RI Tetap Gelar Annual Meeting IMF-World Bank di Bali

Oleh Septian Deny pada 22 Des 2017, 16:29 WIB
Diperbarui 22 Des 2017, 16:29 WIB
Logo IMF
Perbesar
(Foto: aim.org)
Liputan6.com, Jakarta Gelaran Annual Meetings International Monetary Fund (IMF)-World Bank Group 2018 dipastikan tetap berlangsung di Bali. Ajang pertemuan tersebut rencananya dilaksanakan pada 8-14 Oktober 2018.
 
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman sekaligus Ketua Panitia Nasional Annual Meeting 2018 Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, berdasarkan informasi dari otoritas kementerian dan lembaga terkait, status Level IV atau Awas hanya berlaku pada radius 8-10 km dari Gunung Agung.
 
 
"Ini parameter radius ini yang berbahaya, 10 km dan 8 km itu yang bisa menjadi zona kalau ada ledakan itu bisa berbahaya," ujar dia saat meninjau Pos Pengamatan Rendang, Karangasem, Bali, Jumat (22/12/2017).
 
Namun, di luar areal tersebut, Luhut memastikan semua aktivitas di wilayah Bali berjalan normal. Dengan begitu, Bali masih aman untuk aktivitas kunjungan wisatawan, termasuk untuk penyelenggaraan Annual Meeting IMF-World Bank tersebut.
 
"Tapi belajar dari pengalaman akhir-akhir ini, kita buat simulasi dibanding 1963. Kebetulan angin banyak bertiup ke timur, sehingga Denpasar area kecil peluangnya itu (terganggu). Tahun 2018 Oktober, angin itu cenderung begitu juga, bertiup ke timur. Jadi, peluang untuk berbahaya pada orang di Denpasar apalagi ke Nusa Dua yang jaraknya 73 km itu hampir tidak ada," kata dia.
 
Sementara itu, ‎Ketua Unit Khusus Annual Meeting 2018 Peter Jacobs menyatakan, untuk kepentingan penyelenggaraan ajang pertemuan tahunan tersebut, pihak panitia nasional terus menonitor aktivitas Gunung Agung dan selalu berkoordinasi dengan Meetings Team Secretariat (MTS) IMF-World Bank.
 
"Panitia nasional memastikan seluruh persiapan penyelenggaraan Annual Meeting 2018 berjalan sesuai rencana dan target yang ditetapkan bersama dengan MTS. Untuk memastikan persiapan tersebut, MTS akan berkunjung ke Bali pada 29 Januari-9 Februari 2018 untuk melakukan pembahasan bersama Panitia Nasional terutama terkait aspek keamanan dan mitigasi risiko atas aktivitas Gunung Agung," tandas dia.
 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

2 dari 2 halaman

Bakal Ada 2.000 Pertemuan dalam Gelaran IMF-Bank Dunia di Bali

International Monetary Fund (IMF) and World Bank (WB) Annual Meeting 2018 yang digelar di Bali pada Oktober 2018 akan menjadi gelaran ekonomi akbar. Pasalnya, dalam gelaran tersebut akan ada kurang lebih 2.000 pertemuan baik antarnegara maupun antarlembaga dalam berbagai jenjang.

Kepala Satuan Tugas (Task Force) IMF-WB Annual Meeting 2018 Peter Jacob mengatakan, 189 menteri keuangan dan kepala Bank Sentral dari 189 negara dipastikan menghadiri pertemuan yang berlokasi di Nusa Dua tersebut. Termasuk di dalamnya adalah puluhan kepala negara dan kepala pemerintahan turut hadir dalam forum ekonomi dunia tersebut.

"Akan terjadi banyak kesepakatan baik itu secara global, kawasan, maupun regional," ujar Jacob di sela sela pelatihan wartawan daerah di Kantor Pusat Bank Indonesia Jakarta, Selasa (21/11/2017).

Indonesia sebagai tuan rumah tentu saja akan memanfaatkan forum ini secara maksimal dan menjadi bagian penting dalam kesepakatan terkait perekonomian dunia. Seluruh potensi akan dipaparkan khususnya terkait potensi ekonomi konvensional dan syariah.

Kesiapan sebagai penyelenggaraan juga terus dipersiapkan secara baik. Data terakhir sebanyak 17.000 delegasi sudah memastikan akan hadir di Bali dengan melakukan pemesanan hotel di wilayah Bali. Angka itu belum termasuk pemesanan kamar hotel di beberapa wilayah sekitar Bali.

Perputaran uang jangka pendek selama satu minggu saat pelaksanaan IMF-WB AM 2018 diprediksi akan menembus angka US$ 17 juta. Keuntungan lain yang juga dikejar Indonesia sebagai tuan rumah adalah keuntungan investasi jangka panjang yang ditawarkan dalam pertemuan antarpemerintahan atau G to G dan antarpebisnis atau B to B.

"Kita secara maksimal akan memaparkan kondisi ekonomi kita yang sangat baik saat ini, tujuannya untuk menarik minat para investor untuk masuk dan menanamkan modal ke sini," kata Peter Jacob.

 

Lanjutkan Membaca ↓