Kejar Sektor Migas, Investasi E-Commerce Belum Terlacak BKPM

Oleh Septian Deny pada 30 Jan 2018, 20:30 WIB
Diperbarui 01 Feb 2018, 20:13 WIB
UKM Online Berpengaruh Besar Bagi e-Commerce Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Tren perkembangan e-commerce atau bisnis jual beli online dan perusahaan rintisan (startup) di Indonesia dinilai berpotensi mendongkrak nilai investasi ke Indonesia. Meski baru beberapa tahun menjadi tren, investasi di sektor ini telah mencapai setengah dari investasi di sektor minyak dan gas (migas).

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong mengatakan, selama ini ada sejumlah e-commerce dan startup yang mengklaim telah berinvestasi di Indonesia hingga puluhan triliun rupiah. Namun, hal tersebut belum terekam dalam data BKPM.

"Kalau kita lihat pengumuman dari perusahaan e-commerce atau startup, banyak pengumuman mengenai investasi triliunan bahkan puluhan triliun. Tapi angka ini setahu saya masih belum tercermin dalam database BKPM. Karena ini fenomena yang mendadak, baru dua tahun terakhir. Bukan berarti sebelum 2015 tidak ada, tapi skalanya masih kecil," ujar dia di Kantor BKPM, Jakarta, Selasa (30/1/2018).

Dia menambahkan, selama ini BKPM masih kesulitan untuk menelusuri masuknya investasi di sektor tersebut. Selain itu, BKPM juga belum bisa memastikan klasifikasi dari investasi di sektor e-commerce dan startup.‎

"Tiba-tiba secara mendadak angkanya melonjak jadi miliaran dolar, terus terang saya merasa kita sedikit keteteran dan fenomena yang mendadak‎. Kita sering kali mengalami kesulitan klasifikasi ke dalam bidang usaha yang mana, karena sangat beragam. Apa Go-Jek itu portal atau transportasi. Jadi ini juga suatu pendataan yang hemat saya perlu dibenahi dalam 1-3 tahun ini," ungkap dia.

Menurut perhitungan BKPM total investasi di sektor e-commerce mencapai US$ 4,8 miliar pada 2017. Namun, belum semua dari angka tersebut masuk ke Indonesia. Biasanya, perusahaan e-commerce menggelontorkan investasi secara bertahap.

"Ini tentu tidak semuanya serentak di depan, tapi berangsur secara bertahap dalam beberapa tahun," kata dia.

Terlepas dari hal tersebut, Thomas mengakui potensi investasi di sektor e-commerce dan startup memang sangat besar. Bahkan saat ini porsinya sudah lebih dari 50 persen investasi di sektor migas dan 20 persen dari penanaman modal asing (PMA), dengan pertumbuhan sekitar 50 persen per tahun.

"Tapi sudah kelihatan angkanya sangat besar. Sebagai pembanding, total investasi di sektor migas pada 2017 senilai US$ 9 miliar. Total investasi e-commerce dan startup sudah lebih dari separuh investasi di migas. Jadi skalanya sudah besar. Pertumbuhannya 30-50 persen per tahun," dia menjelaskan.

"Jadi angka ini masih belum mencakup investasi atau arus modal yang masuk dari e-commrece, digital ekonomi, dan startup. Dan kalau kita lihat total PMA kita antara US$ 25-35 miliar, kalau investasi e-commerce sudah US$ 5 miliar, ini porsi sangat besar, dan pertumbuhannya tinggi," jelas dia.

Jika melihat hal ini, kata Thomas, maka tinggal keseriusan dari pemerintah untuk memberikan ruang yang lebih nyaman bagi investor di sektor e-commerce dan startup agar bisa meningkatkan investasi di Indonesia. Sebab, jika tidak, maka potensi investasi tersebut diambil oleh negara lain.

"E-commerce perlu perhatian khusus dari pemerintah untuk dijaga baik-baik dan jangan sampai ini menghadapi kendala faktor negatif yang membuat investasi ini lari ke negara lain," tandas dia.

Tonton Video Pilihan di Bawah Ini:

2 dari 2 halaman

Realisasi Investasi Tembus Rp 692,8 Triliun pada 2017

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan realisasi investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) sepanjang 2017 menembus angka Rp 692,8 triliun. Capaian ini melampaui target investasi yang sebesar Rp 678,8 triliun.

