BI Waspadai Kenaikan Inflasi di Jawa dan Sumatera

Oleh Ilyas Istianur Praditya pada 23 Feb 2018, 17:00 WIB
Diperbarui 23 Feb 2018, 17:00 WIB
Gubernur BI, Agus Martowardojo
Perbesar
Agus Martowardojo

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengimbau kepada pemerintah pusat dan daerah untuk mewaspadai tren peningkatan inflasi di dua pulau, yaitu di Jawa dan Sumatera.

Gubernur BI, Agus Martowardojo mengatakan secara year to date, inflasi rata-rata di dua pulau tersebut lebih tinggi jika dibandingkan tren inflasi selama tiga tahun terakhir.

"Kita perhatikan inflasi di daerah Jawa dan Sumatera kalau terakhir 2018 ada tren inflasi dari gejolak pangan atau volatile food lebih tinggi dari rata-rata inflasi tiga tahun dengan periode yang sama," kata Agus di Kompleks BI, Jumat (23/2/2018).

Berbeda jika dibandingkan tren inflasi untuk volatile food di wilayah Indonesia bagian Timur, seperti Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Nusa Tenggara yang justru menunjukkan tren penurunan dibanding tiga tahun terakhir.

Agus mengaku, volatile food menunjukkan tren kenaikan karena adanya peningkatan harga di tiga bahan pangan yaitu beras, bawang putih, dan cabai.

"Tiga ini yang paling beresiko," tegas Agus Martowardojo.

Pemerintah bersama BI sebelumnya sepakat untuk menjaga inflasi volatile food di 2018 tidak lebih dari 4-5 persen. Target tersebut sama seperti target tahun lalu.

Sementara di sisi lain, secara keseluruhan target inflasi pada 2018 akan lebih baik dibanding 2017, yaitu di antara 2,5-4,5 persen.

"Kami masih percaya kalau inflasi akan berada di range yang kami targetkan," ucap Agus.

Untuk inflasi di minggu ke-3 Februari ini, Agus Martowardojo memperkirakan akan ada di angka 0,19 persen dan secara year-on-year di angka 3,2 persen, lebih baik jika dibandingkan periode sama bulan lalu.

Tonton Video Pilihan di Bawah Ini:

2 dari 2 halaman

BI Sebut Era Bunga Murah Sudah Berakhir

BI memastikan ekonomi Indonesia masih dihadapkan berbagai sentimen dalam dan luar negeri. Salah satunya dari yang datang dari Amerika Serikat (AS). 

Bank Sentral AS diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga sampai empat kali sepanjang 2018. Sentimen ini yang bakal mempengaruhi ekonomi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dengan tren peningkatan suku bunga di berbagai negara maju ini nantinya menimbulkan berbagai langkah dari bank sentral lainnya untuk mengikuti langkah tersebut.

"Banyak negara maju yang pada 2018 akan ada kebijakan suku bunga dinaikkan. Jadi kita sudah tidak lagi ada di era suku bunga murah, itu sudah terjadi di 2009-2015," kata Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo di Gedung Bank Indonesia pada 15 Februari 2018. 

BI memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali di 2018, lebih tepatnya di Maret, Juni dan Desember 2018. Namun dari hasil FOMC meeting terakhir, ada kemungkinan kenaikan bunga akan ditambah menjadi 4 kali.

Namun demikian, untuk saat ini, perbankan di Indonesia masih memiliki peluang untuk menurunkan suku bunga. Hal ini dikarenakan pergerakan penurunan bunga perbankan belum sebesar penurunan bunga acuan BI.

Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo mencontohkan saat ini bunga pinjaman sektor konsumsi masih 12,54 persen dan kredit modal kerja di kisaran 10,75 persen.

"Di sinilah kemudian koordinasi antara Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) penting untuk pastikan bunga kredit kembali turun," pungkasnya. 

Lanjutkan Membaca ↓