Jokowi Ingatkan Bank Jangan Pelit Beri Kredit

Oleh Achmad Dwi Afriyadi pada 18 Jan 2018, 21:07 WIB
Diperbarui 20 Jan 2018, 20:13 WIB
Presiden Jokowi

Liputan6.com, Jakarta Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, kondisi industri keuangan Indonesia relatif sehat. Hal tersebut tercermin dari kinerja berbagai sektor baik perbankan, asuransi, hingga pasar modal.

Meski begitu, Jokowi mengatakan, terpenting saat ini ialah memastikan pertumbuhan industri keuangan ikut mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Sebagai contoh, Jokowi pun mengingatkan, supaya perbankan tidak mempersulit penyaluran kredit.

"Industri keuangan kita juga tumbuh, baik perbankan, asuransi, bursa, hanya kita tinggal memastikan tumbuhanya industri keuangan ikut mendorong pertumbuhan ekonomi berkualitas. Contohnya di perbankan, jangan sampai kita asik mengumpulkan dana pihak ketiga (DPK) tapi pemberian kreditnya susah," kata dia di Jakarta, Kamis (18/1/2018).

Menurut Jokowi, kemudahan kredit perlu diberikan khususnya pada pengusaha kecil. Sehingga, mereka bisa naik kelas.

"Saya perlu ingatkan, terutama untuk usaha kecil menengah mikro memang harus keluar tenaga yang lebih," ujar dia.

Jokowi bilang, hal itu memang menguras tenaga. Tetapi, itu perlu dilakukan supaya usahanya bisa terus berkembang.

"Membimbing yang kecil-kecil untuk bisa menjadi mikro jadi pengusaha kecil, dari pengusaha kecil naik lagi pengusaha menengah. Memang membutuhkan lebih banyak tenaga dan pikiran. Tapi itu yang kita lakukan," dia menandaskan.

2 of 2

OJK Yakin Kredit Bank Tumbuh 12 Persen

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meyakini industri jasa keuangan mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan kredit perbankan dan dana pihak ketiga (DPK) diprediksi berada di kisaran 10-12 persen di tahun ini.

"Kami yakin sektor jasa keuangan mampu mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi tahun 2018 sebesar 5,4 persen. Hal ini didukung oleh solidnya indikator sektor jasa keuangan baik dari sisi pemodalan dan likuiditas, maupun tingkat risiko yang terkendali," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2018 di Jakarta, Kamis (18/1/2018).

Wimboh mengatakan, saat ini merupakan momentum yang tepat untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah kondisi makroekonomi dan sektor jasa keuangan yang kondusif.

Dia menjelaskan, permodalan lembaga jasa keuangan terpantau kuat sampai Desember 2017. Sebutnya, CAR perbankan sebesar 23,36 persen, Risk-Based Capital (RBC) industri asuransi umum dan asuransi jiwa juga berada di level tinggi yaitu 310 persen dan 492 persen.

Gearing ratio perusahaan pembiayaan tercatat sebesar 2,97 kali jauh di bawah threshold sebesar 10 kali.

Kuatnya permodalan perbankan ini juga diikuti dengan likuiditas yang memadai. Pada Desember 2017, rasio Alat Likuid per Non-Core Deposit (AL/NCD) perbankan tercatat sebesar 90,48 persen di atas threshold sebesar 50 persen. Sementara excess reserve perbankan tercatat di kisaran Rp 626 triliun.

Kondisi ini didukung tingkat risiko kredit yang terkendali dengan rasio NPL 2,59 persen gross (1,11 persen net) dengan tren yang menurun. Rasio Non-Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan juga mengalami penurunan menjadi 2,96 persen.

Intermediasi lembaga jasa keuangan juga mengalami pertumbuhan sejalan kinerja perekonomian domestik. Kredit perbankan sampai Desember 2017 tercatat sebesar Rp 4.782 triliun atau tumbuh sebesar 8,35 persen yoy.

 

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by