Pengembang Yakin Pasar Residensial Membaik di Triwulan II 2018

Oleh Muhammad Rinaldi pada 29 Mar 2018, 13:11 WIB
Diperbarui 29 Mar 2018, 13:11 WIB
Proyek Latigo Village di Gading Serpong. (Rinaldi/Liputan6.com)
Perbesar
Proyek Latigo Village di Gading Serpong. (Rinaldi/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Meski pasar properti di triwulan pertama tahun ini belum terlalu menggembirakan, namun tren permintaan residensial sudah cenderung meningkat. Ditandai dengan tumbuhnya angka penjualan pengembang dan diprediksi bakal terus membaik mulai triwulan kedua 2018.

Presiden Direktur Paramount Land Ervan Adi Nugroho menjelaskan, di awal tahun biasanya permintaan masih rendah karena masyarakat cenderung wait and see melihat kondisi ekonomi. Tetapi gairah pasar terlebih sektor residensial menengah diperkirakan akan semakin meningkat mulai tiwulan kedua tahun ini.

Dia mengakui adanya tren pertumbuhan penjualan sejak memasuki tahun 2018 dibandingkan 2017.

“Kebutuhan rumah masih tinggi, sehingga permintaan kami yakini selalu ada. Itu terlihat dari awal tahun 2018 permintaan terhadap produk rumah kami meningkat. Artinya daya beli masyarakat mulai membaik pada tahun ini, dan konsumen mulai menyisihkan dana guna mengangsur rumah,” ungkap Ervan yang ditulis Liputan6.com, Kamis (29/3/2018).

Jika melihat kondisi fundamental ekonomi yang relatif solid dan asumsi-asumsi makro ekonomi yang cukup kredibel beberapa waktu terakhir, diharapkan dapat mendorong pasar properti lebih bergairah.

Terlebih dengan adanya sejumlah kebijakan pemerintah untuk menjaga pasar properti, selain itu tingkat suku bunga KPR juga berada pada tren menurun turut meningkatkan minat masyarakat untuk pembelian produk properti.

Aura positif di pasar residensial ini menjadi momentum yang tepat untuk membeli properti baik untuk dihuni ataupun sebagai investasi. Sekaligus menjadi peluang bagi developer termasuk Paramount Land yang di akhir Maret ini meluncurkan proyek Latigo Village.

 

2 dari 2 halaman

Kebutuhan Konsumen

20160908-Properti-Jakarta-AY
Perbesar
Sebuah maket perumahan di tampilkan di pameran properti di Jakarta, Kamis (8/9). Penurunan DP KPR rumah kedua dan ketiga juga turun masing-masing menjadi 20% dan 25%. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Managing Director Paramount Land, Andreas Nawawi, menyampaikan survei salah satu portal online properti mengenai property affordability sentiment index 2018 menunjukkan bahwa pertimbangan utama konsumen dalam memilih hunian adalah kualitas hidup, sebelum mempertimbangkan harga dalam membeli rumah.

Dari survei tersebut, sebanyak 92 persen responden mencantumkan lokasi sebagai salah satu faktor utama dia memilih hunian, 75 persen mencantumkan faktor keamanan, 72 persen memiliki kemudahan aksen, dan sebanyak 60% menempatkan harga properti sebagai alasan memilih hunian.

Hal ini berarti, kata Andreas, konsumen memerlukan kenyamanan dan kualitas hidup sebagai pertimbangan yang penting. Konsumen saat ini semakin smart dalam mencari rumah yang akan ditinggali, sehingga pengembang harus bisa mendukung kebutuhan hidup mereka mulai dari kebutuhan sehari-hari, kesejahteraan dan kesehatan keluarga, pendidikan anak hingga kemudahan menjangkau tempat kerja.

“Kami secara resmi telah meluncurkan dan memulai penjualan perdana produk terbaru Latigo Village di GadingSerpong. Ini merupakan hunian yang nyaman dan aman untuk keluarga, berada di lokasi strategis dengan dukungan akses tol yang cukup baik,” ungkapn Andreas.

Hanya ada 135 unit yang dipasarkan, dengan harga menarik mulai Rp 1,5 miliar per unit (sudah termasuk PPN).

Latigo Village menawarkan beragam kelebihan mulai dari tampak bangunan dengan desain yang simple namun elegan dengan tiga pilihan warna, fasilitas kota yang lengkap, penataan jalan yang baik, serta akses yang mudah karena menghubungkan Gading Serpong-Tol JORR II melalui BSD.

Pengamat properti Ali Tranghanda mengatakan, pasar properti tahun ini cukup prospektif. Tren pertumbuhan pasar properti juga diperkirakan berlanjut hingga mencapai titik tertinggi di 2019.

“Namun, Pilpres 2019 akan menjadi sebuah pertaruhan besar karena secara psikologis berpengaruh terhadap iklim investasi properti, khususnya di segmen atas. Tahun ini, daya beli pasar relatif tumbuh, tetapi berada dalam posisi wait and see yang lebih lama dan selektif dalam memilih investasi,” ujar dia.

Hunian menengah hingga atas, tambah Ali, masih menjadi primadona, dengan kisaran harga Rp 500 jutaan sampai Rp 2 miliar per unit.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