PUPR Mulai Proyek Air Bersih Rp 300 Miliar di Lombok Utara

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 17 Jan 2018, 18:30 WIB
Diperbarui 17 Jan 2018, 18:30 WIB
Ilustrasi pasokan air bersih.
Perbesar
Ilustrasi pasokan air bersih.

Liputan6.com, Jakarta Demi mewujudkan target akses aman air minum 100 persen pada 2019, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Bina Konstruksi membangun proyek Pemerintah Badan Usaha (KPBU) Bidang Air Minum di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pada proyek ini, PT Tiara Cipta Nirwana selaku pihak investor mengucurkan nilai investasi sebesar Rp 300 miliar, dan akan mengikat satu sama lain dengan masa konsesi selama 30 tahun mendatang.

Penandatanganan proyek KPBU tersebut dilakukan Direktur Jenderal Bina Konstruksi Syarif Burhanuddin pada Selasa, 17 Januari 2018.

Bupati Kabupaten Lombok Najmul Ahyar mengatakan, ini merupakan proyek KPBU pertama di NTB, dan akan menjadi percontohan untuk sektor-sektor lain demi memicu pertumbuhan ekonomi di Lombok Utara.

“Kita mengapresiasi Kementerian PUPR yang telah memberikan pendampingan untuk pilot project KPBU bidang air minum ini. Ke depannya, kita melalui jajaran SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) juga akan bekerjasama dengan pihak swasta untuk dapat berinvestasi di wilayah Lombok Utara pada bidang-bidang lainnya," ujar dia dalam keterangannya, Rabu (17/1/2018).

Proyek KPBU Bidang Air Minum di Lombok Utara sendiri telah diinisiasi sejak 2017, dengan proses konstruksi yang akan dimulai pada tahun ini. Proyek tersebut merupakan proyek pertama pada skema KPBU, yang juga termasuk dalam proyek Strategis Nasional.

Rencananya, Direktorat Bina Investasi Infrastruktur Kementerian PUPR akan memanfaatkan air laut sebagai sumber air bersih demi menanggulangi keterbatasan sumber air baku di wilayah tersebut.

2 dari 2 halaman

Inikah Kota Pertama yang Akan Kehabisan Air pada Maret 2018?

Cape Town, adalah rumah bagi Gunung Meja, pinguin Afrika, cahaya matahari, laut, dan juga, destinasi utama turis. Namun, ibu kota Afrika Selatan itu terkenal menjadi kota besar di dunia yang pertama kali akan kehabisan air.

Proyeksi terbaru mengatakan, Cape Town akan kehabisan air pada awal Maret 2018.

Krisis air yang telah melanda selama tiga tahun terakhir itu, dipicu oleh hujan yang jarang turun dan diperparah dengan jumlah populasi yang makin meningkat. Demikian dikutip dari BBC pada Minggu (14/1/2018).

Pemerintah lokal sudah berusaha keras mencegah hal itu terjadi. Mulai dari proyek desalinasi air laut (agar dapat diminum), pengumpulan air tanah, hingga program daur ulang air.

Sementara itu, empat juta penduduk Cape Town didesak untuk menghemat air dan menggunakan tidak lebih dari 87 liter (19 galon) per hari. Pencucian mobil dan pengisian kolam renang telah dilarang. Dan tim kriket India yang berkunjung diberi tahu untuk membatasi mandi hanya dua menit usai pertandingan.

Masalah terkait air seperti itu tidak terbatas pada Cape Town saja.

Hampir 850 juta orang di dunia kekurangan akses terhadap air minum yang aman, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan kekeringan meningkat.

Jadi nampaknya luar biasa bahwa kita masih menyia-nyiakan begitu banyak air, sumber daya alam yang esensial ini.

Di negara berkembang dan negara ekonomi baru (emerging country), lebih dari 80 persen air hilang karena kebocoran, menurut konsultan lingkungan Jerman GIZ.

Bahkan di beberapa wilayah di AS, hingga 50 persen air hilang karena adanya infrastruktur yang menua.

Lanjutkan Membaca ↓