Saham Aneka Industri Pimpin Penguatan, IHSG Bertahan di Zona Hijau

Oleh Fiki Ariyanti pada 11 Apr 2018, 16:21 WIB
Diperbarui 13 Apr 2018, 15:13 WIB
IHSG

Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertahan di zona hijau pada penutupan perdagangan sore ini (11/4/2018). Laju IHSG ditopang penguatan yang terjadi di hampir seluruh sektor saham.

Laju IHSG mendaki 0,56 persen atau 35,11 poin ke level 6.360,93. Sementara indeks saham LQ45 menguat tipis sebesar 0,72 persen.

Sebanyak 181 saham naik sehingga menyokong gerak IHSG. Namun demikian, jumlah saham yang mengalami penurunan sebanyak 193 saham dan 117 saham stagnan.

Total frekuensi perdagangan saham hari ini mencapai 429.137 kali sebanyak 9,1 miliar saham. Sedangkan total nilai transaksi hariannya sebesar Rp 7,7 triliun.

Investor asing tercatat melakukan penjualan bersih senilai Rp 125,56 miliar di seluruh pasar. Kurs rupiah sore ini berada di posisi Rp 13.753 per dolar Amerika Serikat (AS).

Melihat kinerja sektor saham, hampir seluruhnya menguat. Hanya sektor saham pertanian yang menunjukkan pelemahan sebesar 0,08 persen.

Sedangkan kenaikan signifikan terjadi di sektor saham aneka industri sebesar 1,28 persen dan disusul industri dasar yang melaju 1,13 persen.

Saham-saham yang mengalami penguatan dalam, antara lain GHON sebesar 22,37 persen, TIFA yang terkerek naik 21,83 persen, dan saham CITA yang mendaki 16,67 persen.

Adapun saham-saham yang menahan laju IHSG karena terjadi pelemahan, yakni MSKY yang harus tergelincir jauh 15,15 persen, saham TALF ambrol 12,56 persen, dan saham HELI dengan penurunan 12,38 persen.

Penguatan IHSG hari ini tidak terlepas dari kondisi indeks utama di bursa saham Asia yang bervariasi. Mayoritas menghijau, kecuali, indeks saham Kospi Korea Selatan turun 0,27 persen dan Nikkei Jepang susut 0,49 persen.

Sementara indeks saham Hang Seng Hong Kong tercatat naik 0,55 persen, indeks Shanghai China menanjak 0,56 persen, indeks saham Thailand meningkat 0,16 persen, indeks saham Strait Times Singapura naik 0,39 persen, dan indeks saham Taiwan meningkat sebesar 0,43 persen.

2 dari 2 halaman

Bursa Saham Global Topang Penguatan IHSG

Perdagangan saham
Perdagangan saham di BEI (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan saham Rabu pekan ini. Pergerakan IHSG ikuti bursa saham global.

Pada pra pembukaan perdagangan saham, Rabu (11/4/2018), IHSG naik 26,78 poin atau 0,42 persen ke posisi 6.352,60. Pada pukul 09.00 WIB,IHSG menguat 37,57 poin atau 0,59 persen ke posisi 6.363,41. Indeks saham LQ45 menanjak 0,95 persen ke posisi 1.049. Seluruh indeks saham acuan menghijau.

Sebanyak 157 saham menguat sehingga mendorong IHSG ke zona hijau. 42 saham melemah dan 96 saham diam di tempat. Pada awal sesi, IHSG sempatberada di level tertinggi 6.380,35 dan terendah 6.349,64.

Total frekuensi perdagangan saham tercatat 25.776 kali dengan volume perdagangan 594,8 juta saham. Nilai transaksi harian Rp 457,1 miliar.Investor asing beli saham Rp 62,42 miliar di seluruh pasar. Posisi dolar Amerika Serikat di kisaran Rp 13.738.

10 sektor saham kompak menghijau. Sektor saham aneka industri naik 1,42 persen, dan catatkan penguatan terbesar. Disusul sektor saham keuanganmenguat 1,22 persen dan sektor saham manufaktur mendaki 0,65 persen.

Saham-saham catatkan penguatan antara lain saham SRSN naik 27,27 persen ke posisi Rp 70, saham TDPM menguat 14,55 persen ke posisi Rp 488 per saham, dan saham TRIL melonjak 7,92 persen ke posisi Rp 109 per saham.

Sedangkan saham-saham yang melemah antara lain saham ESTI melemah 3,48 persen ke posisi Rp 111 per saham, saham DYAN turun 1,83 persenke posisi Rp 107 per saham, dan saham GAMA tergelincir 1,64 persen ke posisi Rp 60 per saham.

Sebagian besar bursa saham Asia menguat. Indeks saham Korea Selatan Kospi naik 0,13 persen, indeks saham Jepang Nikkei mendaki 0,02 persen.

Mengutip laporan Ashmore Assets Management Indonesia, IHSG naik pada perdagangan kemarin didukung pidato Xi Jinping di Boao Forum. IHSG naik 1,28 persen pada Selasa 10 April 2018.

Selain itu, pemerintah Indonesia berencana menekan defisit fiskal di bawah dua persenterhadapproduk domestik bruto pada 2019. Selain itu, pendapatan diperkirakan naik menjadi 13 persen dari 7,6 persen. Sedangkan belanja naik tujuh persen.Asumsi yang digunakan apabila ekonomi meningkat menjadi Rp 16.000 triliun.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait