Chatib Basri: RI Tak Akan Ditinggal Investor

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 07 Feb 2018, 20:32 WIB
Diperbarui 09 Feb 2018, 20:13 WIB
chatib-basri-130516c.jpg

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia (UI), Chatib Basri, memprediksi, para investor dunia masih akan menanamkan modalnya di Indonesia yang masuk kategori negara berkembang. Pasalnya, ekonomi Indonesia semakin membaik. 

"Saya pikir Indonesia termasuk emerging market yang tidak akan ditinggalkan (investor). Kalau menurut data makronya mestinya begitu," kata Chatib di acara Mandiri Investment Forum di Jakarta, Rabu (7/2/2018).

Lebih lanjut, mantan Menteri Keuangan itu membandingkan kondisi ekonomi Indonesia sekitar lima tahun lalu dan sekarang.

"Saya punya pengalaman di 2013, ketika current account deficit kita 4 persen (dari PDB). Makanya pada waktu itu kita harus potong subsidi BBM, kemudian naikin bunga," jelas Chatib Basri.

Akan tetapi, saat ini, ekonomi Indonesia dalam keadaan baik dan sehat. "Sekarang current account deficit kita kurang dari 2 persen, inflasi kita sekitar 3 persen," papar Chatib

Demi menjaga kondisi tersebut, Chatib mengimbau kepada para pelaku usaha maupun investor untuk tidak melakukan penjualan saham besar-besaran atau panic selling.

"Yang harus dijaga satu, jangan sampai terjadi panic selling. Market itu ada yang namanya animal spirit, kekhawatiran. Itu yang kemudian bisa mendorong orang berpikir akan terjadi krisis. Sebetulnya secara rasional itu tidak akan terjadi," imbuh Chatib Basri.

2 of 2

Ekonomi RI Diprediksi Stagnan karena Subsidi Listrik Dicabut

Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi dunia
Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi dunia (Liputan6.com/Andri Wiranuari)

Pertumbuhan ekonomi pada 2017 diprediksi sebesar 5,05 persen. Pertumbuhan ini terbilang stagnan akibat rendahnya konsumsi rumah tangga yang tumbuh di kisaran 4,9 persen.

Pengamata ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, pencabutan subsidi listrik dan inflasi pangan di akhir tahun membuat daya beli kelompok masyarakat 40 persen terbawah terpukul.

Sementara kelas atas cenderung menahan belanja dan mengalihkan pendapatannya ke tabungan di bank.

"Kondisi ini berakibat pada tutupnya beberapa gerai ritel," ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, pada 5 Februari 2018.

Meskipun total ekspor berdasarkan data BPS di 2017 tumbuh 16,2 persen, lanjut dia, di sisi impor juga mengalami kenaikan 15,66 persen. Dengan demikian, sumbangan ekspor dalam PDB hanya tumbuh 0,5 persen.

"Ekspor masih bergantung pada komoditas dan olahan primer yang rentan terhadap fluktuasi harga komoditas," kata dia.

Lanjutkan Membaca ↓