Ingin Kepastian Nasib, Pekerja JICT Dukung Perpanjangan Kontrak

Oleh Nurmayanti pada 22 Mar 2018, 15:41 WIB
Diperbarui 22 Mar 2018, 15:41 WIB
Kegiatan di Jakarta International Contener Terminal (JICT),Tanjung Priok.

Liputan6.com, Jakarta Serikat Karyawan (Sekar) PT Jakarta International Container Terminal (JICT) merestui keputusan perpanjangan kontrak antara JICT dengan PT Pelindo II. Langkah ini dianggap telah memberikan kepastian terhadap kesinambungan nasib karyawan dan menjamin peningkatan investasi infrastruktur di JICT.

Dengan demikian, kinerja dan layanan bongkar muat kontainer di Tanjung Priok, Jakarta dapat terus meningkat.

"Perpanjangan kontrak JICT merupakan langkah tepat mengingat kinerja dan kontribusi JICT terhadap ekonomi nasional sangat besar. Perpanjangan kontrak ini juga dibutuhkan karena memberikan kepastian terhadap masa depan seluruh karyawan dalam bekerja dan memberi kontribusi yang lebih baik. Belum tentu ada kebijakan yang lebih baik jika kontrak JICT tidak diperpanjang," kata Ketua Serikat Karyawan (Sekar) JICT Pancarno Sumartomo dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (22/3/2018).

Dia menambahkan, Pelabuhan Tanjung Priok sebagai objek vital nasional memiliki peran strategis sebagai pintu gerbang kegiatan ekspor-impor barang terbesar di Indonesia. Sebab itu, pengembangan JICT sebagai terminal utama dan terbesar di Tanjung Priok harus menjadi prioritas.

Sumartomo juga mengakui jika sinergi antara Hutchison Port dan Pelindo II telah menjadikan JICT sebagai terminal petikemas dengan layanan berstandar global yang didukung oleh jaringan pelayaran international.

Transfer teknologi dan pengetahuan yang telah dilakukan JICT telah berhasil mendorong kualitas karyawan setara dengan terminal peti kemas international.

"Kami juga bersyukur karena kesejahteraan karyawan di JICT sangat baik. Karena itu fokus karyawan saat ini adalah mendorong peningkatan kualitas layanan di JICT, sehingga kontribusi JICT terhadap ekonomi Indonesia semakin besar," ujarnya.

Lebih lanjut Sumartomo menjelaskan, perpanjangan kontrak JICT-Pelindo II memberikan preseden yang baik terhadap investor yang telah berinvestasi di Indonesia.

Kondisi ini tentunya dapat mendorong investasi lebih besar lagi di sektor pelabuhan, sesuatu yang dibutuhkan saat ini mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan.

"Pembangunan pelabuhan laut akan menjadi salah satu kunci daya saing ekonomi Indonesia. Itulah sebabnya kita membutuhkan kepercayaan investor agar mau berinvestasi dan menjadikan logistik Indonesia makin efisien. Dan perpanjangan kontrak JICT ini merupakan momentum penting untuk meningkatkan kepercayaan investor, baik domestik maupun investor global," dia menandaskan.

2 dari 2 halaman

Cara Pekerja Terminal Peti Kemas Koja Hadapi Persaingan

Kegiatan di Jakarta International Contener Terminal (JICT),Tanjung Priok.
Suasana bongkar muat di Jakarta International Contener Terminal (JICT),Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (16/11). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Serikat Pekerja TPK Koja melakukan langkah taktis dalam menghadapi ketatnya persaingan antar terminal peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Alih-alih berupaya menggembosi dan melawan kebijakan perusahaan, dua serikat karyawan di TPK Koja sepakat untuk melebur diri menjadi satu serikat.

Langkah ini diambil Serikat Pekerja TPK Koja untuk menjamin kinerja perusahaan semakin solid, sehingga kesejahteraan karyawan diharapkan semakin membaik.

"Fokus kami saat ini adalah mendukung upaya manajemen untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Kami tidak ingin mengorbankan nasib ratusan karyawan Koja yang sudah tergantung pada perusahaan ini," ujar Ketua SP TPK Koja Joko Supriyanto dalam keterangannya, (21/3/2018).

Langkah bersatunya Serikat Pekerja Bersatu (SPB) TPK Koja dengan Serikat Pekerja (SP) TPK Koja berlangsung kemarin. Penyatuan ini disaksikan Kepala Sudinaker Jakarta Utara, Dwi Untoro dan Manajemen TPK Koja yang diwakili Deputy GM Nurjadin Surur.

Bersatunya Serikat Pekerja TPK Koja tersebut juga mendapat respons positif dari Kasudinakertrans Jakarta Utara Dwi Untoro.

Menurutnya, langkah para pekerja di TPK Koja tersebut sangat positif untuk meningkatkan daya saing perusahaan di tengah persaingan antarterminal yang semakin ketat di Tanjung Priok.

"Jika memang ada perselisihan dengan manajemen, pekerja bisa datang ke sudinaker untuk mencari solusi bersama. Bersatunya pekerja akan memperkuat perusahaan dan layanan di Pelabuhan Tanjung Priok," jelas Dwi Untoro.

Beroperasinya New Priok Container Terminal One (NPCT1) membuat persaingan antarterminal peti kemas semakin ketat. Apalagi NPCT1 yang dimotori oleh operator pelabuhan asing kelas dunia seperti Mitsui & Co Ltd. (Mitsui) dan Nippon Yusen Kabushiki Kaisha (NYK Line) dari Jepang serta PSA International Pte Ltd (PSA) dari Singapura. Ketiga perusahaan tersebut bersama Pelindo II adalah pemilik NPCT1.

Selain NPCT1, di Tanjung Priok juga telah beroperasi PT Jakarta International Container Terminal (JICT), PT Mustika Alam Lestari (MAL), TPK Koja dan Terminal 3 Priok.

JICT saat ini merupakan operator terminal petikemas terbesar di Tanjung Priok dengan kapasitas sebesar 2,8 juta TEUs per tahun. Sementara TPK Koja tahun ini ditargetkan melayani 754 ribu TEUs.

Lanjutkan Membaca ↓