Era Digital Ekonomi, Generasi Milienial Harus Mahir IT dan Bahasa

Oleh Fiki Ariyanti pada 31 Jan 2018, 12:56 WIB
Diperbarui 02 Feb 2018, 12:13 WIB
Pekerja Wanita Pabrik Sokon

Liputan6.com, Jakarta Selain Revolusi Industri 4.0, dunia sedang menghadapi era digital ekonomi yang menuntut kompetensi memadai dari para generasi muda Indonesia. Salah satu yang harus dikuasai adalah bahasa statistik dan coding atau disebut juga pemrograman.

Menteri Perindustrian (Menperin), Airlangga Hartarto mengatakan, Indonesia membutuhkan banyak sumber daya manusia (SDM) atau tenaga kerja andal agar mampu bersaing di era digital ekonomi.

"Untuk masuk ke digital ekonomi, anak-anak muda Indonesia wajib menguasai bahasa. Nah, bahasanya adalah statistik dan coding. Itu dikuasai oleh seluruh ilmu, jadi digital ekonomi tidak cuma didominasi mereka yang sekolah teknologi informatika," jelas dia di kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu (31/1/2018).

Lebih jauh dia menuturkan, digital ekonomi merupakan solusi bagi masyarakat atau konsumen. Baik itu solusi kesehatan, ekonomi, seni, dan lainnya sehingga pendidikan mengenai coding dan analisis statistik perlu diajarkan kepada para generasi muda.

"Kalau di (Sekolah Tinggi Manajemen Industri) Kementerian Perindustrian, ada 9 akademi (jurusan) yang hampir seluruhnya kita persiapkan untuk mengajari coding dan statistik karena kita bicara internet of things," Airlangga menerangkan.

Dalam industri perdagangan online (e-commerce), dia mengatakan, Kemenperin memberikan pelatihan kepada para vendor maupun usaha kecil menengah (UKM) ke dalam jaringan e-commerce.

"Kita juga memberikan pelatihan standarisasi produk, mutu produk, dan logistik dari produk itu sendiri, serta kesiapan tenaga kerja, dan kesiapan modal kerja sehingga mereka yang ikut e-commerce bisa punya akses memperoleh Kredit Usaha Rakyat," dia menjelaskan.

Sementara itu, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri mengungkapkan, pemerintah akan meningkatkan kompetensi teknologi informasi di Balai Latihan Kerja (BLK). Sebagai contoh BLK di Bekasi dengan fokus pada program 3R, reorientasi, revitalisasi, rebranding.

"Reorientasi bagaimana kita lebih fokus dalam memberikan pelatihan. Kalau di BLK Bekasi ada 19 kejuruan, sekarang dikerucutkan menjadi 2-3 kejuruan, salah satunya IT yang di upgrade masuk ke animasi dan games. Kapasitas pekerja pun ditingkatkan dari 300 orang setiap 1 kejuruan menjadi 7.000 orang," pungkas Hanif.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

2 of 2

Tak ingin Tergusur, Pengusaha Harus Masuk Ekonomi Digital

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) Rhenald Kasali menyatakan, perkembangan ekonomi digital akan semakin masif ke depan. Hal ini harus secepatnya diantisipasi oleh para pelaku usaha di Indonesia jika tak mau tergerus oleh laju perkembangan ekonomi digital tersebut.

Rhenald menggambarkan perkembangan ekonomi digital dan transformasi kegiatan perdagangan ini seperti perubahan kapal layar ke kapal mesin uap yang terjadi mulai 1813.

Kemunculan teknologi baru dengan adanya mesin uap membuat kapal-kapal konvensional yang menggunakan layar semakin ditinggalkan dan secara perlahan mulai mati.

"Kapal-kapal layar itu hilang sejalan dengan munculnya mesin uap. Bagi kaum muda saat itu, mesin uap adalah opportunity untuk mengganti pemain-pemain lama yang enggan berubah. Namun bagi pengusaha lama, mesin uap adalah bahaya. Maka yang terjadi, mereka memang mengambil jalan transformasi, tetapi separuh hati," ujar dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (29/12/2017).

Menurut Rhenald, cerita soal kapal-kapal layar yang dipasangi mesin-mesin uap ini tengah kita hadapi dalam perekonomian Indonesia. Khususnya ketika Indonesia tengah memasuki perdagangan digital yang sangat disruptif. ‎

Dia mengungkapkan, saat ini perusahaan-perusahaan berlomba membeli teknologi dan menguasainya, tetapi bentuk kapalnya tetap sama. Demikian pula leadership, business capabilities, customer engagement, mindset pegawai dan corporate culture-nya.‎

"Semua masih hidup di atas kapal layar, yang kini diberi mesin uap yaitu teknologi.‎ Perusahaan-perusahaan demikian seperti tengah berkelahi melawan fakta-fakta baru bahwa bisnis mereka tengah berada dalam ancaman kematian," kata dia.

 

Lanjutkan Membaca ↓