Kurangi Kecelakaan di Papua, Airnav Adopsi Sistem Navigasi Alaska

Oleh Ilyas Istianur Praditya pada 26 Jan 2018, 12:50 WIB
Diperbarui 28 Jan 2018, 12:13 WIB
Demi Keselamatan, Airnav Potong Bukit di Bandara Depati Amir (Foto: Gideon/Liputan6.com)

Liputan6.com, Tasikmalaya - AirNav Indonesia tengah menginvestasikan alat navigasi modern untuk wilayah Papua. Peralatan navigasi di Papua perlu pembaruan, mengingat wilayah tersebut masih sering terjadi kecelakaan pesawat.

Direktur Utama AirNav Indonesia Novie Riyanto menjelaskan, sistem navigasi di Papau akan mengadopsi sistem di Alaska, Amerika Serikat (AS). Alasannya, kondisi geografis di wilayah Alaska tak jauh berbeda dengan Papua.

"Memang kondisinya seperti di Alaska, dimana pesawat-pesawat kecil terbang di antara lorong-lorong gunung. Amerika Serikat sukses melayani di sana," kata Novie di Tasikmalaya, Jumat (26/1/2018).

Kondisi Alaska memang pegunungan dengan daerah tinggal atau desa yang terpisah-pisah ada di lembah maupun di puncak. Airnav melihat kondisi tersebut mirip di Papua yang daerahnya berbukit dan cuaca sering berubah. 

Novie melanjutkan, semula, otoritas navigasi penerbangan di AS juga cukup sulit untuk bisa melayani penerbangan di Alaska. Saat itu, AS mengadakan proyek besar-besaran untuk pengadaan alat navigasi modern. 

Saat ini, navigasi penerbangan di Alaskan sudah berbasis instrumen dan tak lagi mengandalkan visual.

Apa yang ada di Alaska beberapa puluh tahun silam hampir mirip dengan apa yang ada di wilayah Papua saat ini.

Di wilayah Indonesia timur, masih banyak penerbangan yang hanya mengandalkan visual untuk memandu pesawat mendarat dan atau tinggal landas. Maka dari itu, sering terjadi insiden di wilayah Indonesia bagian timur.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

2 dari 2 halaman

Kerja Sama dengan Boeing

Papua
Hanggar Pesawat AMA di Bandara Udara Jayapura

 

Untuk mengurangi angka kecelakaan pesawat di Papua, Direktorat Jendral Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan juga tengah melakukan kerja sama dengan Boeing untuk membuat masterplan penataan wilayah Papua dengan mengadopsi sistem yang diterapkan di AS.

"Kerja sama ini sudah tahun lalu dilakukan dan harusnya akhir 2017 sudah selesai. Namun kita belum terima hasil finalnya. Intinya kita akan mengarah ke sana, karena Boeing kan mempunyai kapasitas untuk itu," tegasnya.

Lanjutkan Membaca ↓