkembangan saat ini menghadapi era Industri 4.0.
 
 
Lanjutkan Membaca ↓