Kepala BKPM Thomas Lembong mengatakan capaian realisasi investasi tersebut memberikan harapan dan optimisme untuk dapat mencapai target realisasi investasi pada 2018 yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebesar Rp 765,0 triliun.

"Dalam rangka mempercepat realisasi investasi proyek-proyek PMA dan PMDN, di berbagai kementerian terkait, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota telah dibentuk Satuan Tugas (Satgas) sebagai implementasi Peraturan Presiden Nomor 91 Tahun 2017 tentang Percepatan Pelaksanaan Berusaha, yang berfungsi antara lain akan membantu mencari solusi permasalahan yang dihadapi oleh investor dalam merealisasikan investasinya," ujar dia di Kantor BKPM, Jakarta, Selasa (30/1/2018).

Dari realisasi investasi sebesar Rp 692,8 triliun, berdasarkan lima besar lokasi proyek antara lain DKI Jakarta sebesar Rp 108,6 triliun, (15,7 persen); Jawa Barat sebesar Rp 107,1 triliun, (15,5 persen); Jawa Timur sebesar Rp 66,0 triliun (9,5 persen); Banten sebesar Rp 55,8 triliun (8,1 persen); dan Jawa Tengah sebesar Rp 51,5 triliun (7,4 persen).

Berdasarkan sektor usaha, 5 besar realisasi investasi adalah: Listrik, Gas dan Air sebesar Rp 82,1 triliun (11,8 persen; Pertambangan sebesar Rp 79,1 triliun (11,4 persen); lndustri Makanan sebesar Rp 64,8 triliun (9,4 persen), lndustri Logam, Mesin, dan Elektronik sebesar Rp 64,3 triliun (9,3 persen), dan Transportasi, Gudang, dan Telekomunikasi sebesar Rp 59,8 triliun (8,6 persen).

Sedangkan realisasi investasi PMA berdasarkan 5 besar asal negara adalah Singapura sebesar US$ 8,4 miliar (26,2 persen); Jepang sebesar US$ 5,0 miliar (15,5 persen); China sebesar US$ 3,4 miliar, (10,4 persen); Hong Kong sebesar US$ 2,1 miliar, (6,6 persen); dan Korea Selatan sebesar US$20 miliar (6,3 persen).

Menurut dia, pada kuartal IV 2017, realisasi investasi baik PMDN maupun PMA mencapai Rp 179,6 triliun. Dari angka tersebut, realisasi PMDN sebesar Rp 67,6 triliun, naik 16,4 persen dari Rp 58,1 triliun pada periode yang sama di 2016. Sedangkan PMA sebesar Rp 112 triliun, naik 10,6 persen dari Rp 101,3 triliun pada periode yang sama tahun 2016.

BKPM juga mencatat, realisasi investasi PMDN dan PMA berdasarkan 5 besar lokasi proyek antara lain DKI Jakarta sebesar Rp 33,9 triliun (18 persen), Jawa Barat sebesar Rp 24,1 triliun (13,4 persen), Jawa Tengah sebesar Rp 18,5 triliun (10,3 persen), Jawa Timur sebesar Rp 16,3 triliun (9,1 persen) dan Banten sebesar Rp 13,9 triliun (7,8 persen)

Realisasi investasi berdasarkan 5 besar sektor usaha antara lain Listrik, Gas dan Air sebesar Rp 24,3 triliun (13,6 persen); Transportasi, Gudang dan Telekomunikasi sebesar Rp 22,6 triliun (12,6 persen); Industri Makanan sebesar Rp 17,4 triliun (9,7 persen), Pertambangan sebesar Rp 16,4 triliun (9,1 persen), dan Tanaman Pangan dan Perkebunan sebesar Rp 14,6 triliun (8,1 persen).

Sedangkan untuk 5 besar negara asal PMA antara lain Singapura sebesar US$ 2,3 miliar (27,8 persen); Jepang sebesar US$ 1,0 miliar (11,9 persen); Hongkong sebesar US$ 0,8 miliar (9 persen); Korea Selatan sebesar US$ 0,7 miliar (7,9 persen) dan China US$ 0,6 miliar (7,5 persen).

Lanjutkan Membaca ↓