Sukamdani Sahid di Mata Wapres, Menteri hingga Pengusaha

Oleh Achmad Dwi Afriyadi pada 21 Des 2017, 17:45 WIB
Diperbarui 21 Des 2017, 17:45 WIB
Tampak suasana pemakanan pengusaha Sukamdani Sahid di kediaman, Jakarta. (Liputan6.com/Achmad Dwi Apriyadi)
Perbesar
Tampak suasana pemakanan pengusaha Sukamdani Sahid di kediaman, Jakarta. (Liputan6.com/Achmad Dwi Apriyadi)

Liputan6.com, Jakarta Pengusaha nasional Sukamdani Sahid Gitosardjono telah wafat pada Kamis (21/12/2017). Pendiri Sahid Group yang juga merupakan ayah dari pengusaha nasional Haryadi Sukamdani meninggal pada usia 89 tahun.

Kepergian Sukamdani Sahid meninggalkan kesan mendalam pada kerabat-kerabatnya. Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, Sukamdani Sahid adalah pelopor di semua bidang. Baginya, Sukamdani merupakan pengusaha yang tekun.

"Ketekunan beliau mempunyai usaha. Sudah lama (mengenal) mungkin 40 tahun," kata dia di rumah duka Jalan Imam Bonjol Jakarta Pusat, Kamis (21/12/2017).

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, almarhum pengusaha nasional yang perlu diteladani. Secara pribadi, Airlangga juga mengaku kerap mendapatkan dukungan dari almarhum.

"Kebetulan almarhum sangat dekat sekali dengan orangtua saya, waktu saya kuliah, dalam berbagai kegiatan mahasiswa beliau memberikan dukungan terus-menerus," paparnya.

Lalu, bagi Manteri Perindustrian MS Hidayat, Sukamdani Sahid memberi kontribusi yang besar pada Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.

"Dulu Kadin itu kemudian diundangkan UU Nomor 1 tahun 1967 salah satu tokoh utama yang mendorongnya dan mengesahkannya bersama pemerintah di bawah kepemimpinan Sukamdani," jelasnya.

 

2 dari 2 halaman

Pelopor Hubungan RI dengan China

Pengusaha properti Ciputra menuturkan, Sukamdani Sahid merupakan pengusaha yang sukses.

"Dia seorang pengusaha yang sukses usahanya dan membantu organisasi, dia Ketua Umum Kadin puluhan tahun. Sampai saatnya saya berhenti saya serahkan yang muda," jelasnya.

Ciputra melanjutkan, Sukamdani juga membuat banyak terobosan. Salah satu yang kontroversial ialah saat membangun hubungan dengan China.

"Dan pelopor hubungan Indonesia dan RRC pada waktu itu tegang sekali. Dia berani datang ke Tiongkok dan dia pulang lapor Pak Harto (Presiden Soeharto). Waktu itu dianggap kontroversial. Pak Harto belum memberi izin sepenuhnya tapi dia menciptkaan hubungan kerja," jelas dia.

Bagi Ciputra, hal tersebut merupakan terobosan. Menurut Ciputra, China akan berkembang menjadi negara yang besar, begitu pula Indonesia. Sebab itu, perlu adanya hubungan antar dua negara.

"Itu hal luar biasa, dia melihat ke depan RRC menjadi negara besar dan Indonesia besar. Jadi perlu membina hubungan. Dia yang menciptakan hubungan yang baik itu. Waktu itu kan kita semua asing dengan RRC tak sefilosofi dengan kita," tukas dia.

Lanjutkan Membaca ↓