Terima Bayaran Pakai Bitcoin, Penari Seksi Ini Raup Rp 13 Miliar

Oleh Vina A Muliana pada 26 Des 2017, 20:28 WIB
Penari Seksi Theodora yang terima bayaran pake Bitcoin (odditycentral)

Liputan6.com, Jakarta Nilai bitcoin yang terus meroket jadi magnet tersendiri bagi beberapa orang. Tak terkecuali, seorang penari seksi asal Paris, Theodora. Berbeda dengan rekan seprofesinya yang lain, wanita yang kerap memamerkan kemolekan tubuhnya ini menerima bitcoin sebagai alat pembayaran.

Hasilnya, untung yang ia dapat sangat menggiurkan. Theodora mengaku bisa mengantongi penghasilan lebih dari US$ 1 juta atau Rp 13 miliar.

Dilansir dari odditycentral.com, Selasa (26/12/2017), banyak dari klien Theodora yang tidak ragu membayarnya menggunakan bitcoin. Ada beberapa orang bahkan yang memberikan akses penuh bagi wanita ini untuk mengambil uang dari tabungannya.

Sebagai gantinya, Theodora hanya perlu memenuhi permintaan dari sang klien. Laki-laki yang memakai jasa wanita ini pun beragam, rata-rata duduk di kursi jabatan tinggi seperti CEO dan politisi.

"Sangat umum bagi orang-orang berkuasa seperti politisi atau CEO untuk mencari bentuk pelepasan seksual dengan tunduk pada seorang wanita. Sebagai gantinya, mereka memberikan kontrol secara finansial adalah alat kekuasaan yang lebih nyata bagi mereka," ungkap Theodora.

Theodora sudah mendalami profesi ini selama delapan tahun lamanya. Ia mulai melirik bitcoin sebagai alat pembayaran setelah Paypal memblokir akses pembayaran bagi mereka yang bekerja di bidang seks komersial.

Dia juga mengkhususkan diri pada teknik yang disebut "hipnosis femdom," dimana ia mengklaim dapat mendominasi pria yang menggunakan hipnotisme. Kliennya adalah pria berusia 30an akhir sampai awal 50an dan sebagian besar berbasis di AS atau Inggris.

Theodora menetapkan tarid US$ 25 per menit bagi laki-laki yang ingin berbicara padanya. Ia juga menetapkan tarif lebih mahal yakni US$ 69 per menit bagi mereka yang ingin mengajaknya kencan.

Tak jarang, Theodora juga sering menerima hadiah super mahal dengan nilai US$ 100 ribu. Biasanya berupa sepatu ataupun tas bermerek.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

2 of 2

Morgan Stanley: Bitcoin Tak Berharga

Riset terbaru yang dilakukan bank investasi dan broker retail, Morgan Stanley, mengungkap fakta baru yang mengejutkan tentang bitcoin. Analis James Faucette mengatakan, nilai sebenarnya mata uang digital ini adalah nol atau tidak berharga.

Faucette menilai bitcoin ternyata berbeda dari uang yang beredar di pasaran atau barang berharga lainnya. Oleh karena itu, sangat sulit memberikan nilai asli pada cryptocurrency.

"Ini tidak seperti mata uang, itu tidak seperti emas, sehingga tidak memiliki skala yang bisa dihitung," tuturnya dilansir dari Business Insider, Selasa (26/12/2017).

Lebih lanjut ia menambahkan, bitcoin juga tidak memiliki bunga, sehingga tidak bisa diperlakukan layaknya mata uang.

Mata uang digital ini tidak memiliki penggunaan intrinsik seperti emas dalam barang elektronik atau perhiasan. Namun, investor tampaknya menganggap beberapa nilai untuk hal-hal tersebut.

Selain Faucette, guru besar Universitas Yale Stephen Roach juga menganggap konsep bitcoin itu beracun. Cryptocurrency bisa berada dalam kondisi spekulatif, sehingga sangat berbahaya.

"Ini konsep beracun bagi para investor," tukas dia.

Roach adalah mantan kepala urusan Asia dan chief economics di bank investasi Morgan Stanley. Kariernya selama 30 tahun di Morgan Stanley menjadikannya salah satu ekonom paling berpengaruh di Wall Street.

Dia mengkritik pembelian besar-besaran yang dilakukan investor terhadap bitcoin, cryptocurrency paling terkenal didunia.

"Saya tidak pernah melihat diagram sekuritas di mana harga membentuk pola vertikal. Dan Bitcoin adalah pola paling vertikal yang pernah saya lihat sepanjang karier saya," tambahnya.

Sebagai informasi, nilai bitcoin saat berita ini diturunkan berada di posisi US$ 14.400 atau Rp 195 juta. Di minggu ini, nilai bitcoin juga sempat merosot tajam dipicu dari naiknya popularitas mata uang digital lain, yakni Bitcoin Cash.

 

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait