Bandara Kulon Progo Disebut Rawan Gempa, Ini Kata Menhub

Oleh Ilyas Istianur Praditya pada 26 Jan 2018, 12:31 WIB
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Liputan6.com, Jakarta Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi memastikan proyek pembangunan Bandara Kulon Progo telah mempertimbangkan potensi bencana alam. Sebab bandara tersebut selama ini sering disebut rawan akan terkena gempa dan tsunami.

Budi mengungkapkan, saat merencanakan pembangunan bandara ini, pemerintah bersama pihak-pihak terkait telah mengkaji dan memperhitungkan secara detail permasalahan yang ada, termasuk soal potensi bencana.

‎"Kita ingin ketika membangun, asumsinya dari BMKG, dengan AP I menghitung secara detail. Jadi jangan takut lagi Kulon Progo kena tsunami," ujar dia di Kantor BMKG, Jakarta, Jumat (26/1/2018).

Kajian yang dilakukan, lanjut dia, dengan memperhitungkan potensi gempa hingga mencapai 8 skala richter. Selain itu, struktur bangunan bandara juga didesain agar tahan terhadap tsunami.

"Karena kita sudah memperhitungkan dengan skala 8 skala richter yang belum pernah terjadi Jawa. Kita siapkan bangunan, siapkan mitigasi yang dilakukan, misalnya listrik tidak boleh di lantai 1, tapi di lantai 2. Lantai 1 dibiarkan, kalau tsunami air dibiarkan masuk ke dalam," jelas dia.

 

2 of 2

Libatkan Ahli Jepang

Menhub Budi mengungkapkan, kajian proyek Bandara Kulon Progo terkait potensi bencana alam melibatkan ahli dari Jepang.

Bahkan menurut dia, antisipasi Jepang terhadap bencana tsunami selama ini salah.

"Apa yang terjadi di Kulon Progo, jadi sebelum kita membangun, kita diskusi keras sekali, kita datangkan ahli-ahli dari jepang. Jepang pun selama ini salah mengantisipasi. Tsunami itu diantisipasi dengan suatu benda yang besar. Tsunami biarkan saja lewat‎. Bukan saja tsunami, yang lain juga," kata dia.

Oleh sebab itu, Budi mengajak masyarakat untuk tidak khawatir akan potensi bencana alam. Sebab jika diantisipasi dengan baik, maka dampak dari bencana tersebut bisa diminimalisir.

‎"Hal seperti ini yang kita siapkan lebih awal.Masyarakat kita itu menganggap bencana itu hukuman, padahal kita bisa mengurangi bencana bencana itu," tandas dia.

Lanjutkan Membaca ↓