Hadapi Ekonomi Gobal, Ekonom dan Lembaga Bentuk Wadah Riset

Oleh Nurmayanti pada 26 Jan 2018, 18:44 WIB
Diperbarui 26 Jan 2018, 18:44 WIB
Sejumlah fakultas ekonomi, lembaga riset dan ekonom Indonesia sepakat membentuk wadah (platform) riset independen IBER. (Dok)
Perbesar
Sejumlah fakultas ekonomi, lembaga riset dan ekonom Indonesia sepakat membentuk wadah (platform) riset independen IBER. (Dok)

Liputan6.com, Jakarta Sejumlah fakultas ekonomi, lembaga riset dan ekonom Indonesia sepakat membentuk wadah (platform) riset independen. Pembentukan ini didasari dengan melihat berbagai perkembangan global yang kurang menguntungkan pada akhir-akhir ini sehingga perlu segera diwaspadai dan diantisipasi agar perekonomian Indonesia bisa terhindar dari dampak negatifnya.

Wadah yang diberi nama Indonesia Bureau of Economic Research (IBER) akan menjadi tempat untuk jaringan ekonom yang melakukan berbagai riset dan kajian strategis untuk mendukung kebijakan publik Indonesia ke depan yang kian penuh tantangan.

“Di dukung oleh 13 perguruan tinggi dan institusi terpandang, IBER merupakan perwakilan jaringan para ekonom untuk membangun platform baru yang inovatif dalam analisis kebijakan publik,” kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional atau Kepala Bappenas, Bambang Brojonegoro, di Jakarta, Jumat (27/1/2018).

Berbagai kebijakan sejumlah negara dinilai membuat sistem perdagangan global tengah terancam dan risiko di sektor keuangan meninggi. Semua ini akan menguji kemampuan pengelolaan kebijakan setiap negara, terutama di kawasan Asia, termasuk Indonesia.

Keberadaan IBER dalam rangka memberi dukungan terhadap otoritas kebijakan dan pelaku ekonomi dalam menghadapi semakin tingginya risiko perekonomian Indonesia dalam menghadapi situasi global ke depan.

Ketua Dewan Pembina IBER, Boediono berharap IBER bisa menjadi wadah untuk meningkatkan kapasitas riset ekonomi di Indonesia yang berbasis pengujian konsep dan empiris (evidence based) dan dapat memberi masukan kepada pengambil kebijakan ekonomi.

Pada kesempatan yang sama, Dekan FEB UI Ari Kuncoro  turut menyampaikan jika wadah ini dimulai oleh 13 Fakultas Ekonomi di berbagai universitas dan lembaga penelitian, namun ditujukan untuk menjadi jaringan yang lebih luas untuk para ekonom, termasuk ekonom muda, yang berkeinginan melakukan riset yang indepen, bermutu dan relevan untuk kebijakan ekonomi.

IBER juga akan bermitra dengan Pemerintah antara lain Kementerian Keuangan, Bappenas, Kementerian Perdagangan dan BPS.

Adapun Founding Institutions  dari IBER yakni:

- Fakultas ekonomi (ex oficio Dekan) dari Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjajaran, Universitas Brawijaya, Universitas Diponegoro, Universitas Andalasa, Universitas Hasanuddin.

- Lembaga Penelitian, terdiri dari LIPI, CSIS, SMERU dan Survey Meter.

Dewan Pembina: Boediono (Ketua)

Anggota: Emil Salim, Armida Alisyahbana, Iwan Jaya Azis, Mari E. Pangestu, Mohamad Chatib Basri dan Sudarno Sumarto.

 

 

Langkah Kawasan Asia Hadapi Ekonomi Global

Bersamaan dengan peluncuran tersebut, IBER juga menyelenggarakan konferensi bertema Respons Indonesia terhadap Ketidakpastian Ekonomi Global. 

Pembicaranya antara lain, Peter Drysdale dari Australian National University (ANU), Shiro Asmtrong dari Australian University (ANU), Adam Triggs (ANU dan Brooking Institution), serta Mari Elka Pangestu ( Menteri Perdagangan 2004-2011 dan Pengajar FEB-UI).

Menurut Drysdale, menghadapi situasi ketidakpastian global yang berkembang saat ini, pertanyaan utamanya bagi negara di kawasan Asia adalah bagaimana setiap negara melindungi kepentingan strategis, ekonomi dan politiknya dalam menghadapi kemunduran dalam kepemimpinan Amerika Serikat (AS) sebagai perekonomian terbesar dunia

Sementara Shiro Armstrong mengatakan model kebijakan perdagangan AS di bawah Presiden Donald Trump telah menimbulkan ancaman krisis pada sistem perdagangan global saat ini.

Model kebijakan tarif yang dilakukan Trump terhadap produk impor seperti dari China dan Meksiko dapat memicu terjadinya perang dagang, meningkatkan risiko perekomian global dan bisa menekan pertumbuhan GDP perekonomian dunia sampai ke angka 3 persen.

“Konsekuensinya ini akan menjadi bencana besar terhadap perekonomian global,” kata Amstrong. Sementara kebijakan tersebut terhadap upaya mengurangi defisit perdagangan AS yang menjadi tujuan utama Trump, menurut dia, tidak akan besar.

Dalam kesempatan itu, Mari Pangestu mengingatkan, perkembangan ekonomi global yang stabil selama ini telah memberikan dampak positif terhadap perekonomian dunia dan perekonomian negara sedang berkembang seperti Indonesia.

Namun, ternyata walaupun globalisasi memberi keuntungan di satu sisi dari segi peningkatan efisiensi dan pertumbuhan ekonomi, namun di sisi lain apakah manfaat globalisasi merata atau tidak belakangan ini menjadi isu politik dan ekonomi.

“Sebagian besar kemakmuran yang dicapai Indonesia hari ini tidak terlepas dari tatanan global yang stabil, terbuka yang berbasis kebijakan dan aturan main yang memberikan kepastian. Sekarang, kepastian itu semakin berkurang dibandingkan sebelumnya dan perlu di respons dengan memperkuat kerjasasama regional, dan juga diperlukan kebijakan yang terarah untuk mengatasi masalah ketimpangan yang telah terjadi,” kata Mari.

Adam Triggs dari Brookings Institution mengingatkan dampak perkembangan global yang telah meningkat risiko sektor keuangan. Triggs mengatakan, sistem keuangan di negara Asia saat ini memang jauh lebih tangguh dibandingkan era 1990-an.

Namun, lanjut dia, harga asetnya tinggi, spread risiko yang mengecil, sektor keuangan yang ketat serta perubahan kebijakan moneter, akan menguji ketangguhan tersebut.

Triggs mengingatkan, negara Asia mungkin akan membutuhkan dukungan eksternal untuk pendanaan dan jaringan pengaman, seperti dukungan saat menghadapi krisis keuangan beberapa tahun lalu. Dalam kaitan ini, menurut dia, reformasi di lembaga IMF dan penguatan kerjasama regional akan menjadi sangat penting.

 

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait